<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>Hanif-log</title>
    <link>https://dalamjaringan.github.io/</link>
    <description>Recent content on Hanif-log</description>
    <generator>Hugo -- gohugo.io</generator>
    <language>en-US</language>
    <lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2023 20:59:43 +0700</lastBuildDate>
    
	<atom:link href="https://dalamjaringan.github.io/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
    
    
    
    <item>
      <title>Judi</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0902231/</link>
      <pubDate>Thu, 09 Feb 2023 20:59:43 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0902231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini untuk diriku sendiri. Selain sebagai catatan bahwa aku pernah melakukan tindakan &amp;ldquo;dosa&amp;rdquo; dan &amp;ldquo;kriminal&amp;rdquo;. Aku juga menulis ini sebagai hiburan. Yang bodoamat menghibur atau tidak. Yang penting aku pernah berjudi wkwkwk&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku rasa, awal aku mencoba berjudi karena aku punya akses dari seorang teman. Aku menemukan situs judi online yang benar-benar membayar ketika kita ingin menarik uang kita. Situs yang legit. Jika ada yang beranggapan bahwa tidak ada orang yang kaya karena judi. Aku setuju. Aku mencoba berjudi bukan untuk menjadi kaya. Lagipula aku sudah 23 tahun hidup menjadi orang yang tidak kaya, dan bagiku tidak kaya bukan masalah. Kekayaan bukan hal yang perlu dicapai. Aku berjudi karena ingin merasakan sensasinya. Aku membayangkan diriku menjadi seorang Alexei Ivanovich dalam The Gamblernya Dostoevsky. Meski judi yang aku lakukan berbeda dengannya. Yang penting judi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Awal mula aku mencoba berjudi dengan modal 25 ribu rupiah. Aku bertaruh 200 dalam setiap putaran. Sialnya aku menang dan memperoleh jackpot. Lambat laun aku menjadi butuh tantangan lebih. Terbawa suasana. Saat menulis tulisan ini, terakhir kali aku berjudi aku rasa aku telah bertaruh 10.000 dalam setiap putaran. Modal yang aku habiskan barangkali mencapai 1 juta rupiah. Bukan nominal yang terlalu besar bagi seorang pejudi. Tapi sangat besar bagiku yang hanya ingin mencoba sensasi berjudi wkwkwk. Kini setelah sekian lama berjudi, aku mendapat beberapa hal. Yang pertama tentu saja pengalaman. Aku cukup bisa untuk sombong dan bercerita ala-ala mafia las vegas. Aku sanggup menceritakan bagaimana rasanya jantung berdegup ketika kita mempertaruhkan sejumlah uang. Bagaimana senangnya ketika mendapat jackpot. Juga bagaimana kalapnya ketika kita hampir mendapatkan jackpot namun tidak jadi. Seakan ada rasa untuk membalas dendam. Nah, aku rasa, perasaan untuk balas dendam inilah yang membuat para pejudi menjadi jatuh ke dalam kemiskinan (termasuk aku wkwkwk).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Barangkali jika pejudi mau berhenti ketika (jika beruntung)mendapat jackpot, ia akan memperoleh keuntungan. Sayangnya, perjudian seakan didesain untuk membuat penjudi bukannya berhenti, namun malah menambah taruhannya untuk mendapat jackpot yang lebih besar(yang peluangnya sangat kecil). Perjudian memanfaatkan keserakahan, hasrat, dan sifat dendam manusia. Juga sifat alami manusia untuk bermain. Sebuah jebakan yang fatal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sendiri berhasil berhenti setelah kehilangan cukup lumayan. Meskipun bagiku uang bukan masalah, Aku rasa itu sepadan dengan pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan secara langsung. Terkadang rasa ingin tahu memang membutuhkan pengorbanan wkwkwk. Aku rasa berhasilnya aku berhenti juga karena memang dari awal niatku bukan untuk mencari uang. Aku hanya memuaskan rasa penasaran, kini aku sudah puas. Beberapa kasus yang aku temukan, rata-rata orang yang berjudi kesulitan untuk lepas dari kebiasaannya berjudi. Aku rasa itu karena jebakan fatal yang memanfaatkan sifat alami manusia tadi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk para penjudi atau orang yang ingin mencoba berjudi dan barangkali membaca tulisan ini, yep,  judi memang menyenangkan(aku akui itu, sesasinya memang mendebarkan) tapi jebakan alaminya mengerikan. Jika kalian orang yang punya banyak uang, aku rasa kalian bisa kehilangan banyak uang tanpa sadar karena jebakan itu. Jadi, jika kalian berjudi untuk menjadi kaya, urungkanlah. Jika kalian berjudi untuk mencari pengalaman, maka berhati-hatilah. xixixi&amp;hellip;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Beberapa cerita yang ingin aku bagikan dengamu</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2701231/</link>
      <pubDate>Fri, 27 Jan 2023 22:31:57 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2701231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Bulan januari terasa lama sekali. Aku merasa telah melewati banyak hari tetapi hingga saat ini masih perlu beberapa hari lagi untuk mengakhiri januari. Meski aku sendiri tak tahu mengapa aku ingin segera mengakhiri januari. Aku hanya merasa waktu berjalan sangat lambat. Ah entahlah, meski lambat aku rasa aku tidak dapat memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Aku bingung (atau lebih tepatnya aku malas) menulis skripsi. Aku juga kembali didera kecemasan tidak jelas. Jadi kuputuskan untuk menulis tulisan ini saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Apakah kamu pernah berpikiran mengapa kita hidup? pernahkan kamu mencari alasan atau tujuan mengapa kita tak mengakhiri hidup ini(selain ketakutan akan bayangan tentang kematian)?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa waktu terakhir ini aku sempat memikirkan hal itu. Bahkan, jujur saja, aku sempat berpikiran untuk mengakhiri hidup. Hanya dipikiran tentu saja. Untuk melakukan hal sebenarnya, aku belum memiliki alasan yang cukup kuat. Dalam proses itu, entah mengapa aku malah menemukan beberapa hal yang membuatku kembali bersemangat untuk tetap hidup.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika berkendara menuju kantor, aku menyadari bahwa garis batas antara hidup dan mati itu tipis. Aku berkendara di lajur kiri namun sedikit menengah, sangat dekat dengan garis marka. Saat itu, ketika merasakan hempasan angin dari kendaraan di lawan arah di lajur kanan yang biasanya terasa biasa saja, kali ini terasa berbeda. Aku membayangkan bagaimana jika motor yang aku tunggangi tiba-tiba oleng ke kanan atau sebaliknya, kendaraan di lajur kiri tiba-tiba oleng ke arahku. Sebab kami hanya dipisahkan garis putih. Kami hanya dipisahkan cat, yang tentu saja tidak sanggup menghalangi apa-apa. Aku takjub bagaimana kami bisa tetap di jalur kami masing-masing.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa waktu kemudian, aku kecelakaan. Ketika itu sebuah mobil yang ada di jalur kanan, tiba-tiba berbelok ke kiri dan menabrakku. Aku yang kaget hanya terdiam. Momen itu terasa begitu cepat. Seperti blip. Tiba-tiba aku sudah berhenti di belakang mobil itu. Kulihat motorku rusak parah dan begitu pula bumper sebelah kanan mobil. Anehnya, aku baik-baik saja. Aku merasa sangat beruntung. Aku juga jadi teringat beberapa kecelakaan lain yang aku alami. Semuanya tak kalah mengerikan dibandingkan kecelakaan saat ini. Aku pernah hampir terlindas truk. Tergencet bus. Bahkan terpeleset masuk ke jurang. Beruntungnya aku tak apa hingga saat ini. Aku jadi sadar bahwa memang ini belum waktuku untuk mati. Aku masih harus tetap hidup. Aku tak perlu takut dengan apapun. Jika memang belum waktuku, keberuntungan-keberuntungan itu akan terus berulang.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>190123</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1901231/</link>
