12 Juli 22
Aku menulis ini di malam hari. Aku baru saja bangun tidur, minum obat, dan setelah ini berusaha tidur lagi. Entah mengapa belakangan ini aku suka sekali tidur. Terkadang aku berharap aku tertidur dan tidak bangun lagi. Sepertinya obatku mulai efektif. Susah tidurku berganti hobi tidur.
Seharian ini aku melakukan dengan banyak hal. Pagi tadi aku berkumpul bersama teman satu kelompok KKN. Sebelumnya, karena aku sedang tidak bisa berkendara(aku selalu pusing dan serasa melayang ketika berkendara sendiri), untuk pertama(atau kedua, aku lupa)kalinya aku naik gojek. Ternyata dari rumah ke kampus lumayan mahal, bisa untuk makan nasi ayam kremes di kantin kampus dua porsi. Tapi pengalaman naik gojek cukup menyenangkan, aku bercerita banyak hal dengan bapak gojek. Aku juga jadi tahu, jika sebenarnya masyarakat(dalam hal ini diwakili bapak gojek) cukup memperhatikan aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa. Sayang aku sudah lama kehilangan hasrat melawan(hassek). Pokoknya, doa baik untuk teman-teman aktivis, panjang umur perjuangan!!
Sampai di kampus, entah mengapa kecemasanku kambuh. Aku sesak, ketakutan, dan gemetar. Beruntung teman satu kelompok KKNku bisa mengerti. Aku diberi waktu untuk diam menikmati kecemasanku. Terima kasih teman-teman, kalian baik sekali.
Selesai urusan KKN, aku cukup kebingungan untuk pulang. Naik gojek lagi, bagiku cukup mahal. Beruntung ada seseorang bernama Danang. Ia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Terima Kasih pak. Anda baik sekali. Belakangan ini aku memang sering sekali ditolong(atau bergantung) oleh bantuan-bantuan orang lain. Aku mulai merasa memang sebenarnya manusia-manusia baik masih sangat banyak. Semoga kalian berkembang biak, dan melahirkan penerus yang sama baiknya. Sungguh, spesies kita akan lebih baik jika kalian melahirkan penerus yang sama seperti kalian.
Sesampainya di rumah entah mengapa aku seperti kehabisan tenaga. Aku lemah dan tertidur. Aku lupa telah tidur berapa jam. Tapi sepertinya lama sekali. Aku bangun lagi untuk makan, dan tiba-tiba aku merasa sedih. Tapi kali ini aku biasa saja, maksudku aku tetap merasa sedih tapi aku sudah tidak heran. Sepertinya emosiku memang aneh dan tidak terkontrol. Aku menyerah mengaturnya, pokoknya mau sedih, senang, atau bagaimanapun terserah, aku ngikut ajah.
Sembari menikmati kesedihan, aku melihat hamster peliharaan adikku. Terkadang aku heran, mengapa makhluk kenyal berbulu seperti itu bisa bertahan hidup dan lolos seleksi alam. Cukup lama aku mengamati hamster yang tidur dan berguling tidak jelas. Aku tidak paham apa yang mereka lakukan. Aku juga penasaran dengan apa yang mereka pikirkan. Sayangnya aku bukan nabi sulaiman.
Lelah mengamati hamster yang hanya tidur saja. Aku keluar rumah. Aku melihat bulan. Cantik. Tertutup awan. Cahayanya sedikit buram. Tapi justru karena itu aku merasa bulan malam ini sangat cantik. Aku terinspirasi untuk menulis puisi, tapi gagal. Aku sudah lama tidak menulis puisi. Sepertinya kemampuan menulis puisiku sedang menghilang. Bukan masalah sih. Toh aku bukan sastrawan.
Aku lalu masuk kembali ke rumah dan berpikiran untuk menulis jurnal harian saja. Tidak terasa sudah lebih dari dua minggu aku rutin menulis jurnal harian. Aku merasa menulis jurnal seperti ini cukup menyenangkan. Aku menulis dan bercerita semauku. Sebebasku. Aku bisa jujur dan berterus terang. Aku seperti telanjang.
Sebelumnya aku berpandangan untuk mengisi jurnal ini dengan tulisan-tulisan harian yang cukup berisi. Bukan sekedar cerita omong kosong seperti ini. Yaah.. harapanku sih paling tidak aku bisa menulis catatan harian seperti ahmad wahib atau soe hok gie. Tapi nyatanya, meski ahmad wahib, soe hok gie, dan aku sama-sama mahasiswa perbedaan kualitas kami jelas terlihat. Aku sampah. Tapi yasudahlah. Hidup memang seperti itu bukan. Aku bahagia bisa bercerita. Aku senang bisa menulis. Sekarang, aku mau tidur. Semoga semua makhluk hidup yang baik bisa hidup bahagia. Lovyu gaes…