190822

Akhir-akhir ini aku sedang mendengarkan berulang-ulang lagu John Frusciante - The Will to Death. Entah mengapa, aku merasa sangat emosional mendengarkan lagu itu. Seperti tiap mendengarkan lagu-lagu nirvana yang pedih dan lukanya sangat terpancar dari vokal khasnya kurt cobain. Dalam lagu Frusciante, selain petikan gitarnya yang seakan mampu membawa pesan, lirik dan vokal Frusciante di lagu ini juga terasa sangat menusuk. Tak jarang aku menangis mendengar lagu ini. Tangis yang bukan sedih juga senang. Tangis yang kosong.

They beat the pain
They sing in the rain
Endless and formless
They fly to the end
And back to the Beginning again

Aku merasa lirik tersebut seakan menggambarkan sisyphus dalam karyanya Camus. Terjebak dalam rotasi, berputar, bertahan, berulang, dan terus berulang.

The will to death is what keeps me alive
It’s one step away…
step away
Limitations are set
Only then can we go all the way…
all the way

Aku jadi ingat perkataan Sabrang(kalau tidak salah) pada salah satu momen ketika maiyahan beberapa tahun lalu, satu-satunya hal yang pasti dalam hidup ini adalah mati. Bahwa hidup adalah suatu hal yang finite dan Kematian adalah hal yang inevitable. Mau atau tidak, siap atau belum, kita pasti akan menjumpainya. Kita pasti akan terbebas dari rotasi. Kita akan terbebas dari jerat tawa dan duka. Kita akan terbebas. Maka yang perlu kita lakukan adalah menjalani hidup yang ada dengan sehidup-hidupnya.

Limitations are set
Only then can we go all the way…
all the way

Mari jalani hidup dengan sepenuhnya. Hidup yang tanpa penyesalan. Hidup yang tanpa beban. Sebab jerat ini akan lepas, sebab kutukan ini akan terkelupas. Kita akan menjumpaiNya(Jika kalian beriman), atau menyatu dengan ketiadaan.