080622
Hari ini hari kedua aku memberanikan diri keluar. Aku merasa lebih baik. Aku masih merasakan cemas dan jantungku terus berdebar tidak teratur di awal, tapi kini itu tidak lama. Aku bisa mengatasinya. Di hari kedua ini aku juga berkumpul dengan orang-orang baru. Aku penasaran apakah aku akan cemas tak terkontrol lagi. Ternyata tidak. Aku bisa tetap tenang(terima kasih iqbal). Aku juga sudah bisa sholat berjamaah hari ini. Meski masih terasa berat dan aku masih sesak napas, Tapi aku bisa tetap berdiri tegak dan tidak gemetar terlalu parah. Pada intinya, aku merasa aku membaik. Sangat membaik.
Hari ini aku juga sempat mengobrol cukup lama dengan linggar dan wisnu. Aku jadi mengenang kembali hari-hari di mana aku belum sekacau ini. Aku jadi sadar, barangkali memang sejak awal aku sudah sakit. Dulu aku memang sering mengalami serangan panik. Bahkan sampai tidak bisa melakukan apapun. Seringkali tiap perjalanan pulang dari main atau nongkrong. Aku berhenti mendadak dan berdiam diri di pinggir jalan hanya karena tiba-tiba terkena panik. Namun intensitasnya tidak sering, dan tidak terpola. Jadi aku mengabaikan itu semua. Aku juga tidak menganggap itu mengganggu. Sampai pada akhirnya kini terakumulasi dan aku menjadi sekacau ini.
Mengenang masa-masa itu, aku jadi teringat ketika pertama kali aku menjadi kacau. Aku mengalami serangan panic semalaman. Aku tidak bisa tidur. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun. Aku kebingungan dan hanya bisa menangis. Ketika orang tuaku bertanya apa yang aku rasakan? aku bahkan tidak bisa menjawab. Aku hanya menangis. Aku sempat berharap, aku lebih baik mati saja hari itu. Tapi nyatanya aku tetap hidup. Hanya saja aku menjadi sangat berbeda. Aku menjadi sangat kacau. Aku meninggalkan semua tanggung jawabku. Aku menarik diri dari semua aktivitas keorganisasianku. Aku tak lagi sanggup berkumpul dengan orang lain, apalagi berbicara di depan umum. Aku bahkan tak berani keluar rumah. Aku menghilang.
Namun, seperti ceritaku di awal tadi. Kini aku membaik. Sangat membaik(meski masih harus menjadi konsumen tetap antidepresan tiap pagi dan malam). Aku sangat bersyukur.
Mengenang masa-masa itu juga membuatku teringat bagaimana aku bisa sampai tahap ini, bagaimana pada akhirnya aku bisa membaik. Oleh karena itu aku ingin berterima kasih kepada seseorang. Sebenarnya aku ingin menyampaikan rasa terima kasih ini melalui pesan pribadi kemarin. Namun aku sedang tidak dalam kondisi yang baik, Jadi aku akan menyampaikan pesanku dalam tulisan hari ini saja.
–
Hai, Kamu
Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini lewat chat pribadi saja, namun aku tidak bisa. Aku juga ingin menyampaikan ini dengan mengobrol langsung denganmu, tapi aku tidak sanggup. Aku memang sepayah itu wkwkwk.
Aku ingin berterima kasih. Sangat-sangat berterima kasih. Aku ingat bagaimana aku tidak sengaja(ketika itu aku sedang dalam pengaruh ****) memberimu pesan rahasia lewat telegram, dan kamu menanggapi. Aku bercerita banyak hal(kali ini lupa aku bercerita apa saja). Cerita yang tentu sangat tidak penting bagimu, namun kamu tetap menanggapi. Terima Kasih.
Aku juga ingat bagaimana aku suatu hari(aku lupa kenapa) aku cerita kepadamu tentang aku yang merasa aneh. Aku yang merasa sakit. Kamu bisa saja mengabaikanku. Namun sekali lagi kamu mau menanggapi. Terima Kasih.
Aku juga jadi ingat bagaimana kamu bersikeras menyuruhku untuk periksa. Padahal kamu bisa saja bersikap bodo amat. Toh akupun belum tentu menuruti saranmu. Namun, sekarang beginilah aku. Aku periksa ke dokter. Aku diberi obat. Aku membaik. Aku bersyukur mengikuti saranmu. Terima Kasih.
Juga di hari pertama aku ingin keluar. Kecemasan itu datang lagi. Aku terjebak ketakutan. Sungguh ketika itu rasanya sangat mengerikan. Aku hanya menangis dan menulis jurnal. Berharap kecemasan itu pergi. Namun, kamu menanggapi. Kamu memberi pesan bahwa aku akan baik-baik saja. Dan kamu benar. Aku baik-baik saja. Terima Kasih.
Aku minta maaf jika selama ini aku telah mengganggumu. Terkadang aku tidak sadar mengapa aku memilih bercerita kepadamu dari pada orang lain. Aku minta maaf. Sungguh minta maaf. Aku juga minta maaf jika telah membuatmu tidak nyaman. Semoga kamu mau memaafkanku.
Sungguh, kamu orang baik. Semoga kamu selalu diberi kebaikan. Aku tidak tau bagaimana membalas kebaikanmu. Aku harap kamu tidak keberatan untuk meminta bantuanku jika perlu. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan membantumu. Aku berhutang padamu.