Que Sera Sera
Menjelang minum obat, entah mengapa tiba-tiba aku ingin menulis. Meskipun aku sendiri tak tau ingin menulis apa. Aku hanya teringat ketika scrolling di Twitter tadi, banyak orang sedang membahas anak seorang juragan tambang di kalimantan. Anak itu berumur 20 Tahun dan memiliki kekayaan sekitar 5 Triliun rupiah. Kekayaan yang sangat luar biasa.
Orang-orang lalu membayangkan bagaimana kondisi mereka dibandingkan kondisi anak juragan tambang ini. Aku sendiri pun sama dengan orang-orang itu. Umurku 22 Tahun saat ini dan entah kekayaan apa yang aku punya. Aku punya 2000 rupiah, tapi tentu itu tidak bisa dibilang kaya. Bahkan tukang parkir bisa mendapatkan itu hanya dengan sekali tarik.
Anehnya, aku merasa biasa saja dengan kondisi ini. Entah ini wajar atau tidak, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Barangkali jika Karl Marx hidup saat ini, ia akan marah-marah akibat distribusi kekayaan yang tidak merata. Ah, atau barangkali beliau juga akan bersikap sama denganku. Biasa Saja.
Biasa Saja. Barangkali itu jugalah yang dirasakan orang-orang lain. Kita sudah terlalu lelah dengan semua ketimpangan, ketidakmerataan, ketidakadilan, atau entah apa ini. Sangat lelah. Begitu lelah bahkan hanya untuk bermimpi. Yang tersisa hanya biasa saja. Menerima nasib dan menjalaninya. Terkadang ditambah mengeluh dan berandai-anda, namun dalam hati tetap biasa saja. Que Sera Sera. Yang terjadi biarlah terjadi. Amorfati. Prek.