      <pubDate>Thu, 19 Jan 2023 21:31:54 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1901231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini hari ke 19 di tahun 2023 Masehi. Hari entah ke- berapa aku mencoba menulis skripsi. Juga hari entah ke- berapa aku merasa bodoh dan sepertinya memang begitu. Aku tidak keberatan menjadi bodoh. Hanya saja kebodohan kali ini terasa menyesakkan. Seingatku ada pepatah mengatakan bahwa tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang malas. Aku merasa barangkali aku keduanya, aku bodoh dan pemalas. Aku benci diriku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku menulis ini setelah beberapa jam berdiam diri melihat draft skripsi yang menganggur. Lalu aku menyerah. Sebelum menulis kalimat itu, aku berencana sekali lagi mencoba membuka draft skripsi. Tapi semuanya sama saja. Draft skripsi itu tetap menganggur. Aku bingung. Parahnya aku bingung apa yang aku bingungkan. Setelah mempublish tulisan ini aku berencana membuka draft skripsi itu lagi. Semoga nanti situasinya berbeda. Semoga aku diberi wahyu, wangsit, ilham, ilmu ladunni, atau apapun itu. Duh Gusti, beri aku kecerdasan instan.&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;update&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;setelah mempublish tulisan ini, aku tetap gagal. fak off.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>160123</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1601231/</link>
      <pubDate>Mon, 16 Jan 2023 22:34:05 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1601231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Apa kabarmu hari ini?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga seindah aurora borealis di norwegia&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Atau bulan di malam 15 penanggalan jawa&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ada cerita apa hari ini?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku harap aku bisa mendengarnya langsung dari mulutmu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Agar telingaku bisa beristirahat dari dentuman lagu-lagu dream theater&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;atau suara serak-serak parau kurt cobain&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku akan mendengarkan ceritamu hingga akhir&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meskipun aku selalu berharap itu tak pernah berakhir&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Malam ini begitu dingin&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Apa dirimu juga begitu?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maka biarkan aku memelukmu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebab aku manusia&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan aku mamalia&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Katamu mamalia berdarah panas&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Apa perlu aku berikan darahku padamu?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kamu bisa jadi nyamuk di tiap malam-malamku&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ah, iya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku tidak akan mencintaimu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tidak akan pernah,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebab aku sudah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;kini giliranmu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Apa kabarmu hari ini?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;-Magelang, 16 Des 23&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>150123</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1501232/</link>
      <pubDate>Sun, 15 Jan 2023 22:11:25 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1501232/</guid>
      <description>&lt;p&gt;hai, silahkan tonton video berikut :&lt;/p&gt;

&lt;div style=&#34;position: relative; padding-bottom: 56.25%; height: 0; overflow: hidden;&#34;&gt;
  &lt;iframe src=&#34;https://www.youtube.com/embed/ujby_E-5obQ&#34; style=&#34;position: absolute; top: 0; left: 0; width: 100%; height: 100%; border:0;&#34; allowfullscreen title=&#34;Dinosaurs in Love&#34;&gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;Apa kabar kamu hari ini?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga kamu baik-baik saja&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sendiri baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Apa yang kamu lakukan hari ini?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku baru saja membaca &lt;a href=&#34;https://en.wikipedia.org/wiki/Kafka_on_the_Shore&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;Kafka on The Shore&lt;/a&gt;. Aku membayangkan jika aku menjadi kafka. Tapi sepertinya tetap lebih baik aku menjadi aku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kalau kamu, kamu ingin menjadi apa?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Biar aku tebak, kamu ingin menjadi kucing? Burung? Kupu-kupu? atau bunga di tepi tebing el capitan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tebakanku salah? Aku memang tidak pandai menebak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku juga tidak berniat benar-benar menebak. Aku hanya ingin membunuh waktu bersamamu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berapa lama lagi waktu kita? Entahlah&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Waktu itu fana.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kamu juga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ah, sial.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sendiri lagi.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Insomnia</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1501231/</link>
      <pubDate>Sun, 15 Jan 2023 01:32:04 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1501231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini karena susah tidur. Aku mencoba tidur tanpa meminum obat, ternyata aku gagal. Aku tidak bisa tidur tanpa meminum obat. Saat menulis ini, aku sudah minum obat yang memang sudah seharusnya aku minum. Setelah ini aku akan mencoba untuk tidur. Aku lelah, pegal, dan mengantuk. Kepalaku pusing. Tapi otak(atau pikiran)ku seakan menolak tidur. Kesadaranku tidak pernah mau hilang untuk sementara. Aku (yang entah ke berapa) kehilangan kendali atas pikiranku.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Que Sera Sera</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1201231/</link>
      <pubDate>Thu, 12 Jan 2023 23:14:45 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1201231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Menjelang minum obat, entah mengapa tiba-tiba aku ingin menulis. Meskipun aku sendiri tak tau ingin menulis apa. Aku hanya teringat ketika &lt;em&gt;scrolling&lt;/em&gt; di Twitter tadi, banyak orang sedang membahas anak seorang juragan tambang di kalimantan. Anak itu berumur 20 Tahun dan memiliki kekayaan sekitar 5 Triliun rupiah. Kekayaan yang sangat luar biasa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Orang-orang lalu membayangkan bagaimana kondisi mereka dibandingkan kondisi anak juragan tambang ini. Aku sendiri pun sama dengan orang-orang itu. Umurku 22 Tahun saat ini dan entah kekayaan apa yang aku punya. Aku punya 2000 rupiah, tapi tentu itu tidak bisa dibilang kaya. Bahkan tukang parkir bisa mendapatkan itu hanya dengan sekali tarik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Anehnya, aku merasa biasa saja dengan kondisi ini. Entah ini wajar atau tidak, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Barangkali jika Karl Marx hidup saat ini, ia akan marah-marah akibat distribusi kekayaan yang tidak merata. Ah, atau barangkali beliau juga akan bersikap sama denganku. Biasa Saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Biasa Saja. Barangkali itu jugalah yang dirasakan orang-orang lain. Kita sudah terlalu lelah dengan semua ketimpangan, ketidakmerataan, ketidakadilan, atau entah apa ini. Sangat lelah. Begitu lelah bahkan hanya untuk bermimpi. Yang tersisa hanya biasa saja. Menerima nasib dan menjalaninya. Terkadang ditambah mengeluh dan berandai-anda, namun dalam hati tetap biasa saja. &lt;em&gt;Que Sera Sera&lt;/em&gt;. Yang terjadi biarlah terjadi. &lt;em&gt;Amorfati.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Prek.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>080123</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0801231/</link>
