010123
Hai,
Aku menulis ini di tahun 2022, ketika selesai menulis tak terasa tahun sudah berubah menjadi 2023. Berganti begitu saja. Memang benar bukan? waktu itu fana. Tahun hanyalah angka. Umur juga. Kita (manusia) sendiri yang mengada-adakannya, dan kita pula yang kerepotan karenanya. Aneh sekali.
Aku jadi teringat novel karya Genki Kawamura, kalau tidak salah novel itu berjudul “jika kucing lenyap dari dunia”. Dalam salah satu bagian novelnya, sang tokoh diberi kesempatan untuk melenyapkan beberapa hal di dunia ini sebagai ganti hidupnya yang akan berakhir. Sang tokoh kemudian mulai menghilangkan beberapa hal yang ada di dunia, salah satunya waktu, yang akibatnya sang tokoh menjadi kesulitan untuk membuat janji temu dengan temannya. Barangkali memang itu fungsi waktu, agar kita(manusia) bisa membuat janji temu dengan mudah. Selainnya? entahlah. Kalian tahu?
Pada intinya, aku sedang tidak baik-baik saja dengan waktu. Karena waktu, kita seolah-olah terikat oleh jerat-jerat tak terlihat. Jam 7 harus sudah bangun. Jam 22 harus tidur. Tahun 2024 harus nyaleg. Desember harus seminar proposal. Umur 25 harus sudah memperbaiki dunia. Bla bla bla… Kita semua membuat dan menentukan batas-batas, lalu terhimpit olehnya. Kenapa tidak kita bebaskan saja?
Terlepas dari pembahasan waktu yang tidak jelas di paragraf-paragraf sebelum ini, dalam tulisan kali ini sebenarnya aku ingin bercerita bahwa aku masih susah tidur. Padahal aku sudah diberi obat yang seharusnya membuatku segera tidur dalam beberapa menit setelah meminumnya. Sayangnya itu tidak terjadi. Aku masih terjaga hingga tengah malam, bahkan menjelang pagi. Aku seakan lupa bagaimana caranya tidur.
Ngomong-ngomong soal tidur, aku penasaran bagaimana kamu tidur? Apakah kamu bermimpi? Jujur saja aku telah lama kehilangan mimpi-mimpi, semuanya hanya gelap. Apakah memang begitu jika kelak kita tidur untuk selamanya?