KKN (3)
Sudah cukup lama aku tidak menulis jurnal harian. Selain karena di tempat KKN susah sinyal, entah mengapa aku selalu merasa lelah dan malas untuk menulis. Aku menduga, mungkin karena ada banyak teman, jadi lebih menyenangkan untuk mengobrol bersama daripada menulis. Tulisan ini aku tulis ketika aku sudah di rumah, setelah sebelumnya selama 3 hari 2 malam menginap di tempat KKN(aku pulang beberapa kali sih, tapi pokoknya aku menginap 2 malam). Jadi, pada intinya, tulisan ini akan banyak bercerita selama 3 hari 2 malam aku menginap di tempat KKN, selama 3 hari 2 malam aku tidak menulis jurnal, dan selama 3 hari 2 malam aku tinggal serumah bersama teman-teman KKNku.
Hari Pertama
Hari pertama adalah hari paling mendebarkan, bagaimana tidak, setelah memutuskan untuk membuat aliansi antar kelompok, kini kami juga memutuskan untuk menginap. Sebelumnya, aku dan beberapa kawan(mas faza, fiiki, dan hendra) telah janjian untuk trial menginap 3 hari terlebih dahulu. Membayangkan 3 hari 2 malam di tempat yang bukan rumah sendiri sangat menarik dan menyenangkan. Apalagi membayangkan tinggal serumah bersama beberapa kawan, wadaw, luar biasa(aku tau beberapa dari kalian ada yang mondok dan mengontrak, tapi yang aku maksud di sini berbeda, aku yakin kalian paham :) ).
Seperti normalnya kehidupan, sesuatu yang bahkan terlihat akan berjalan dengan normal, lancar, dan biasa saja bisa tiba-tiba menjadi sangat luar biasa. Termasuk di hari pertama ini. Untuk berangkat ke kampus(atau sekitar kampus) Aku berencana untuk naik g#jek atau angkot, namun mempertimbangkan kondisi keuangan dan pengetahuan akan jalan yang ada(aku lemah di keduanya), aku memutuskan untuk mencari tebengan saja. Naik kendaraan umum akan menjadi opsi terakhir jika aku tidak mendapat tebengan. Tanpa diduga, orang yang menawarkan tebengan adalah fuade. Kawan lama sekaligus partner in crime era SMA yang kini sedang menjalani kehidupan di semarang. Membonceng fuade sekaligus menjadi sesi tukar cerita bagi kami berdua. Karena aku sampai di kampus lebih awal, aku memutuskan untuk mengajak fuade masuk ke kampus. Kami lalu melanjutkan sesi tukar cerita di parkiran kampus. Waktu seolah berputar maju dan mundur. Kami saling mengingat masa lalu dan menceritakan kondisi kami saat ini. (Terima Kasih de. Kita pernah ‘dipaksa’ menjadi partner, namun kini aku merasa kita memang benar-benar partner yang cocok)
Terlalu asyik mengobrol dengan fuade, membuatku lupa dengan mas faza(sori masse). Aku lupa bahwa kami telah janjian untuk bertemu di kantin lalu selanjutnya aku menebeng beliau hingga tempat KKN nanti. Ketika aku ingat dan meminta fuade untuk mengantarku ke kantin, aku melihat mas faza malah pergi ke arah rumahnya. Aku(diantar fuade tentu saja) berusaha mengejar, namun tidak terkejar(mas2 driver memang beda). Akhirnya aku putuskan untuk menuju ke depan secaba karena dari grup whatsapp aku tau teman-teman KKNku yang lain telah berkumpul di depan secaba. Di depan secaba aku bertemu Mbak Annisa, Mbak Dara, Mbak lilii, dan mbak-mbak yang lain(kalian ada banyak gaes, wajar aku lupa). Selain mereka, hanya ada satu mas-mas, yaitu mas rohim(yang bersalaman dan langsung pamit pergi duluan). Aku meminta teman-teman(mbak-mbak) untuk menunggu mas faza dkk(mas2 yang lain). Namun, seperti biasa, menunggu bukanlah hal yang mudah. Para mbak ini memutuskan untuk berangkat duluan saja. Aku(sebagai seorang minoritas dan satu-satunya lelaki dalam kawanan) tentu manut-manut saja asalkan ada yang mau memboncengku. Akhirnya, kami berangkat dengan aku dibonceng mbak dara menggunakan motor mbak liliii(terima kasih mbak dara, terima kasih mbak lilii). Aku yang berat(ditambah barang bawaan kami yang akan menginap) membuat motor mbak lilii bekerja keras. Untungnya motor mbak lilii adalah motor yang tekun dan pekerja keras, meski perlahan tapi kami(aku dan mbak dara) sampai di tempat KKN dengan selamat. Ohiya, membonceng mbak dara(meski ini sudah yang kedua kali) membuatku sadar bahwa tidak semua mbak-mbak berpotensi menjadi emak-emak sein kiri belok kanan, contohnya mbak dara, beliau menyetir dengan baik dan benar.