      <pubDate>Sun, 08 Jan 2023 21:51:56 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0801231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Dalam sebuah novel yang entah apa judulnya(aku lupa), murakami menulis kalimat &amp;ldquo;&lt;em&gt;If something happens, it will happen. You don&amp;rsquo;t have to worry so much&lt;/em&gt;&amp;rdquo;. Setiap membaca kalimat itu, bayanganku mengawang pada sebuah adegan di Norwegian Wood(kalau tidak salah), di mana Toru dan Midori(kayaknya wkwkwk) berdiam di atas balkon, merokok, dan berdiam diri melihat api yang sedang membakar ruko sebelahnya dan bisa saja membakar mereka dalam sekejap. Kadang aku juga membayangkan adegan di mana Nabi Muhammad SAW ditodong pedang, Nabi Ibrahim di tengah api, atau Nabi Musa dan pengikutnya di tepi lautan. Keberanian, Ketenangan, Optimisme, sekaligus Kepasrahan. Sambil membayangan adegan-adegan tersebut, aku merasa barangkali hal-hal itulah yang selama ini hilang dari diriku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku tenggelam dalam ketakutan tak berhenti, kegelisahan, pesimisme, dan sikap kewaspadaan yang hanya membuat detak jantungku tak karuan, nafasku kacau, serta tubuhku gemetaran yang sialnya tak bisa aku kendalikan. Aku membenci diriku sendiri. Aku rindu diriku yang tak peduli apapun. Aku telah mencoba mengingat diriku yang dulu, namun tak ada perubahan yang berarti. Ketidakjelasan ini menelanku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku melawan ketidakjelasan itu dengan obat-obatan. Per malam ini, aku rasa sudah 150 hari aku menjadi peminum antidepresan. Fluoxetine, Maprotilin, Clobazam, Trihexyphenidyl, dan Risperidone. Aku bahkan hafal nama-namanya. Kata dokter, obat-obatan itu akan membantuku mengendalikan diri. Sejujurnya, aku sudah bosan dan jenuh, lagipula aku sudah bisa tidur. Karena itu, di bulan(atau tahun?) lalu, aku berbohong kepada dokter dengan mengatakan bahwa aku sudah baik-baik saja, aku bisa mengendalikan diriku. Sayangnya dokter tidak setuju, Ia menyuruhku tetap minum obat, setidaknya sebulan ke depan. Ketika menulis ini, aku sadar, sepertinya dokter benar. Bahkan dengan dibantu obat, aku tetap merasakan sensasi-senasi aneh yang tidak jelas itu. Entahlah. Rasa-rasanya aku ingin menyerah saja, tapi apa bedanya? &amp;ldquo;&lt;em&gt;If something happens, it will happen.&lt;/em&gt;&amp;rdquo;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Polemik PERPPU Cipta Kerja (Ditulis Oleh AI)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0401231/</link>
      <pubDate>Wed, 04 Jan 2023 23:27:46 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0401231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Indonesia sejak awal tahun 2020 semakin meningkatkan kebijakan untuk menanggulangi pandemi Covid 19. Salah satu kebijakan yang diambil adalah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) Cipta Kerja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;PERPPU Cipta Kerja merupakan peraturan pemerintah yang dikeluarkan untuk memberikan perlindungan dan penciptaan lapangan kerja di masa pandemi. PERPPU Cipta Kerja ditujukan untuk melindungi tenaga kerja dan para pemilik usaha serta mempermudah persyaratan tenaga kerja, upah minimum regional serta upah transportasi bagi pekerja yang banyak terdampak oleh pandemi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meskipun PERPPU Cipta Kerja ditujukan untuk menanggulangi dampak pandemi terhadap ekonomi dan ketenagakerjaan, namun hal ini lantas menimbulkan polemik. Pasalnya, beberapa universitas dan pelaku bisnis menganggap bahwa peraturan ini terlalu berlebihan dan bahkan menterjemahkan undang-undang secara tidak benar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa pihak menyatakan bahwa PERPPU Cipta Kerja lebih banyak menyediakan hak dan kesejahteraan bagi pengusaha, bukan tenaga kerja. Padahal, tujuan dari PERPPU Cipta Kerja adalah memberikan perlindungan bagi semua pihak yang terlibat. Pada kenyataannya, bagian negosiasi antara majikan dan buruh juga diatur di dalam PERPPU Cipta Kerja, sehingga hak-hak buruh juga dijamin oleh pemerintah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketegangan dan perdebatan terus terjadi di antara para pengusaha, tenaga kerja dan pemerintah mengenai intisari dari PERPPU Cipta Kerja. Akhirnya, pemerintah berjuang untuk menghubungkan perdebatan ini dengan cara memberikan penafsiran komprehensif mengenai makna dari setiap peraturan dalam PERPPU Cipta Kerja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pemerintah mengakhiri polemik tersebut dengan menyebutkan bahwa PERPPU Cipta Kerja ditujukan untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi semua pihak yang terlibat, termasuk buruh, pengusaha, dan pemerintah. Pemerintah juga menyederhanakan persyaratan tenaga kerja, upah minimum regional, dan upah transportasi bagi para pekerja yang banyak terdampak akibat pandemi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ndash;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Artikel di atas merupakan contoh artikel yang dibuat menggunakan &lt;a href=&#34;https://github.com/dalamjaringan/ArGen&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;Artikel Generator &lt;/a&gt; berbasis &lt;a href=&#34;https://github.com/openai/openai-python&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;OpenAI Library&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>010123</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0101231/</link>
      <pubDate>Sun, 01 Jan 2023 01:07:06 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0101231/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku menulis ini di tahun 2022, ketika selesai menulis tak terasa tahun sudah berubah menjadi 2023. Berganti begitu saja. Memang benar bukan? waktu itu fana. Tahun hanyalah angka. Umur juga. Kita (manusia) sendiri yang mengada-adakannya, dan kita pula yang kerepotan karenanya. Aneh sekali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku jadi teringat novel karya Genki Kawamura, kalau tidak salah novel itu berjudul &amp;ldquo;jika kucing lenyap dari dunia&amp;rdquo;. Dalam salah satu bagian novelnya, sang tokoh diberi kesempatan untuk melenyapkan beberapa hal di dunia ini sebagai ganti hidupnya yang akan berakhir. Sang tokoh kemudian mulai menghilangkan beberapa hal yang ada di dunia, salah satunya waktu, yang akibatnya sang tokoh menjadi kesulitan untuk membuat janji temu dengan temannya. Barangkali memang itu fungsi waktu, agar kita(manusia) bisa membuat janji temu dengan mudah. Selainnya? entahlah. Kalian tahu?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pada intinya, aku sedang tidak baik-baik saja dengan waktu. Karena waktu, kita seolah-olah terikat oleh jerat-jerat tak terlihat. Jam 7 harus sudah bangun. Jam 22 harus tidur. Tahun 2024 harus nyaleg. Desember harus seminar proposal. Umur 25 harus sudah memperbaiki dunia.  Bla bla bla&amp;hellip; Kita semua membuat dan menentukan batas-batas, lalu terhimpit olehnya. Kenapa tidak kita bebaskan saja?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terlepas dari pembahasan waktu yang tidak jelas di paragraf-paragraf sebelum ini, dalam tulisan kali ini sebenarnya aku ingin bercerita bahwa aku masih susah tidur. Padahal aku sudah diberi obat yang seharusnya membuatku segera tidur dalam beberapa menit setelah meminumnya. Sayangnya itu tidak terjadi. Aku masih terjaga hingga tengah malam, bahkan menjelang pagi. Aku seakan lupa bagaimana caranya tidur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ngomong-ngomong soal tidur, aku penasaran bagaimana kamu tidur? Apakah kamu bermimpi? Jujur saja aku telah lama kehilangan mimpi-mimpi, semuanya hanya gelap. Apakah memang begitu jika kelak kita tidur untuk selamanya?&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>281222</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2812221/</link>
