PLP, Skripshit, dan Kerinduan

Hari ini entah sudah hari ke berapa aku melaksanakan PLP. Semuanya terasa menyenangkan dan berjalan lancar. namun, entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa aneh dan ada yang kurang. Aku merasa gelisah. Aku didera kecemasan yang absurd. Barangkali karena ini sudah menjelang akhir. Tanpa sadar otakku memikirkan dan mengkhawatirkan hal yang sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku seakan kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. Faking shit memang. Babi.

Aku juga menduga barangkali kecemasanku muncul kembali karena sudah diminta judul skripsi. Seharusnya mudah saja. Aku hanya perlu membaca dan menemukannya. Hanya saja egoku menuntutku untuk memilih judul yang unik dan memiliki kebaruan. Sebuah ketidakperluan yang aku sadar hanya menyulitkan diriku sendiri, tapi ya itu tadi, aku seakan kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. Cepat lulus dengan skripsi seadanya atau berkutat dengan fafifuwasweswos demi ego sendiri. Aku terjebak dilema. Aku menulis ini sambil merenung, dan kesimpulan yang aku dapat adalah aku merindukanmu. Iya, Kamu. Tak bisakah kita bertemu barang sejenak? Kita bisa menangis bersama. Menangis bersamamu adalah ego terbesarku. Barangkali dengan begitu aku dan kamu bisa melupakan kecemasan absurd yang mendera. Meski hanya sementara.

Sampai saat ini aku masih rutin minum obat. Aku juga rutin sambat, dan tak lupa membakar beberapa batang lintingan tembakau tiap hari. Aku masih hidup. Aku masih merindukanmu. Mari bertemu.