Teman
Kalau tidak salah, seingatku dalam salah satu naskahnya, sartre pernah berkata bahwa The other people are hell. Orang lain adalah neraka. Aku mengamininya secara literal. Aku percaya bahwa orang lain benar-benar neraka. Aku tahu sebagai seorang filsuf, beliau(sartre) pasti punya makna lain yang tidak literelly seperti itu, tapi sudahlah, aku bukan filsuf dan sartre sudah mati. Pokoknya aku setuju orang-orang lain itu mengerikan. Terlebih ketika aku menderita gangguan kecemasan.
Bersama orang lain, benar-benar seperti neraka. Aku cemas, sesak napas, dan kehilangan kendali akan diriku sendiri. Lebih parahnya lagi, aku tidak tau kenapa. Semua terjadi begitu saja. Seperti hukum alam. Seperti dalang pembunuhan munir. Seperti keberadaan harun masiku. misteri.
Tapi, hari ini aku menyadari bahwa tidak semua orang lain adalah neraka. Beberapa diantaranya adalah surga(jangan dipahami secara literal, ini bahasa filsuf). Orang-orang lain ini aku sebut sebagai teman. Setahuku, banyak sekali definisi teman. Mulai dari definisi yang biasa saja sampai yang fafifuwasweswos penuh majas dan omong kosong. Banyak juga yang mengklasifikasikan atau meng-kelas-kelas-kan teman. Ada teman sejati. Teman dekat. Teman biasa. Hingga Teman dengan keuntungan alias friend with benefit (kalo salah bodo amat ini bukan tulisan serius).
Aku sendiri mengartikan teman sebagai hubungan antar makhluk dimana saling mengenal satu sama lain. Tidak perlu dekat. Tidak perlu akrab. Yang penting sama-sama kenal, maka kita teman. Bahkan tidak perlu manusia. Seperti lirik salah satu lagu iwan fals, aku berteman iblis yang baik hati~ Aku kenal kamu, kamu kenal aku maka kamu adalah teman. That’s it. That’s all. tetapi hari ini tidak lagi seperti itu. Aku merasa teman adalah juga apa yang tadi aku sebut sebagai surga(sekali lagi, jangan dipahami secara literal, ini bahasa filsuf).
Ceritanya sebagai berikut :
Hari ini aku bertemu banyak orang lain. Pada awalnya, aku merasa aku akan seperti berada di neraka. Aku ingin lari. Aku ingin kabur. Aku ingin menghindar. Tapi (terima kasih wisnu) aku sudah bertekad untuk tidak menghindar lagi. Aku sudah berjanji untuk tidak sembunyi lagi. Aku ingin keluar. Maka berbekal afirmasi bahwa aku akan baik-baik saja (kali ini terima kasih wulan), aku datang dan bertemu orang-orang lain. Sesuai dugaan, cemas itu datang lagi. Ketakutan tidak jelas itu muncul kembali. Padahal aku sudah minum obat. Aku mulai kedinginan dan kehilangan kendali. Aku hampir ingin keluar dan kabur saja. Tapi gengsi memaksaku untuk tetap bertahan. Meski di neraka sekalipun(harga diri nomor satu brou).
Orang-orang lain semakin banyak. Aku bersalaman dan bertegur sapa dengan mereka satu-persatu. Aku merasa sebentar lagi aku seperti akan habis terbakar di neraka(lagi-lagi, ini bahasa filsuf). Namun ternyata tidak, aku tidak di neraka. Perlahan tapi pasti, kecemasan ini hilang (meski aku masih tetap kedinginan). Aku mulai merasa baik-baik saja. Aku merasa berada di surga(tidak perlu dijelaskan, kamu tau maksudku). Orang-orang lain ini mengenalku. Aku mengenal orang-orang lain ini. Mereka adalah orang-orang lain dimana aku merasa baik-baik saja ketika bersama mereka. Mereka adalah Teman. Mereka adalah surga.
Lewat tulisan ini, aku ingin berterima kasih kepada mereka. Kepada teman-temanku. Aku bersyukur kita berada pada salah satu titik ruang dan waktu yang sama. Aku bersyukur takdir mempertemukan kita. Sungguh, meski ini seperti berlebihan, tapi kalian adalah surga.(sebagaimana sebelumnya, jangan pahami ini secara literal).
Selanjutnya ini adalah ucapan khusus kepada orang-orang khusus. kamu tidak perlu membacanya jika tidak gabut atau tidak selo.
Ucapan terima kasih spesial kepada kikik, terima kasih sudah membarengi saya tanpamu aku tidak akan bertemu surga(YKWIM). Terima kasih selanjutnya kepada wisnu, tanpa motormu aku akan kehabisan obat dan dimarahi dokter. Terima kasih juga kepada deri, tanpamu motor wisnu bisa saja aku maling dan aku tidak jadi bertemu dokter. Yang terakhir, terima kasih kepada teman-teman basidua. aku bisa menyebut kalian satu-persatu tapi lebih baik tidak usah. Tulisan ini sudah terlalu panjang. Pada intinya, Terima Kasih. Lov u gaes.
Oh iya. Kepada wulan, nanti aku pc saja xixixi.