221022
Hai,
Sudah lama sekali aku tidak menulis. Sebenarnya ada banyak hal yang dapat aku tulis, tapi aku tak punya waktu. Ah, lagi-lagi waktu. Padahal tak ada waktu, yang ada adalah entropi yang selalu berjalan ke depan. Tapi lupakan, apapun itu pada intinya aku telah lama tidak menulis dan kali ini aku ingin menulis.
Aku telah memasuki tahap akhir kuliah S1. Aku sedang mengerjakan skripsi. Sebenarnya seharusnya sudah kumulai dari jauh-jauh hari, tapi ya itu tadi, aku tak punya waktu. waktu oh waktu. asu. ahsudahlah, aku akui aku pemalas. Eh, tapi tidak juga, aku tidak sebodoamat itu(meskipun aku sebenarnya ingin sebodoamat itu). Aku selalu terpikirkan. Otakku tidak dapat kukendalikan. Ia bertindak semaunya. Bajingan. Aku frustasi.
Beberapa hari yang lalu aku kembali menemui psikiater. Katanya aku sudah boleh mengurangi obatku. Tapi aku harus masih kembali menemuinya tiap bulan. Entah sampai kapan. Aku merasa aku baik-baik saja. Jantungku sering berdetak tak karuan memang, tapi bukankah itu lebih baik daripada tak berdetak sama sekali? atau sebaliknya? lebih baik aku mati? Ah tapi tidak dulu. Aku masih punya hutang. Tidak seberapa memang, tapi seperti dendam, hutang harus dibayar.
Ngomong-ngomong soal hutang dan dendam. Aku benci sekali pada mereka-mereka pemberi hutang dengan bunga tak masuk akal. Mereka bukan lintah darat. Mereka bangsat, bajingan, penghuni neraka paling dalam. Jika Tuhan berkenan, aku bahkan ingin agar mereka abadi dalam penderitaan. Mampus kalian dikoyak-koyak dendam. Aku mendengar dan melihat langsung bagaimana tingkah mereka membuat susah orang yang bahkan sudah susah sejak sedari awal. Aku ingin menolong, tapi aku sangat payah dan tak punya apa-apa. Yang tersisa hanya amarah dan dendam, yang akan aku bayarkan lunas setiap ada kesempatan. Jika hukum tak lagi berlaku, aku bersedia melepas moral dan bermandikan dosa untuk menyiksa tiap-tiap mereka. Arrrgh… Pokoknya Bank Plecit tai. Kalian tak pantas mati dengan tenang. Kalian harus menderita. Selamanya.
Begitu pula kalian so called aktivis kampus yang buta, bisu, dan tuli. Ah, kalian masih boleh mati dengan tenang memang. Tetapi kalian sama busuknya. Berteriak-teriak bagai pahwalan. Berkelana ke sana-sini atas nama perjuangan. Berretorika dalam ruang-ruang hotel dan gedung pertemuan, lalu menikmati perjamuan. Sibuk ber make up dan bermain peran. Sementara beberapa mahasiswa lain kelimpungan karena tak lagi sanggup bayar UKT. Tak bisa kuliah karena tak lagi punya orang tua, atau barangkali terancam pupus harapan karena kesalahan administrasi kampus. Kalian tak pedulikan itu karena kalian sibuk mengejar credit score, popularitas, koneksi strategis, sambil menjilat pantat birokrat kampus atau bahkan negara. Cuih. Menjijikan. Lupakan saja teriakan-teriakan berisikmu itu kawan! rekan sejawatmu butuh bantuan! tak usah lagi teriak-teriak hidup mahasiswa, hidup rakyat indonesia! yang kalian pedulikan hanya curriculum vitae yang cemerlang dan norak belaka. Oh, tapi kalian masih boleh menyebut diri kalian organisator, sebab memang hanya itu yang kalian bisa bukan? Badan Event Mahasiswa. Atau Dewan Penakhluk Mahasiswa/i? wkwkwk…
Ngomong-ngomong, barangkali aku juga sama buta, bisu, dan tulinya. Ah shit. Ampuni aku Tuhan.