      <pubDate>Wed, 28 Dec 2022 23:14:58 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2812221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini menjelang akhir bulan desember, akhir tahun 2022 Masehi, dan awalnya aku harap juga akan menjadi akhir dari rutinitasku bertemu ibu psikiater yang sayangnya tidak. Beliau masih mewajibkanku meminum obat dan menemuinya tiap satu bulan sekali selama beberapa bulan lagi ke depan. Aku tidak keberatan. Sejujurnya aku sudah tidak peduli. Aku juga sudah terbiasa dengan rumah sakit. Aku telah sanggup melihat orang-orang sakit sebagai hal yang normal. Barangkali sesungguhnya manusia adalah makhluk-makhluk yang sakit. Sakit dalam tafsiran apapun.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ngomong-ngomong soal sakit, akhir tahun ini aku menemukan banyak kelakuan manusia-manusia &amp;ldquo;sakit&amp;rdquo; yang luar biasa. Mulai dari kasus jendral yang &amp;ldquo;itu&amp;rdquo;, Pengesahan undang-undang yang &amp;ldquo;itu&amp;rdquo;, sampai orang &lt;em&gt;freak&lt;/em&gt; yang membunuh rata keluarganya. Ah iya, belakangan bahkan aku menemukan orang sakit lain yang berselingkuh dengan ibu mertuanya, hingga orang biadab yang memperkosa ibu dan saudari kandungnya. Benar-benar di luar nalar. Melihat cuaca yang mulai tidak menentu juga beberapa fenomena alam yang terjadi,  aku sempat berpikiran apakah ini saatnya kita melihat(atau apesnya ikut merasakan) hukuman dari Tuhan yang di luar nalar juga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku jadi sering membayangkan kisah-kisah lampau seperti soddom-gomora, banjir nabi nuh, atau hujan meteor era dinosaurus(gatau beneran apa kaga, tapi ngeri juga kalau kejadian). Terkadang bayangan-bayanganku soal bencana juga tercampur kisah-kisah &lt;em&gt;sci-fi&lt;/em&gt; seperti dalam film The Day After Tomorrow, 2012, bahkan series drakor All of Us are Dead. Barangkali bayanganku terlalu liar, tapi melihat keliaran-keliaran para-orang-sakit yang tadi aku ceritakan, sepertinya bayanganku menjadi wajar-wajar saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku juga sering menduga, apa bayangan itu yang membuatku berkutat dengan gelisah tak beraturan? sepertinya tidak. Aku pernah mencoba tak membayangkan apapun dan aku tetap gelisah. Aku bahkan tidur dengan gelisah. Terkadang aku membayangkan bagaimana jika aku mati. Apakah aku akan menemui cahaya terang seperti di sinetron-sinetron negara kita? atau sebaliknya, aku hanya menemui gelap dan dingin. sepi. hening. Aku sering bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya. Sayangnya jika aku mencobanya, aku tak akan sanggup menulis dan menceritakannya. Barangkali pengalaman mati tiap orang beda-beda, toh tak ada yang pernah bisa bercerita dan membandingkan satu sama lain bukan? Aku juga masih punya beberapa hutang dan tugas yang harus diselesaikan, jadi kurasa aku tidak akan mencoba bagaimana rasanya mati dalam waktu dekat-dekat ini(kecuali jika mati itu sendiri yang mendatangiku, mau gimana lagi yekan wkwkwk).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ngomong-ngomong soal hutang, tulisan ini juga salah satu bentuk membayar hutang. Setidaknya hutang kepada diriku sendiri. Aku pernah berjanji untuk menulis setiap hari, sayangnya di beberapa bulan terakhir ini aku tak sanggup memenuhi janji itu. Payah memang. Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Mulai bagaimana aku mencoba berjudi hingga terlilit hutang (aku tahu ini bodoh, tapi ini pengalaman yang menyenangkan wkwkwk), Seperti apa 2 mamalia baru yang kini tinggal serumah denganku, hingga bagaimana perkembanganku mengerjakan skripsi yang menurutku semakin ke sini malah semakin ke sana alias buat apaaa???? Kita tak memberi kontribusi apa-apa, kita takkan berarti apa-apa~&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dahlah, sebelum menulis tulisan ini aku sudah meminum obat yang seharusnya membuatku mengantuk dan lekas bermimpi. Anehnya aku masih belum merasakan kantuk. Hanya detak jantung yang kurasa mulai melemah. Juga keberanianku untuk mendekatimu. xixixi&amp;hellip;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Btw,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lovyu&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Gregor (2)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0912223/</link>
      <pubDate>Fri, 09 Dec 2022 15:11:16 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0912223/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Once there was a man named Gregor who lived in a small apartment in the city. He worked as a clerk at a large corporation, but he felt trapped and unfulfilled in his job. One day, as he was getting ready for work, he was suddenly transformed into a giant insect.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;At first, Gregor was horrified by his transformation, but he soon realized that he could use his new abilities to escape from his mundane life. He crawled out of his apartment and made his way to the corporation where he worked. But no one seemed to notice or care that he was now an insect.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Feeling more and more isolated, Gregor decided to leave the corporation and explore the city. But no matter where he went, he was met with indifference and confusion. People would either ignore him or try to swat him away like a nuisance. Gregor began to feel like a stranger in his own city, trapped in a Kafkaesque nightmare.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;As he wandered the city, Gregor came across a strange man named Toru who was searching for his missing wife, Kumiko. Toru had been hearing a mysterious wind-up bird calling to him from deep within the city. He believed that the bird held the key to finding Kumiko.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Gregor joined Toru on his search for the wind-up bird, and together they journeyed through the city, encountering strange and surreal occurrences along the way. They met a woman named Creta who claimed to have the ability to see into the future, and a man named Mr. Honda who was obsessed with bird watching.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;As they continued on their quest, Gregor and Toru discovered that the wind-up bird was not the only creature that had undergone a transformation in the city. They encountered other insects and animals that had become something more than they were before.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;In the end, Gregor and Toru found the wind-up bird, but they also discovered that their search had been a journey of self-discovery. They had each been transformed in their own way, and they realized that they were no longer the same people they had once been.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;The wind-up bird sang its eerie song, and Gregor and Toru knew that they had found their place in the world, no longer trapped by the Kafkaesque nightmare that had once consumed them.&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;written by &lt;a href=&#34;https://openai.com/&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;OpenAI&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Gregor (1)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0912222/</link>
      <pubDate>Fri, 09 Dec 2022 15:11:11 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0912222/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Once there was a man named Gregor who lived in a small apartment in the city. He worked as a clerk at a large corporation, but he felt trapped and unfulfilled in his job. One day, as he was getting ready for work, he was suddenly transformed into a giant insect. At first, Gregor was horrified by his transformation, but he soon realized that he could use his new abilities to escape from his mundane life.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Gregor crawled out of his apartment and made his way to the corporation where he worked. He was shocked to find that no one seemed to notice or care that he was now an insect. He tried to explain what had happened to him, but his coworkers just stared at him blankly and continued with their work.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Feeling more and more isolated, Gregor decided to leave the corporation and explore the city. But no matter where he went, he was met with indifference and confusion. People would either ignore him or try to swat him away like a nuisance. Gregor began to feel like a stranger in his own city, trapped in a Kafkaesque nightmare.
