anxiety 5 juli
Aku kembali disergap kecemasan. Kali ini sangat menyakitkan. Aku sulit bernafas dan kedinginan. Tanganku gemetar. Pikiranku tak mampu aku kendalikan. Aku mencoba menulis ini untuk mengurangi kecemasanku.
Kamu takut?
tidak, atau ya. tapi menurutku aku hanya cemas.
Lalu kenapa sekhawatir itu?
entahlah, aku bingung dan susah berpikir.
Kamu sudah coba mengatur nafas?
Sudah. Itu tidak membantu. Aku tetap sesak dan bingung.
Apa yang kamu cemaskan?
Tidak tau.
Ah iya, aku besok harus mengikuti acara cukup lama. Aku harus bertemu banyak orang. Aku juga harus bertemu dokter di sore harinya.
Lalu? apa yang kamu cemaskan
Tidak tau. Aku bingung.
Semua itu hanya pikiranmu
Tapi aku kesakitan. Rasa sakit ini nyata.
Tidak. itu hanya pikiranmu
Aku mencoba meyakininya.
Abaikan semuanya, tak ada yang perlu dicemaskan, semua akan baik-baik saja
Aku tau.
Kamu hanya perlu terbiasa. Pikiranmu memang sedang sakit, tapi itu tidak akan selamanya. Fisikmu baik-baiik saja. Hidupmu baik-baik saja
Entahlah, aku sadar akan semua itu tapi aku tetap cemas.
Kamu hanya perlu terbiasa
Ya, Aku akan terbiasa.
Aku menulis ini sambil menangis. Persetan dengan pendapat orang. Aku memang lemah. Tapi aku tidak takut. Aku boleh mati kapan saja dan itu tidak apa-apa. Aku bisa kehilangan apapun dan itu tidak apa-apa. Hidup ini tidak selamanya. Aku hanya perlu menikmatinya. Aku menerima apapun yang terjadi. Sebab aku akan terbiasa. Aku akan terbiasa.