250822

Hai,
Beberapa waktu tidak menulis(atau mengetik) membuatku sedikit bingung apa dan bagaimana menulis. Aku jadi sedikit paham mengapa banyak pekerja konten(content creator) yang stress dan frustasi, ternyata memang memikirkan konten apa yang akan kita hasilkan cukup membuat stress. Ah, tapi sudahlah, toh aku bukan pekerja konten, dan ini bukan tulisan yang serius. Aku menulis untuk kebutuhan(atau kesenangan) pribadi.

Hari ini aku hampir tidak melakukan apapun selain membaca A Happy Death -nya Albert Camus. Aku sudah membacanya berulang kali, tapi begitulah, karya yang bagus selalu menyenangkan dan tidak pernah menjemukan untuk dibaca lagi. Aku tidak akan membahas buku itu, sebab sekali lagi, ini jurnal pribadiku, bukan blog review buku. Apa yang aku ceritakan di paragraf ini sekedar informasi saja wkwkwk.

Sore harinya aku ke kampus dan bertemu beberapa kawan-kawan yang beriman. Aku ikut kajian(yang meski tidak membahas agama, atau barangkali membahas tapi aku datang terlambat jadi tidak tahu) tapi cukup menambah dan menguatkan imanku yang entah seperti apa ini. Semoga kawan-kawanku yang beriman selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah. Untukku, aku hanya berharap semoga aku diberi ampunan dan rahmat dari-Nya.

Sepulang kajian, aku mampir ke rumah Nenek Deri(selanjutnya kita sebut nenek saja, abaikan Deri). Rumah nenek selalu menjadi rumah kedua yang menyenangkan. Bertemu dan berbincang dengan nenek terkadang membuatku terpikirkan banyak hal, salah satunya tentang masa depan. Aku(dan aku yakin kalian-kalian juga) seringkali bingung dan takut akan masa depan. Aku pribadi pernah sampai pada tahap tidak peduli dan hampir memilih mati(astaghfirullah, naudzubillah min dzalik), untungnya aku sadar bahwa lari dan pulang lebih cepat dari ketetapan-Nya adalah tindakan pengecut. Aku jadi sadar bahwa sejak kita diberi kesempatan untuk hidup, maka sejak itu pula kita diberi kesempatan untuk memilih dan menikmati. Aku juga jadi berpikiran bahwa susah atau mudah, sedih atau senang, semua sama saja, tinggal bagaimana kita mengambil sudut pandang dan memposisikan diri. Aku jadi ingat salah satu potongan vidio ceramah gus baha’(kalau tidak salah), beliau mengatakan(tidak persis, ini hanya seingatku saja) “jika kita mampu memposisikan diri kita sebagai hamba, maka kita tidak akan takut pada apa yang sedang dan akan terjadi, sebab kita sadar bahwa kita bukan penulis skenario, melainkan hanya objek dari ketetapan Allah”.

Percaya akan ketetapan Allah. Percaya akan ketetapan Tuhan. Bukan hal baru sebenarnya, sejak awal aku mengaji(ketika kecil dan masih seorang anak polos nan soleh) tentu aku sudah diajarkan bahwa salah satu rukun iman adalah percaya pada Qada dan Qadar Allah. Percaya pada ketetapan-Nya. Kini ketika sudah beranjak dewasa, barangkali karena ditelan waktu(yang aku yakin bahwa waktu itu fana), aku seringkali lupa akan hal mendasar itu, padahal aku masih beriman :’ (semoga). Alhamdulillah kini aku kembali sadar bahwa kita bukan aktor tunggal pengatur kehidupan ini. Kita hanya manusia. Hanya salah satu dari banyak sekali ciptaan-Nya. Dalam famili Hominidae, Kita cuma salah satu spesies dari Genus Homo (yang mana semua fafifuwasweswos ini karangan manusia juga) yang pada intinya adalah kita(atau aku) bukan apa-apa. Ada atau tidak ada aku, kehidupan ini akan tetap berjalan sesuai ketetapan-Nya. Jadi, mari jangan terlalu pusing dan ribet. Mari jalani hidup ini dengan kesadaran akan posisi kita sebagai hamba(jika beriman, jika tidak mbuh sak karepmu). Mari jalani hidup ini sepenuhnya, sebagai seorang hamba. Sebagai salah satu ciptaan-Nya.