As the days went by, Gregor found himself becoming more and more isolated and alone. He no longer felt like he belonged anywhere, and he began to question his own identity and sanity. In the end, Gregor was forced to confront the bleak and surreal reality of his situation, trapped in a world that no longer seemed to have any place for him.&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;written by &lt;a href=&#34;[OpenAI]%28https://openai.com/%29&#34;&gt;OpenAI&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>a short story about John</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0912221/</link>
      <pubDate>Fri, 09 Dec 2022 14:59:48 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0912221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;As the sun rose over the city, John slowly made his way to the bus stop. It was a routine he had followed for years, but today something felt off. As he waited for the bus, he couldn&amp;rsquo;t shake the feeling that he was being watched. When the bus finally arrived, John boarded and took his usual seat near the back. But as the bus pulled away from the stop, he realized that no one else was on board.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Confused and more than a little concerned, John got off the bus at the next stop and made his way to his office. But when he arrived, he found that the building was abandoned and crumbling. He wandered the empty corridors, feeling more and more lost and alone.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;As the day wore on, John found himself trapped in a series of increasingly strange and inexplicable situations. He was followed by mysterious figures, harassed by inexplicable voices, and confronted by impossible obstacles. He felt as though he was caught in some kind of nightmarish maze, with no way out and no one to turn to for help.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;At last, exhausted and on the verge of despair, John collapsed in the middle of a deserted street. As he lay there, he realized that he had been trapped in a Kafkaesque world, one that was controlled by unseen, unfathomable forces. And as he drifted into unconsciousness, he knew that he would never escape.&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;written by &lt;a href=&#34;[OpenAI]%28https://openai.com/%29&#34;&gt;OpenAI&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Aku, Kamu</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0812221/</link>
      <pubDate>Thu, 08 Dec 2022 21:29:53 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0812221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku mau kamu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;kamu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;aku&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mau&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>311022</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/3110221/</link>
      <pubDate>Mon, 31 Oct 2022 11:32:13 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/3110221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Tulisan ini seharusnya rilis di tanggal 31 bulan kemarin, tapi aku pusing dan bingung. Aku ingin menulis tapi aku sendiri bingung ingin menulis apa. Tadinya aku merasa bebas bercerita, namun kali ini tidak lagi. Entah mengapa. Aku ingin bercerita tapi tak bisa. Kata-kata hilang begitu saja dari otakku. Aku sudah berhenti minum obat untuk tidur. Aku sudah berhenti untuk mengharapkan apapun. Aku sudah berhenti mencintaimu. Aku sudah berhenti untuk hidup, namun tak juga mati. Aku masih punya hutang. Ia harus dibayar lunas. Aku juga belum memulai menulis skripsi. Aku benci semuanya yang mengharuskanku. Aku ingin bebas. Aku ingin terbang. Biarkan aku dalam ketiadaan. Biarkan aku hilang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;To live is to suffer but to survive is to find some meaning in the suffering, and I&amp;rsquo;ve got nothing.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>221022</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2210221/</link>
      <pubDate>Sat, 22 Oct 2022 19:43:31 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2210221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sudah lama sekali aku tidak menulis. Sebenarnya ada banyak hal yang dapat aku tulis, tapi aku tak punya waktu. Ah, lagi-lagi waktu. Padahal tak ada waktu, yang ada adalah entropi yang selalu berjalan ke depan. Tapi lupakan, apapun itu pada intinya aku telah lama tidak menulis dan kali ini aku ingin menulis.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku telah memasuki tahap akhir kuliah S1. Aku sedang mengerjakan skripsi. Sebenarnya seharusnya sudah kumulai dari jauh-jauh hari, tapi ya itu tadi, aku tak punya waktu. waktu oh waktu. asu. ahsudahlah, aku akui aku pemalas. Eh, tapi tidak juga, aku tidak sebodoamat itu(meskipun aku sebenarnya ingin sebodoamat itu). Aku selalu terpikirkan. Otakku tidak dapat kukendalikan. Ia bertindak semaunya. Bajingan. Aku frustasi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa hari yang lalu aku kembali menemui psikiater. Katanya aku sudah boleh mengurangi obatku. Tapi aku harus masih kembali menemuinya tiap bulan. Entah sampai kapan. Aku merasa aku baik-baik saja. Jantungku sering berdetak tak karuan memang, tapi bukankah itu lebih baik daripada tak berdetak sama sekali? atau sebaliknya? lebih baik aku mati? Ah tapi tidak dulu. Aku masih punya hutang. Tidak seberapa memang, tapi seperti dendam, hutang harus dibayar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ngomong-ngomong soal hutang dan dendam. Aku benci sekali pada mereka-mereka pemberi hutang dengan bunga tak masuk akal. Mereka bukan lintah darat. Mereka bangsat, bajingan, penghuni neraka paling dalam. Jika Tuhan berkenan, aku bahkan ingin agar mereka abadi dalam penderitaan. Mampus kalian dikoyak-koyak dendam. Aku mendengar dan melihat langsung bagaimana tingkah mereka membuat susah orang yang bahkan sudah susah sejak sedari awal. Aku ingin menolong, tapi aku sangat payah dan tak punya apa-apa.  Yang tersisa hanya amarah dan dendam, yang akan aku bayarkan lunas setiap ada kesempatan. Jika hukum tak lagi berlaku, aku bersedia melepas moral dan bermandikan dosa untuk menyiksa tiap-tiap mereka. Arrrgh&amp;hellip; Pokoknya &lt;em&gt;Bank Plecit&lt;/em&gt; tai. Kalian tak pantas mati dengan tenang. Kalian harus menderita. Selamanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Begitu pula kalian &lt;em&gt;so called&lt;/em&gt; aktivis kampus yang buta, bisu, dan tuli. Ah, kalian masih boleh mati dengan tenang memang. Tetapi  kalian sama busuknya. Berteriak-teriak bagai pahwalan. Berkelana ke sana-sini atas nama perjuangan. Berretorika dalam ruang-ruang hotel dan gedung pertemuan, lalu menikmati perjamuan. Sibuk ber &lt;em&gt;make up&lt;/em&gt; dan bermain peran. Sementara beberapa mahasiswa lain kelimpungan karena tak lagi sanggup bayar UKT. Tak bisa kuliah karena tak lagi punya orang tua, atau barangkali terancam pupus harapan karena kesalahan administrasi kampus. Kalian tak pedulikan itu karena kalian sibuk mengejar &lt;em&gt;credit score&lt;/em&gt;, popularitas, koneksi strategis, sambil menjilat pantat birokrat kampus atau bahkan negara. Cuih. Menjijikan. Lupakan saja teriakan-teriakan berisikmu itu kawan! rekan sejawatmu butuh bantuan! tak usah lagi teriak-teriak hidup mahasiswa, hidup rakyat indonesia! yang kalian pedulikan hanya &lt;em&gt;curriculum vitae&lt;/em&gt; yang cemerlang dan norak belaka. Oh, tapi kalian masih boleh menyebut diri kalian organisator, sebab memang hanya itu yang kalian bisa bukan? Badan Event Mahasiswa. Atau Dewan Penakhluk Mahasiswa/i? wkwkwk&amp;hellip;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ngomong-ngomong, barangkali aku juga sama buta, bisu, dan tulinya. &lt;em&gt;Ah shit.&lt;/em&gt; Ampuni aku Tuhan.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>151022</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1510221/</link>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 22:33:13 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1510221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Di dunia batas&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku terhempas hujan dan kenangan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan sepenggalan sisa&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Egoku untuk bersamamu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;yang kini tewas&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Padam dan membeku&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ia ditebas kesadaran&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bahwa cinta adalah kebebasan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Biarkan ia terbang, meski dalam ketiadaan&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;~ Magelang-Purworejo, 2022&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>PLP</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1210221/</link>
