041022

Aku kangen menulis, maka aku menulis tulisan ini. Aku menulis dalam kondisi mengantuk dan lelah. Aku juga sedang dalam pengaruh obat. Aku tidak berpikiran ingin menulis apa, jari-jariku kubiarkan mengetuk keyboard laptop semaunya. Aku sedang tidak dalam kondisi apa-apa. Aku tak merasa hidup namun tak juga mati. Aku merasa kosong. Barangkali aku terlalu terbawa lagu-lagu jason ranti yang belakangan ini menjadi playlist rutinku menjelang tidur. Sialnya, akun spotifyku tiba-tiba habis malam ini. Ah shit.

Aku juga baru saja menguninstall twitter dari ponselku. Berbagai berita dan isu yang muncul membuatku tak nyaman. Video-video kucing lucu pun tak lagi mampu menghiburku. Tragedi kanjuruhan yang menjadi trending belakangan ini barangkali mentriggerku. Siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa yang boleh seenaknya mengambil hidup makhluk lain? Tanpa pesan, tanpa pemberitahuan. Tuhan? Aku jadi terpikir tentang rencanaku di masa lalu untuk menggugat Tuhan, namun siapalah diriku. Toh sepertinya di pengadilan Tuhan tidak ada pengacara. Kalaupun ada juga entah dengan apa aku sanggup membayarnya.

Seharian tadi aku mengajar dan mendapat pesan-pesan dari anak-anak(atau murid)ku. Terasa menyenangkan. Aku suka kalian. Semoga hidup kalian menyenangkan. Ada beberapa pesan yang mengingatkanku soal impian. Ah, andai kau tahu dik, mimpiku telah lama mati. Ia bunuh diri. Entah sudah berapa ratus malam yang aku temui hanya gelap. Kegelapan yang tak terasa. Sunyi. Tenang. Kemudian aku terbangun dan menjalani repetisi hidup.

Beberapa juga memberiku ucapan semangat dan doa agar aku sembuh dari sakit. Aku tidak pernah merasa sakit, meski aku tiap hari masih harus minum berbagai macam obat. Menurutku itu bukan apa-apa. Aku masih sanggup melinting tembakau dan menulis puisi. Aku baik-baik saja. Soal hal lain, entah mengapa aku kehilangan minat.

Sebelum menulis ini aku juga baru saja keluar untuk melihat langit. Sayangnya tidak ada bulan di sana. Hanya ada bintang-bintang. Aku rindu bulan. Aku sering mengabaikannya, tapi malam ini entah mengapa aku ingin bulan. Aku ingin memiliknya untukku sendiri. Mungkin atau tidak, aku tidak peduli. Aku sudah lelah memikirkan berbagai kemungkinan. Biarlah yang akan terjadi agar terjadi begitu saja. Prek.

Beberapa hari lalu aku mencoba berjudi. Aku mendapat uang dan kehilangan uang dalam waktu singkat. Bagiku itu menyenangkan dan lucu. Atau barangkali absurd. Mengundi nasib dan keberuntungan. Bukankah setiap hari kita juga hanya mengundi kemungkinan-kemungkinan? Kita adalah para penjudi kehidupan.

Aku ingin bercerita banyak hal. Tapi aku bingung. Ah barangkali aku tidak ingin bercerita, yang aku ingin adalah mendengar ceritamu. Hanya itu. Sisanya kita pikirkan nanti. Mencintaimu? sepertinya sudah tidak lagi. Aku lebih mencintai ketiadaan. Hutangku sudah lunas dan aku sudah mengantuk. Aku ingin tidur setelah menulis tulisan tidak jelas ini. Aku ingin menjumpai kegelapan. Siapa tahu aku bisa bersemayam di sana.

Bagi siapapun yang membaca tulisan ini, ketahuilah kalian telah membuang-buang waktu. Namun waktu itu fana, jadi silahkan dibaca kembali. Tidak jelas memang. bye.