CINTA (1)
Kali ini aku mau berhenti cerita soal diriku, sebab hari ini aku tidak melakukan apa-apa(maaf teman KKN tapi sumpah hari ini aku merasa lemah serta tidak stabil sehingga sepertinya akan mengganggu kalo ikut kalian jadi hari ini aku skip dulu ya, lovyu) dan aku sedih dan aku merasa aku mau jadi tai saja.
Jadi mari baca ceritaku tentang cinta.
Bicara cinta, aku bisa saja mengutip konsep cinta ala-ala filsuf dan sastrawan yang fafifuwasweswos ndakik-ndakik ra kecandak akal. Tapi, karena ini ceritaku, dan di jurnal pribadiku, maka aku akan bercerita cinta versiku sendiri. Kalian yang tidak sepaham tidak boleh protes. Kalau mau berantem ya ayo-ayo saja, aku tidak wedi soalnya aku sedang macak gentho.
Aku mengenal konsep cinta pertama kali dari orang tuaku. Mereka berkata bahwa aku ada karena mereka yang saling mencintai satu sama lain. Ketika itu aku iya-iya saja dengan konsep seperti itu. Aku mesih kecil, yang aku pedulikan hanya harga chiki dan 5 milkita setara segelas susu. Semakin beranjak remaja, aku mengenal bahwa cinta adalah hubungan timbal balik yang sangat intens antara satu orang manusia dengan manusia lain. Sederhananya begini, aku dan seorang-mbak2 terlibat cinta. aku dan dia menjalin hubungan timbal balik, misal saling mengobrol atau bermain bersama, hanya saja frekuensinya sangat sering. Kalau tidak sering atau biasa saja, itu bukan cinta, itu cuma teman.
Berikutnya, aku mengenal konsep lain tentang cinta. Cinta menjadi bukan hanya hubungan timbal-balik yang intens antar manusia tapi juga disertai hak dan kewajiban untuk saling menyerahkan diri atau saling menguasai satu sama lain. Contohnya begini, aku dan seorang-mbak2 saling mencinta, maka aku dan beliau saling punya hak untuk mengatur hidup satu sama lain, misalnya aku boleh-boleh saja mengatur si mbak agar tidak pergi ke tempat A dan si mbak boleh-boleh saja memaksa aku untuk mengantarnya ke kutub utara. Begitulah cinta, aku menguasai si mbak dan si mbak menguasaiku.
Belakangan aku punya pemahaman lain lagi tentang cinta. Cinta itu urusan perasaan. Cinta adalah urusan privat, seperti iman. Cinta bukan hubungan timbal balik. Cinta adalah sebuah peristiwa dimana neuron di otak bekerja dan menghasilkan hormon(yang entah apa namanya) yang kemudian menghasilkan perasaan bahagia di pikiran kita. Cinta mungkin mirip-mirip dengan hasrat atau nafsu, tapi berbeda. Hasrat, meskipun sama-sama di otak, tapi hormon yang dihasilan beda(aku lupa apa namanya pokoknya kalian coba belajar neurologi deh). Makanya aku sangat tidak setuju dengan istilah bercinta di KBBI V yang diartikan atau dimaknai sebagai bersetubuh alias ngesex. Cinta dan hubungan badan sangat berbeda bapak/ibu KBBI!!!!
Pokoknya, saat ini aku memiliki paham bahwa cinta, nafsu, dan komitmen itu hal yang berbeda. Dua orang bisa saja saling mencintai tanpa saling memiliki satu sama lain(Seperti sayap-sayap patahnya kahlil gibran ituloh). Seseorang bisa saja mencintai orang lain tanpa orang lain itu balik mencintainya(Seperti cintaku dengannya). Bahkan seseorang bisa saja mencintai orang lain tanpa orang lain itu tahu. Dan itu semua baik-baik saja. Sebab cinta adalah urusan perasaan orang yang sedang jatuh cinta itu sendiri, orang yang dicintainya tidak harus tahu atau membalasnya. Ah iya, bahkan sekarang aku berpikiran bahwa cinta tidak harus atau tidak hanya hubungan antar orang(manusia). Belakangan aku pernah jatuh cinta pada bunga dan rembulan.
Contoh cinta, bagiku, yang paling konkrit barangkali seperti hubungan seorang kpopers kepada idolnya, atau seorang wibu kepada tokoh anime pujaannya, atau bisa juga seorang prajurit kepada negaranya. Mereka rela meluangkan banyak waktu, melakukan banyak hal, dan bahkan mengorbankan banyak hal, untuk idol/waifu/negara yang dicintainya tanpa mendapatkan timbal balik dari idol/waifu/negara sebab mereka tidak peduli dengan itu, mereka meluangkan waktu, melakukan banyak hal, serta mengorbankan sesuatu bukan untuk mendapatkan timbal balik, melainkan murni karena perasaan bahagia yang muncul di otak(atau perasaan). Tapi, terlepas dari semua contoh itu, menurutku cinta yang paling baik dan paling tepat adalah cinta kepada nabi. Sebab siapa yang cinta pada nabinya pasti bahagia dalam hidupnya~
–
ah iya, beberapa orang ada yang cinta pada ideologi. wahai para idealis, sudahlah, hentikan cintamu itu, hentikan mimpi utopismu, bangun dan mari kita cintai saja hidup yang seperti ini. fatum brutum amor fati.