      <pubDate>Wed, 12 Oct 2022 22:09:04 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1210221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Sebenarnya aku sudah ingin menulis ini sejak lama, namun apa daya aku lupa(yap, aku memang pelupa) dan entah mengapa aku tidak mendapat kesempatan untuk menulis. Kali ini aku punya kesempatan untuk menulis, namun sialnya aku lupa apa yang akan aku tulis. Hidup memang sering tidak berjalan sesuai rencana bukan? &lt;em&gt;but show must go on&lt;/em&gt; , mau tidak mau hidup harus terus berjalan, karena itu aku tulis saja tulisan ini. Apa yang akan aku ceritakan? entah. Baca saja sampai akhir.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ingin bercerita soal PLP. Apa itu PLP? cari tahu sendiri. Nah itulah PLP. Aku mendapat tempat PLP di sekolahku dulu. Aku bertemu dengan guru-guruku kembali. Rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Aku juga mendapat beberapa kawan baru, dan aku sudah hafal nama kalian semua gaes. Aku tidak akan menyebutkan satu persatu di sini, sebab untuk apa, toh aku sudah hafal. Selain itu semua, aku berkesempatan untuk belajar bersama adik-adik(atau murid)ku. Mereka semua sangat beragam dan menyenangkan. Aku tentu tidak bisa menghafal nama dan karakter mereka satu persatu(1 Bulan, 6 kelas, ratusan siswa, MANA MUNGKIN COY?!). Aku hafal beberapa dari mereka, tapi sekali lagi, aku tidak akan menyebutkan satu persatu di sini. Aku sudah hafal. Namun, itupun hanya segelintir. Tulisan ini akan berakhir sangat singkat jika aku hanya bercerita soal mereka saja. Jadi, meskipun aku tahu aku seharusnya tidak menggenalisir sifat atau karakter individu perorangan dengan kelompok perkelas, persetan saja dengan semua itu. Aku akan menceritakan kesanku ketika belajar bersama adik-adik(atau murid)ku tiap kelas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;XI IPS 1&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pertama masuk kelas ini, aku lewat pintu(tentu saja). Seperti rumor yang aku dengar dari guru-guru, kelas ini sangat aktif dan kritis. Ketika presentasi dan tanya jawab, sekitar 3/4 siswa di kelas ini aktif melontarkan maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis. Begitupun ketika aku mengajar, mereka tidak segan-segan mempertanyakan dan menggugat setiap pernyataan yang aku keluarkan. Aku merasa menjadi sokrates. Aku bahagia. Ah, seandainya semua anggota Dewan Perwakilan adalah manusia seperti kalian-kalian ini, tentu semuanya akan menyenangkan. Kepada kalian semua makhluk penghuni kelas XI IPS 1, kalian sangat luar biasa. Pertahankan semangat kalian. Kelak, tolong gantikan orang-orang yang sekarang menjadi anggota Dewan Perwakilan itu, mereka tidak bermutu. lovyu yolipsichi&amp;hellip;.!!!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;XI IPS 2&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Entah kata apa yang sanggup menggambarkan kesanku ketika masuk ke kelas ini. Kelas yang luar biasa(kelas macam apa yang menjual risol, sate kentang, susu kedelai, nasi padang dan terima rosok?!!). Aku merasa bertemu kawan lama. Aku sempat beberapa kali berkumpul bersama murid-murid penguni kelas ini di luar jam pelajaran dan kurasa aku belum terlalu tua untuk mengobrol dan bercanda dengan mereka. Entah aku yang memang masih muda atau kalian yang menua sebelum waktunya(ini bercanda, jangan tersinggung). Pada intinya, kalian menyenangkan. Aku rasa negara ini sangat beruntung memiliki penduduk dan generasi penerus seperti kalian. Negara ini akan bahagia. Aku berencana akan mengucapkan aku sayang kalian, tapi hubungan kita baru terjalin satu bulan. Aku baru jatuh cinta pada kalian.  Rawat terus kebahagiaan kalian. Jangan lupa makan. Jaga kesehatan. Aku bersyukur pernah bertemu kalian. Sungguh. Jangan lupakan aku. Mari kita lanjutkan hubungan ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;XI IPS 3&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seperti dulu, kelas ini terletak di pojok, seakan terisolasi dari kelas lainnya. Aku pernah berada dalam kelas dengan kondisi yang sama. Aku tahu rasanya. Aku bangga kalian masih sanggup mengumpulkan semangat untuk pergi ke kantin. Terus pertahankan semangat itu, sebab kantin adalah kunci kehidupan. Tanpa kantin, sekolah hanya sekedar sekolah. Kantin adalah ruang publik yang harus dijaga, dan mengunjunginya secara rutin adalah bentuk penjagaan terbaik. Mewakili kantin sekolah, aku sangat berterima kasih kepada kalian. Tolong terus kunjungi kantin. Roda perekonomian republik ini harus berputar. Belanjakan uang kalian. Sejahterakan &lt;em&gt;mboke&lt;/em&gt; dan rekan-rekan! Hidup siswa-siswi XI IPS 3 yang tetap jajan!!!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;XI IPS 4&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;JIka ada satu kata yang harus diucapkan untuk menggambarkan kelas ini, aku akan mengucapkan kata &lt;strong&gt;&amp;ldquo;PEH&amp;rdquo;&lt;/strong&gt;. Kelas ini sangat penuh dengan semangat dan energi. Ketika pelajaran, hampir 3/4 siswa kelas ini aktif dan berbicara. Bahkan saling debat sesama mereka. Penghuni kelas ini juga sangat kreatif dan pemberani. Aku seperti melihat kelas XI IPS 4 zamanku dulu. Kepada kalian penghuni kelas XI IPS 4, ingat obrolan kita ketika itu, tunjukkan di akhir!!! &lt;em&gt;OJo slenco lurrr&amp;hellip;!!!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;X - 1&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kelas ini seperti indonesia, penduduknya sangat beragam. Muda, Aktif, dan Lucu. Kalian seperti kucing kecil. Aku tidak akan banyak bercerita soal kalian. Keunikan kalian harus dilihat dan dirasakan langsung.  Aku hanya berharap yang terbaik untuk kalian. Jangan terlalu pusingkan hari depan. Waktu itu fana. Jalani hidup kalian saat ini sebahagia mungkin. Nikmati serunya rasa penasaran dan kesal ketika belajar. Apapun itu. Ohiya, tapi ingat. Seperti kata Jason Ranti, Nakal boleh, Jahat jangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;X - 2&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ingin bercerita banyak soal kelas ini, tapi aku sudah mengantuk. Doa dan harapan baik untuk penduduk kelas ini. Jangan lupa mandi. Jangan takut bertanya. Jangan lompat dari jendela, sekolah sudah menyertakan pintu di bangunan kelas kalian, tolong hargai itu. Tetap semangat, jalan kalian masih panjang. Jalan kalian adalah milik kalian sendiri. Jalanilah sebaik mungkin. sepuas mungkin. Karena hidup adalah tempat sejuta(kurang lebih) mungkin. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya X-2..!!!&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>041022</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0410221/</link>
