Lari Pagi(2)
Semalam aku tidur agak terlambat. Tapi sepertinya, setelah sekian lama(aku lupa sudah berapa minggu) aku mengonsumsi clobazam kini obat itu mulai efektif untukku. Aku tidur dengan tenang. Benar-benar tenang. Menyenangkan.
Tapi aku bangun lagi pagi ini. Sebenarnya aku ingin merasa sedih, namun tak ada waktu. Kaktusku jatuh dari jendela. Aku harus menolongnya. Hidup kaktus lebih penting dari rasa sedihku. Saat merawat(menanam kembali) kaktus, aku lihat bapakku sedang bersiap untuk lari pagi. Aku jadi teringat kembali akan keinginanku lari pagi. Maka seketika itu juga langsung aku kenakan kaus kaki dan sepatu(aku pakai sepatu proyek/sepatu kuliah karena sepatu lariku salah ukuran). Dan Aku lari pagi! Huhu. Akhirnya.
Beberapa meter pertama semua terasa menyenangkan. Ini mudah saja, begitu batinku. Aku terus berlari. Hingga beberapa meter berikutnya, aku mulai kehabisan napas. Sial. Ternyata cukup melelahkan. Aku memaksakan diriku. Aku terus berlari dengan penuh semangat. Aku merasa aku telah mengerahkan segenap kesungguhan dan kemampuan fisikku. Aku sudah total. Aku sudah maksimal. Yap, aku merasa aku hebat. Hingga SEORANG KAKEK-KAKEK yang bahkan terlihat lebih tua dari kakekku berlari mendahuluiku dengan santainya.
Boom. Seketika itu aku merasa lemah. Sangat lemah dan payah. Aku mencoba mendahului, ah tidak, aku mencoba menyamai kecepatan lari kakek itu tapi aku tak sanggup. Napasku sudah tinggal satu-satu. Jantungku berdegup kencang. Pandanganku mulai kabur(mataku memang sudah minus btw). Langkahku sudah goyang. Ah, sudahlah. Persetan dengan harga diri. Aku menyerah. Aku akan lari lagi besok pagi. Yang penting konsistensi boss!!!!
Sebelum menulis tulisan ini aku mengukur rute lariku. Aku merasa sudah lari puluhan kilometer, namun ternyata hanya ratusan meter. 🥲
Pada intinya, hari ini aku berhasil lari pagi(tepuk tangan). Itu sebuah kemajuan besar. Aku bangga dengan drirku sendiri. Semoga aku berhasil lari lagi di pagi-pagi berikutnya.