Jum'at curhat
Hari ini hari jum’at. Aku menghabiskan hampir satu per empat hariku di kampus. Oh iya, aku sudah berani mengendarai motor sendiri ke kampus. Setelah lama tidak mengendarai motor, aku baru sadar ternyata riding memang semenyenangkan itu. Di kampus aku berkumpul bersama kelompok KKNku, mereka menyenangkan. Meski hari ini kami tidak full team, tapi berkumpul dan mengobrol bersama mereka tetap terasa seru.
Jum’at kali ini aku juga berhasil sholat jum’at, sayangnya aku masih gemetaran. Sepertinya memang masih butuh waktu untuk membiasakan. Bukan masalah. Satu-satunya hal yang sempat menjadi masalahku adalah uang. Sakit dan tidak lagi bekerja membuatku tidak punya uang. Ingin meminta ke orangtua pun rasanya tak mungkin. Aku sempat stress karena itu. Tapi sekarang tidak lagi. Aku sempat membuat batas-batas yang aku tulis sendiri. Namun, kini aku tidak peduli. Aku akan melakukan apapun. Aku akan menerobos batasku sendiri.
Ah iya, aku juga ingin bercerita perihal perasaanku yang tidak stabil. Tiap malam aku bisa tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab. Sedih yang benar-benar sedih. Bahkan video kucing tak lagi mampu menghilangkan sedihku. Tapi aku tidak pernah tau kenapa. Aku browsing di internet, dan aku menemukan bahwa itu bisa jadi merupakan efek samping dari obat yang aku konsumsi tiap hari. Agak ironi bukan, antidepresan tapi malah membuatku seperti depresi tiap malam.
Merasakan kesedihan yang aneh ini membuatku sedikit memahami beberapa hal yang dulu bagiku aneh dan tidak masuk akal. Merasakan sedih tanpa sebab membuatku berubah pikiran mengenai beberapa hal. Aku jadi agak sedikit paham mengapa Kurt Cobain menembakkan pistol ke mulutnya sendiri, atau mengapa beberapa orang memilih mengiris(atau menggores) tangannya sendiri. Barangkali terkadang sakit fisik memang lebih melegakan ketimbang kesedihan yang tidak jelas.
Aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, tapi semuanya terasa suram, gelap, sepi, kosong dan sedih(yang sialnya tidak jelas kenapa). Aku ingat dulu pernah sok tahu dan sok menasehati temanku yang merasakan kesedihan. Aku minta maaf kawan. Kini aku tahu rasanya. Ternyata memang benar, yang bisa kita lakukan hanya menangis(dan bercerita, barangkali). Sisanya tidak penting, sebab perasaan sedih itu menihilkan segalanya.
Meski begitu, aku tidak apa-apa. Aku sudah mengalami perasaan itu beberapa kali. Aku sudah bisa mengatasinya. Aku melampiaskan semuanya dengan menulis. Aku baik-baik saja. Menulis jurnal harian seperti ini sekarang terasa menyenangkan. Aku tahu tidak akan ada orang yang membaca jurnal ini, aku jadi merasa seperti omong sendiri, bahkan kadang aku merasa ini seperti “masturbasi”. Semuanya demi “aku” sendiri. Sangat egois bukan. Tapi yasudahlah. Ini jurnalku. Aku yang berkuasa di sini.
Akhir-akhir ini aku juga mulai aktif lagi menggunakan akun instagram. Aku mulai memposting foto-foto hal yang menyenangkan dan berkenang bagiku. Sepertinya, aku akan menggunakan instagram sebagai galeri kenanganku. Lagi-lagi semuanya tentang “aku”. Hahaha… persetan. Aku sudah lelah memikirkan hal lain. Aku sudah minum obat dan aku mengantuk. Satu hal yang ingin aku lakukan setelah ini adalah tidur dengan tenang. Ah iya, sialnya aku punya hutang. Jadi, mari berdoa semoga besok aku masih bisa bangun pagi dengan bugar. Jika tidak, setidaknya aku sudah menulis ini. TOLONG INGATKAN KELUARGAKU AKU PUNYA HUTANG :)