      <pubDate>Tue, 04 Oct 2022 23:50:38 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0410221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku kangen menulis, maka aku menulis tulisan ini. Aku menulis dalam kondisi mengantuk dan lelah. Aku juga sedang dalam pengaruh obat. Aku tidak berpikiran ingin menulis apa, jari-jariku kubiarkan mengetuk keyboard laptop semaunya. Aku sedang tidak dalam kondisi apa-apa. Aku tak merasa hidup namun tak juga mati. Aku merasa kosong. Barangkali aku terlalu terbawa lagu-lagu jason ranti yang belakangan ini menjadi playlist rutinku menjelang tidur. Sialnya, akun spotifyku tiba-tiba habis malam ini. Ah shit.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku juga baru saja menguninstall twitter dari ponselku. Berbagai berita dan isu yang muncul membuatku tak nyaman. Video-video kucing lucu pun tak lagi mampu menghiburku. Tragedi kanjuruhan yang menjadi trending belakangan ini barangkali mentriggerku. Siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa yang boleh seenaknya mengambil hidup makhluk lain? Tanpa pesan, tanpa pemberitahuan. Tuhan? Aku jadi terpikir tentang rencanaku di masa lalu untuk menggugat Tuhan, namun siapalah diriku. Toh sepertinya di pengadilan Tuhan tidak ada pengacara. Kalaupun ada juga entah dengan apa aku sanggup membayarnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seharian tadi aku mengajar dan mendapat pesan-pesan dari anak-anak(atau murid)ku. Terasa menyenangkan. Aku suka kalian. Semoga hidup kalian menyenangkan. Ada beberapa pesan yang mengingatkanku soal impian. Ah, andai kau tahu dik, mimpiku telah lama mati. Ia bunuh diri. Entah sudah berapa ratus malam yang aku temui hanya gelap. Kegelapan yang tak terasa. Sunyi. Tenang. Kemudian aku terbangun dan menjalani repetisi hidup.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa juga memberiku ucapan semangat dan doa agar aku sembuh dari sakit. Aku tidak pernah merasa sakit, meski aku tiap hari masih harus minum berbagai macam obat. Menurutku itu bukan apa-apa. Aku masih sanggup melinting tembakau dan menulis puisi. Aku baik-baik saja. Soal hal lain, entah mengapa aku kehilangan minat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebelum menulis ini aku juga baru saja keluar untuk melihat langit. Sayangnya tidak ada bulan di sana. Hanya ada bintang-bintang. Aku rindu bulan. Aku sering mengabaikannya, tapi malam ini entah mengapa aku ingin bulan. Aku ingin memiliknya untukku sendiri. Mungkin atau tidak, aku tidak peduli. Aku sudah lelah memikirkan berbagai kemungkinan. Biarlah yang akan terjadi agar terjadi begitu saja. &lt;em&gt;Prek.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa hari lalu aku mencoba berjudi. Aku mendapat uang dan kehilangan uang dalam waktu singkat. Bagiku itu menyenangkan dan lucu. Atau barangkali absurd. Mengundi nasib dan keberuntungan. Bukankah setiap hari kita juga hanya mengundi kemungkinan-kemungkinan? Kita adalah para penjudi kehidupan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ingin bercerita banyak hal. Tapi aku bingung. Ah barangkali aku tidak ingin bercerita, yang aku ingin adalah mendengar ceritamu. Hanya itu. Sisanya kita pikirkan nanti. Mencintaimu? sepertinya sudah tidak lagi. Aku lebih mencintai ketiadaan. Hutangku sudah lunas dan aku sudah mengantuk. Aku ingin tidur setelah menulis tulisan tidak jelas ini. Aku ingin menjumpai kegelapan. Siapa tahu aku bisa bersemayam di sana.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi siapapun yang membaca tulisan ini, ketahuilah kalian telah membuang-buang waktu. Namun waktu itu fana, jadi silahkan dibaca kembali. Tidak jelas memang. bye.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Keterlaluan</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/3009221/</link>
      <pubDate>Fri, 30 Sep 2022 17:28:36 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/3009221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;berdoa tiap senin, Lalu berdosa hingga kamis&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bertobat di Hari jum’at&lt;br&gt;
setelahnya bermaksiat hingga ahad&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tuhan, kuakui Aku bangsat. kupisuhi diriku setiap sholat. itupun jika ingat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tapi Tuhan, Aku tahu diri.&lt;br&gt;
Tak kuminta diriku di surga tertinggi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku Hanya memohon kebal di neraka, atau setidaknya mati rasa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebab, sumpah, Tuhan.&lt;br&gt;
Aku lemah&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;&amp;ndash; Magelang, 20 Feb 2020&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Pushenk</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2909221/</link>
      <pubDate>Thu, 29 Sep 2022 19:57:17 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2909221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku menulis ini sambil berbaring dan setengah sadar. Kepalaku sakit sejak siang tadi. Rasanya &lt;em&gt;Nyut-nyutan&lt;/em&gt; tidak karuan. Sakit sekali. Aku tidak tahu kenapa. Semuanya terasa normal hingga siang tadi. Lalu tiba-tiba kepalaku sakit, dan rasa sakit itu bertahan hingga sekarang. Aku menduga, barangkali karena tadi pagi aku lupa minum obat. Sialnya itu semua hanya dugaan, aku tidak tahu apakah dugaanku valid atau tidak, yang valid dan nyata adalah kepalaku sakit. Aku sudah makan. Aku sudah minum obat. Aku sudah buang air. Aku juga masih bernafas. Aku masih hidup. Hanya saja aku tidak baik-baik saja, sakit ini benar-benar sakit. Tidak enak sekali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ada yang bilang bahwa sakit itu menghapus dosa. Aku mengakui bahwa aku memang penuh dosa, semoga sakit ini sepadan, hapus semua dosaku Tuhan. aaammiiiin. Kalau pun tidak, &lt;em&gt;yowis&lt;/em&gt;, toh siapalah diriku ini, cuma hambaMu. Aku manut saja. Hanya saja kalau boleh curhat, INI SAKIT BANGET YA RABB. dah, gitu saja. Aku yakin Tuhan maha mengetahui. Aku menulis di sini untuk kepuasan diriku saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sudah tidak memikirkan apapun(gimana mau mikir, pusheenk luuuurrrr&amp;hellip;). Aku tidak pernah keberatan untuk mati kapan saja. Hanya saja, sialnya aku masih punya hutang. Aku hutang traktir makan pada linggar. Siapapun yang membaca tulisan ini, semoga berkenan mengingatkan ahli warisku(atau linggar) untuk membayar atau mengikhlaskan hutangku. Bukan apa-apa, aku cuma &lt;em&gt;rikuh&lt;/em&gt; saja. Urusan tagih menagih di akhirat mah bodoamat, itu urusan malaikat(kayaknya).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pada intinya, aku pusing. Aku mau tidur. Aku masih punya hutang. Semoga aku bisa tidur dan esok bisa bangun kembali. kalaupun tidak, yasudah. bye. Aku duluan yaa&amp;hellip; Baik-baik kalian. &lt;em&gt;Lovyu&amp;hellip;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Semak Belukar</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2709221/</link>
      <pubDate>Tue, 27 Sep 2022 22:30:32 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2709221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Ditanam oleh entah siapa&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;atau apa&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dibesarkan alam&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;di batas terang dan padam&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;di tepian kali&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;di pinggir jalan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;di sisa zaman&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hijau dan menua&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dalam diam&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dalam khusyuk kesendirian&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;di sudut-sudut terabaikan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;menebar kehidupan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hingga mati terlupakan&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>PLP, Skripshit, dan Kerinduan</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2409221/</link>