Di hari pertama ini kegiatan kami tidak terlalu padat. Kami hanya membersihkan rumah yang nantinya akan menjadi basecamp sekaligus tempat menginap. Satu hal yang sangat membekas di hari pertama adalah betapa semangatnya mas hendra membersihkan rumah. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan kata-kata, tapi sumpah, beliau luar biasa. Selain membersihkan rumah(atau basecamp), kami juga melanjutkan kegiatan hari sebelumnya yaitu mengunjungi rumah bapak kepala dusun. Di kunjungan kali ini, aku kembali menjadi satu-satunya laki-laki dalam kelompok untuk mengunjungi sisa dusun bagian bawah. Di kunjungan kali ini juga aku tidak lagi dibonceng mbak dara, tapi mbak ningsih. Mbak dara dan mbak ningsih adalah dua orang yang berbeda. Selain berasal dari daerah yang berbeda, mereka juga memiliki tubuh dan wajah yang(tentu saja) berbeda. Hal tersebut bukan masalah. Sebab baik mbak dara maupun mbak ningsih sama-sama manusia, dan selebihnya aku tidak peduli. Namun, perbedaan yang menarik adalah cara mereka berkendara. Di paragraf sebelumnya aku telah menjelaskan bagaimana cara mbak dara berkendara, berbeda dengan mbak dara, aku 10000% yaqin mbak ningsih berpotensi menjadi emak-emak sein kiri belok kanan(maaf mbak ningsih, tapi membonceng anda seperti uji nyali). Selebihnya, alhamdulillah kegiatan kami di hari pertama ini lancar. Satu-satunya yang tidak lancar adalah sinyal(bagaimana ini telkom#el???).
Malam Pertama
Seperti pada umumnya, malam pertama selalu menjadi bagian yang paling mendebarkan. Kami(beberapa laki-laki dan beberapa perempuan) akan tidur bersama dalam satu rumah. Kami akan cosplay menjadi sebuah keluarga. Dalam urusan kekeluargaan ini, satu hal yang aku ingat pasti adalah mas hendra akan menjadi kepala keluarga yang baik(sruegeep e puool) dan mbak dian akan menjadi ibu keluarga yang jahat(suka menjudge, bertenaga, dan hobi menyanyi sepotong-sepotong). Malam pertama ini menjadi malam yang dingin. Sangat-sangat dingin hingga aku susah tidur meski meminjam selimut mas fazza(terima kasih masseh). Sisanya entahlah, aku baru saja akan mulai tidur ketika suara mbak-mbak entah siapa berteriak dengan kencangnya “mas subuhan mas…!” Astaga.
Hari Kedua
Aku lupa hari kedua ngapain. Thats it. Thats all.
eh, tidak ding. aku ingat beberapa. Terutama kisah mak yudhi(atau yudha, entahlah aku memang pelupa). Tapi aku tidak akan menceritakannya di sini. Aku tidak kuat. Mengingat ceritanya saja membuatku sedikit cemas. Pokoknya aku menangis ketika itu. Selain itu, di hari ke dua ini juga wisnu(ma bestie, ma lov, ma gondrong) datang dan bergabung menginap dengan kami(matursuwun bosku, tanpamu aku tidak punya salin dan kedinginan).
Malam kedua
Malam kedua menjadi malam yang aku duga akan menjadi sebuah malam yang cukup hangat(sebab wisnu membawakanku sleeping bag). Namun, ternyata dugaanku salah total. Malam kedua ini menjadi malam yang sangat-sangat dingin. Entah ide siapa, malam ini kami malah motoran dan nongkrong di sebuah tempat berupa kedai di pinggir jalan yang dilewati banyak truk dan mobil. Kedainya sih bagus, sayangnya untuk ke sini kami harus motoran dalam gelap dan kabut dengan kondisi jalan yang ekstrim. Untungnya semua itu terbayar dengan pemandangan yang indah(aku lihat milky way luuur….). Sisanya, entahlah, meski kedinginan aku bisa tidur dan itu menyenangkan. Tidur is the best thing in the world.
Hari Ketiga
Aku lupa ngapain saja hari ketiga. Aku membaca ulang tulisanku di atas dan aku kebingungan. Aku hanya ingat aku sangat-sangat membaik. Aku bisa sholat jum’at berjamaah(tanpa deg2an meski masih gemetar). Aku bahkan bisa ikut anshoran(pengajian dengan sedikit rame-rame). lalu setelahnya aku(atau kami) pulang. Sebab sabtu dan minggu libur. Libur adalah libur dan tidak bisa diganggu gugat.
Ah iya, aku juga sudah lumayan mengingat nama-nama kalian, mas danang(jelas), mas faza, mas fiiki, mas hendra, mas abdul, mas rohim, mbak dian, mbak dara, mbak annisa(tentu saja), mbak lilii, mbak winwin, mbak faridatun, mbak nofi, mbak sherly, mbak ningsih, mbak raihan(atau mbak nisa mbuh racetho), dan mbak-mbak lainnya…(ini bukan absensi, ini jurnal harian, untuk apa aku menyebut nama kalian satu per satu, jadi bagi yang tidak tersebut, mohon jangan protes). Aku hanya berkewajiban menyebut nama mbak diva karena telah memberiku stiker. Terima Kasih mbak. Stikermu aman bersamaku.
Beberapa hari ke-depan kami berencana akan menginap kembali(tentu saja, KKN belum selesai coy). Aku harap, hari-hari dan malam-malam berikutnya menjadi lebih seru dan menyenangkan. Aku senang bersama kalian(terutama mas hendra). Aku merasa menjadi lebih baik berkat kalian, Terima Kasih. lovyuu~
btw, untuk mbak dian, sumpah, suara anda adalah kutukan. “mafia hukum-hukum saja” masih terus terngiang-ngiang di telinga saya. serem. seharusnya anda menyanyikannya di hadapan anggota dewan dan pak luhut eh, maksud saya pejabat-pejabat negara. pasti mashook sekali. dah ah. aku mengantuk. bay.