KKN (1)
Hari ini hari pertama aku KKN. Dimulai dengan apel atau upacara pada pagi harinya, aku sempat berpikiran untuk mengundurkan diri saja. Terlebih ketika aku tahu bahwa lokasi penempatanku ternyata cukup jauh. Namun dengan pertimbangan bahwa mengundurkan diri dari KKN belum tentu membuat KKNku di periode berikutnya lebih baik dari periode ini, aku memutuskan untuk tetap ikut.
Aku berangkat ke kampus bersama kikik(terima kasih banyak kik, sumpah, tanpamu aku tidak akan sampai kampus) lalu segera berkumpul di lapangan(atau lebih tepatnya halaman) untuk melaksanakan apel/upacara pelepasan. Aku sudah menduga(meskipun sebenarnya aku sangat berharap agar tidak) kecemasanku akan kambuh, sehingga aku memilih posisi di paling belakang. Pikirku, di bagian belakang sedikit lebih lega dan tidak terlalu berkerumun. Upacara dimulai. Baru beberapa saat, yang aku duga terjadi. Yap, kecemasanku kambuh. Aku sesak napas, kedinginan, dan mulai gemetar. Aku juga mulai pusing. Aku memutuskan untuk mundur dan duduk saja di belakang.
Aku tidak peduli lagi dengan apa yang disampaikan pembicara di depan. Aku hanya berharap kecemasanku segera pergi. Aku juga mulai kepikiran untuk pulang dan tidak jadi ikut pergi ke lokasi KKN. Namun, di tengah kecemasanku yang masih bertahan tiba-tiba ada seorang perempuan menyapaku. Ternyata dia satu kelompok KKN denganku, dan ternyata dia mengenalku karena kita pernah berada pada satu tempat kerja yang sama. Meskipun sedang cemas, aku berusaha ramah dan mengobrol dengannya. Mengobrol dengan dia(maaf mbak sampai sekarang aku belum ingat siapa namamu) ternyata membantu menngurangi kecemasanku, meskipun aku masih pusing dan tidak sanggup berdiri.
Tidak lama kemudian, upacara selesai. Kerumunan bubar. Aku membaik(alhamdulillah). Aku lalu berkumpul dengan kelompok KKNku. Meskipun kami(atau aku) baru bertemu secara langsung untuk pertama kalinya, aku merasa kami cocok dan segera akrab sebagai sebuah tim. Mengobrol dan bercanda dengan mereka membuatku semakin membaik. Sebelum berangkat ke lokasi, kami sempat sarapan bersama. Karena aku tidak mau jikalau karena tiba-tiba kecemasanku kambuh ketika aku KKN bisa mengganggu mereka. Aku menceritakan kondisiku kepada mereka. Syukur mereka bisa mengerti kondisiku dengan baik.
Di lokasi, kami melakukan segala hal yang kami perlukan. Sisanya, kami menikmati suasana dan kembali mengobrol. Secara pribadi, aku merasa kami sangat cocok satu sama lain. Aku juga merasa jadi semakin membaik. Semoga kami bisa terus bekerja sama dengan baik hingga KKN selesai.
– Terima kasih kepada Fazza, meskipun kita baru pertama kali kenal, aku telah menghabiskan rokokmu hingga dua batang. Terima kasih juga kepada Danang, anda ketua yang baik pak. Terima Kasih sudah mengantar salah satu anggotamu ini sampai rumah. Terakhir, terima Kasih kepada Kikik, Linggar, dan Wisnu pokokmen aku bocahmu. Ono sing wani gegeran karo koe, aku siap maju!