Minggu Cerita

Semalam aku tidur menjelang pagi. Sebelumnya aku ngopi(tapi aku tidak minum kopi) bersama beberapa kawan. Aku ingin melihat apakah aku akan kambuh lagi atau tidak, ternyata tidak. Aku sukses ngopi(atau nongkrong) dengan aman. Aku juga merokok lagi(maaf dokter). Aku merasa lebih baik ketika merokok.

Pagi harinya aku menyiapkan diri untuk sholat idul adha. Ini akan menjadi hari ke-3 aku berani keluar dan berada dalam kerumunan. Aku sarapan(aku tau sunnah idul adha makannya habis sholat, tapi aku harus makan sebelum minum obat) lalu minum Fluoxetine. Aku siap sholat idul adha.

Di menit-menit pertama sholat, alhamdulillah aku baik-baik saja. Namun selanjutnya, kecemasanku kambuh. Aku mendadak sesak napas, tangan dan kakiku dingin, namun kali ini aku tidak sampai gemetar. Aku masih sanggup berdiri dengan tenang. Aku merasakan semua kecemasan itu hingga salam. Aku sempat berencana kabur dan pergi saja ketika sesi khotbah, tapi pada akhirnya aku mencoba untuk tetap bertahan. Alhamdulillah kecemasanku mereda. Aku kembali normal.

Pulang dari sholat idul adha, aku mengobrol cukup panjang dengan adikku. Aku ceritakan semua yang aku rasakan kepadanya. Adikku juga bercerita bahwa ia sebenarnya juga tidak baik-baik saja. Ia sering melakukan self-harm. Aku lalu mendengarkan ceritanya. Aku menjadi sadar akan banyak hal. Aku yang terlalu cuek. Aku yang tak peka dan lain sebagainya. Aku merasa bersalah. Kami juga sempat berbicara mengenai masa depan. Sayangnya di bagian ini kami sama-sama memiliki pandangan yang suram.

Meskipun begitu, aku yakin hidup kami akan baik-baik saja. Ataupun jika memang tidak baik-baik saja, aku yakin kami bisa bertahan. Terutama adikku. Dia kuat. Dia hebat. Jika dibandingkan dengan dia, aku tak ada apa-apanya. Misalkan dunia tiba-tiba overpopulasi, dan alam memilih 1 yang terbaik dari tiap keluarga. Aku yakin dalam keluarga kami, adikku yang akan lolos. Ohiya, dalam waktu dekat ini dia akan menjadi mahasiswi(beri tepuk tangan..!!!!)


Lampiran : Sebuah surat untuk adik
dari : Akulah, siapa lagi

Selamat menapaki dunia baru pencarian ilmu, is! Kamu yang telah memilih langkah ini, dan kamu berhasil. Aku yakin kedepannya juga akan berhasil. Bahkan sejak awal aku yakin kamu akan berhasil. kalaupun gagal, brarti yang ngasih nilai yang salah. Pokoknya kamu hebat! Aku bukan feminis, tapi kalau ada lelaki misoginis yang bilang perempuan lebih lemah dari laki-laki. Aku akan pukul wajahnya. Sebab aku tahu betul, ada perempuan yang setara (atau kalau laki-laki yang menjadi pembandingnya adalah aku, kamu sudah jelas lebih hebat) dengan laki-laki, dan perempuan itu salah satunya adalah kamu! Terkait masalahmu, kamu tahu aku sendiri bagaimana, dengan urusan mentalku sendiri saja aku payah, jadi saranku tetap sama seperti ketika kita mengobrol tadi, mari periksa ke dokter. Tapi kalau kamu butuh tempat cerita, kamu bisa cerita ke aku. Aku bisa mendengarkan dengan baik. Dan santai saja rahasiamu aman dari orang tua kita(asal kamu juga menjaga rahasiaku tentu saja wkwkwk). Pokoknya, jangan mati duluan(dan jangan membunuhku, aku tidak keberatan mati tapi tidak dengan cara yang tidak baik). Kita tidak dilahirkan untuk balapan mati.