I'm not okay and that's okay

Tak ada yang pernah tau jalan hidup seseorang. Bahkan jalan hidup kita sendiri. Hidup memang semisterius itu. Jika hidup sebuah novel, barangkali isi ceritanya akan sangat absurd, unik, dan penuh kejutan. Setiap hari banyak hal-hal aneh kita ketahui dari sosial media. Orang kaya yang tiba-tiba miskin. Orang gila yang mencuri tabung gas 3kg. Bahkan orang yang membakar tempat ibadah karena tidak boleh meminjam lampu bohlam.

Segalah hal aneh itu selalu membuatku merasa bahwa hidup memang tidak masuk akal. Kita ada dan hidup dan kemudian mati. Secara singkatnya begitu. Namun hidup membuat jalan singkat itu berkelok-kelok. Seperti labirin yang tiap-tiap ujungnya adalah bahagia, duka, kesedihan, atau bahkan kosong. hampa.

Tapi bagiku semua itu bukan masalah. Kita hanya perlu menjalaninya. Menikmati setiap tawa, duka, ataupun hampa. Sederhana. Mudah. Bukan masalah. Namun, barangkali kini aku berubah pikiran. Hidup tidak sesederhana itu. Oh, atau lebih tepatnya menjalani hidup tidak lagi sesederhana itu. Tawa, duka, bahkan hampa yang kita rasakan tidak sesederhana itu. Kini aku selalu merasa khawatir. Cemas.

Mengapa bisa begitu, aku sendiripun tidak tau. Pikiran aneh dan tidak penting ini datang dengan sendirinya. Aku kalah dengan pikiranku sendiri. Atau barangkali itu bukan pikiranku? entahlah. Aku telah cukup lama membaca novel-novel Camus, Kafka, Dostoyevsky dan lain sebagainya, bahkan fafifuwasweswos karya nietzsche. Biasanya itu cukup membantu, namun kini tidak lagi. Kekhawatiran ini tidak pernah pergi.

Semuanya akan berakhir ketika kita mati. Hidup tak perlu berarti apa-apa. Kita tidak menanamkan apa-apa. Semua ungkapan itu dulunya selalu membuatku merasa baik-baik saja. Namun kini tak berarti apa-apa. Aku tidak pernah merasa ingin melakukan sesuatu. Atau takut kehilangan sesuatu. Tapi kekhawatiran ini terus datang. Aku mencemaskan hal yang aku sendiri tidak tahu. Aku tidak baik-baik saja.

Ketika aku menulis ini, kekhawatiran itu datang lagi. aku berharap membuat tulisan ini bisa membantuku mengatasinya, atau paling tidak membuatku tahu apa yang aku khawatirkan, tapi sepertinya tidak. Aku sudah lupa ini kali keberapa aku merasa seperti ini. Aku masih tidak baik-baik saja, tapi aku mulai terbiasa. Meski aku yakin bahwa waktu itu fana. Aku berharap seiring berjalannya waktu aku bisa mengenal kekhawatiranku atau ia yang pergi meninggalkanku.