080123
Dalam sebuah novel yang entah apa judulnya(aku lupa), murakami menulis kalimat “If something happens, it will happen. You don’t have to worry so much”. Setiap membaca kalimat itu, bayanganku mengawang pada sebuah adegan di Norwegian Wood(kalau tidak salah), di mana Toru dan Midori(kayaknya wkwkwk) berdiam di atas balkon, merokok, dan berdiam diri melihat api yang sedang membakar ruko sebelahnya dan bisa saja membakar mereka dalam sekejap. Kadang aku juga membayangkan adegan di mana Nabi Muhammad SAW ditodong pedang, Nabi Ibrahim di tengah api, atau Nabi Musa dan pengikutnya di tepi lautan. Keberanian, Ketenangan, Optimisme, sekaligus Kepasrahan. Sambil membayangan adegan-adegan tersebut, aku merasa barangkali hal-hal itulah yang selama ini hilang dari diriku.
Aku tenggelam dalam ketakutan tak berhenti, kegelisahan, pesimisme, dan sikap kewaspadaan yang hanya membuat detak jantungku tak karuan, nafasku kacau, serta tubuhku gemetaran yang sialnya tak bisa aku kendalikan. Aku membenci diriku sendiri. Aku rindu diriku yang tak peduli apapun. Aku telah mencoba mengingat diriku yang dulu, namun tak ada perubahan yang berarti. Ketidakjelasan ini menelanku.
Aku melawan ketidakjelasan itu dengan obat-obatan. Per malam ini, aku rasa sudah 150 hari aku menjadi peminum antidepresan. Fluoxetine, Maprotilin, Clobazam, Trihexyphenidyl, dan Risperidone. Aku bahkan hafal nama-namanya. Kata dokter, obat-obatan itu akan membantuku mengendalikan diri. Sejujurnya, aku sudah bosan dan jenuh, lagipula aku sudah bisa tidur. Karena itu, di bulan(atau tahun?) lalu, aku berbohong kepada dokter dengan mengatakan bahwa aku sudah baik-baik saja, aku bisa mengendalikan diriku. Sayangnya dokter tidak setuju, Ia menyuruhku tetap minum obat, setidaknya sebulan ke depan. Ketika menulis ini, aku sadar, sepertinya dokter benar. Bahkan dengan dibantu obat, aku tetap merasakan sensasi-senasi aneh yang tidak jelas itu. Entahlah. Rasa-rasanya aku ingin menyerah saja, tapi apa bedanya? “If something happens, it will happen.”