281222
Hari ini menjelang akhir bulan desember, akhir tahun 2022 Masehi, dan awalnya aku harap juga akan menjadi akhir dari rutinitasku bertemu ibu psikiater yang sayangnya tidak. Beliau masih mewajibkanku meminum obat dan menemuinya tiap satu bulan sekali selama beberapa bulan lagi ke depan. Aku tidak keberatan. Sejujurnya aku sudah tidak peduli. Aku juga sudah terbiasa dengan rumah sakit. Aku telah sanggup melihat orang-orang sakit sebagai hal yang normal. Barangkali sesungguhnya manusia adalah makhluk-makhluk yang sakit. Sakit dalam tafsiran apapun.
Ngomong-ngomong soal sakit, akhir tahun ini aku menemukan banyak kelakuan manusia-manusia “sakit” yang luar biasa. Mulai dari kasus jendral yang “itu”, Pengesahan undang-undang yang “itu”, sampai orang freak yang membunuh rata keluarganya. Ah iya, belakangan bahkan aku menemukan orang sakit lain yang berselingkuh dengan ibu mertuanya, hingga orang biadab yang memperkosa ibu dan saudari kandungnya. Benar-benar di luar nalar. Melihat cuaca yang mulai tidak menentu juga beberapa fenomena alam yang terjadi, aku sempat berpikiran apakah ini saatnya kita melihat(atau apesnya ikut merasakan) hukuman dari Tuhan yang di luar nalar juga.
Aku jadi sering membayangkan kisah-kisah lampau seperti soddom-gomora, banjir nabi nuh, atau hujan meteor era dinosaurus(gatau beneran apa kaga, tapi ngeri juga kalau kejadian). Terkadang bayangan-bayanganku soal bencana juga tercampur kisah-kisah sci-fi seperti dalam film The Day After Tomorrow, 2012, bahkan series drakor All of Us are Dead. Barangkali bayanganku terlalu liar, tapi melihat keliaran-keliaran para-orang-sakit yang tadi aku ceritakan, sepertinya bayanganku menjadi wajar-wajar saja.
Aku juga sering menduga, apa bayangan itu yang membuatku berkutat dengan gelisah tak beraturan? sepertinya tidak. Aku pernah mencoba tak membayangkan apapun dan aku tetap gelisah. Aku bahkan tidur dengan gelisah. Terkadang aku membayangkan bagaimana jika aku mati. Apakah aku akan menemui cahaya terang seperti di sinetron-sinetron negara kita? atau sebaliknya, aku hanya menemui gelap dan dingin. sepi. hening. Aku sering bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya. Sayangnya jika aku mencobanya, aku tak akan sanggup menulis dan menceritakannya. Barangkali pengalaman mati tiap orang beda-beda, toh tak ada yang pernah bisa bercerita dan membandingkan satu sama lain bukan? Aku juga masih punya beberapa hutang dan tugas yang harus diselesaikan, jadi kurasa aku tidak akan mencoba bagaimana rasanya mati dalam waktu dekat-dekat ini(kecuali jika mati itu sendiri yang mendatangiku, mau gimana lagi yekan wkwkwk).
Ngomong-ngomong soal hutang, tulisan ini juga salah satu bentuk membayar hutang. Setidaknya hutang kepada diriku sendiri. Aku pernah berjanji untuk menulis setiap hari, sayangnya di beberapa bulan terakhir ini aku tak sanggup memenuhi janji itu. Payah memang. Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Mulai bagaimana aku mencoba berjudi hingga terlilit hutang (aku tahu ini bodoh, tapi ini pengalaman yang menyenangkan wkwkwk), Seperti apa 2 mamalia baru yang kini tinggal serumah denganku, hingga bagaimana perkembanganku mengerjakan skripsi yang menurutku semakin ke sini malah semakin ke sana alias buat apaaa???? Kita tak memberi kontribusi apa-apa, kita takkan berarti apa-apa~
dahlah, sebelum menulis tulisan ini aku sudah meminum obat yang seharusnya membuatku mengantuk dan lekas bermimpi. Anehnya aku masih belum merasakan kantuk. Hanya detak jantung yang kurasa mulai melemah. Juga keberanianku untuk mendekatimu. xixixi…
Btw,
Lovyu