      <pubDate>Sat, 24 Sep 2022 13:49:32 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2409221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini entah sudah hari ke berapa aku melaksanakan PLP. Semuanya terasa menyenangkan dan berjalan lancar. namun, entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa aneh dan ada yang kurang. Aku merasa gelisah. Aku didera kecemasan yang &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt;. Barangkali karena ini sudah menjelang akhir.  Tanpa sadar otakku memikirkan dan mengkhawatirkan hal yang sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku seakan kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. &lt;em&gt;Faking shit&lt;/em&gt; memang. Babi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku juga menduga barangkali kecemasanku muncul kembali karena sudah diminta judul skripsi. Seharusnya mudah saja. Aku hanya perlu membaca dan menemukannya. Hanya saja egoku menuntutku untuk memilih judul yang unik dan memiliki kebaruan. Sebuah ketidakperluan yang aku sadar hanya menyulitkan diriku sendiri, tapi ya itu tadi, aku seakan kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. Cepat lulus dengan skripsi seadanya atau berkutat dengan fafifuwasweswos demi ego sendiri. Aku terjebak dilema. Aku menulis ini sambil merenung, dan kesimpulan yang aku dapat adalah aku merindukanmu. Iya, Kamu. Tak bisakah kita bertemu barang sejenak? Kita bisa menangis bersama. Menangis bersamamu adalah ego terbesarku. Barangkali dengan begitu aku dan kamu bisa melupakan kecemasan &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt; yang mendera. Meski hanya sementara.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sampai saat ini aku masih rutin minum obat. Aku juga rutin sambat, dan tak lupa membakar beberapa batang lintingan tembakau tiap hari. Aku masih hidup. Aku masih merindukanmu. Mari bertemu.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>CINTA (2)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2209221/</link>
      <pubDate>Thu, 22 Sep 2022 15:01:27 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2209221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Ini cinta, setumpuk rasa tanpa pola&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;sebongkah indah, tanpa denah&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia absurd, tidak objektif, dan barangkali fiktif&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia tidak rasional, labil, sangat emosional&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia tanpa pendahuluan, alasan, atau penjelasan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia tidak terukur, ternilai atau terkekang pada bentuk nominal&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia bukan hubungan transaksional&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia bukan aku mencintaimu lalu kamu mencintaiku&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia tidak perlu deklarasi, proklamasi, atau janji mengikat diri sehidup semati&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia bukan aku mengunjungimu seminggu sekali, lalu kita makan sambil sesekali bercanda&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia juga bukan tentang aku dan kamu saling mengirimkan doa
ataupun tentang aku dan kamu yang bertukar cerita&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia di batas tiada&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mendebarkan sejak dari semula&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;menghidupkan sejak dari adanya&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Terjebak di Rembulan</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2109221/</link>
      <pubDate>Wed, 21 Sep 2022 17:48:56 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2109221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku mengawang-awang, di tengah antara melangkah dan terbang. Aku di kehampaan. Aku di kebimbangan. Titik keseimbangan. Pertengahan. Zona kejenuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku berhasil terbang,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;lepas dari bumi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun kini terjebak di rembulan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ingin berdiam. Mengubah jerat menjadi habitat. Mendiami kesendirian. Aku tidak peduli Amstrong dan Aldrin pernah kemari, atau beberapa menyebut itu konspirasi. Begitu pula dengan oksigen dan gravitasi. Persetan saja. Aku telah kehilangan diri. Aku mengulang nyanyi-nyanyi farid stevy,&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Nyala takkan terlalu lama&lt;br&gt;
Padam akan datang lebih segera&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika harus jadi maka jadilah&lt;br&gt;
Jika harus mati maka matilah&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Terjebak di rembulan. Terjebak dalam ketiadaan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku menantimu,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lepas aku, atau biarkan aku mendekapmu.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Mencoba Hugo di Windows</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2009221/</link>
      <pubDate>Tue, 20 Sep 2022 00:14:47 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2009221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sudah lama sekali aku tidak menulis. Ada banyak hal yang menjadi penyebab. Salah satu sebab utamanya adalah aku berganti &lt;em&gt;environment&lt;/em&gt; , dari &lt;em&gt;linux/unix-like os based&lt;/em&gt; ke Windows 10. Awalnya aku memang suka berganti-ganti sistem operasi tanpa pikir panjang, sebab semua dataku tidak pernah aku simpan di ssd internal, namun aku baru sadar jika aku belum pernah membangun sebuah website dari sistem operasi windows, termasuk menggunakan Hugo, &lt;em&gt;framework&lt;/em&gt; jurnal-harianku ini. Perpindahan teknis ini membuatku harus kembali belajar dan men&lt;em&gt;set-up&lt;/em&gt; ulang semua konfigurasi Hugo yang sudah ada. Ternyata menjalankan Hugo di Windows memang serumit itu, tapi di situlah serunya bukan? dorongan untuk mencoba dan belajar hal baru. Pada akhirnya, jika kalian membaca tulisan ini, berarti aku telah sukses menjalankan Hugo di Windows dan aku(semoga) akan kembali rutin menulis. Terima Kasih.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>070922</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0709221/</link>
      <pubDate>Wed, 07 Sep 2022 05:25:10 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0709221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai, Sudah sangat lama aku tidak bercerita. Aku sempat &lt;em&gt;&lt;a href=&#34;https://en.wikipedia.org/wiki/Relapse&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;relapse&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, namun kini aku sudah baik-baik saja. Ah tidak, barangkali selamanya aku memang baik-baik saja. Tak ada yang perlu ditakuti atau dicemaskan, sebab semua sama saja. Sedih dan Senang adalah fana. Cintaku padanya pun tak abadi. Keabadian hanya omong kosong Sapardi, dan beliau sudah mati(Semoga beliau tenang dalam damai).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku kini sudah tak lagi KKN. Aku menempuh tahap baru bernama &lt;a href=&#34;https://www.google.com/search?q=pengenalan&amp;#43;lapangan&amp;#43;persekolahan&amp;amp;sxsrf=ALiCzsZS1IJok44sUO_8hYxmOv6fREOPew:1662512104920&amp;amp;ei=6OsXY8nqN8OJz7sP6omewAE&amp;amp;start=10&amp;amp;sa=N&amp;amp;ved=2ahUKEwjJ_sqbvIH6AhXDxHMBHeqEBxgQ8NMDegQIARBO&amp;amp;cshid=1662512199281830&amp;amp;biw=1282&amp;amp;bih=642&amp;amp;dpr=1&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;PLP&lt;/a&gt;. Apa itu? entahlah. Bodoamat dengan urusan duniawi. Aku hanya ingin menikmati apapun, dan dalam PLP ini aku menikmatinya sebagai sarana nostalgia dan bertemu dengan guru-guruku. Orangtua keduaku. Bertemu dan bersalaman dengan mereka memberiku daya hidup baru. Aku bisa saja mati kapanpun, dan daya hidup ini memberiku keinginan melawan, &lt;strong&gt;Aku Mau Terus Hidup&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku pernah dengar bahwa hidup hanyalah permainan. Setiap makhluk hidup menikmati permainan. &lt;em&gt;Homo Ludens&lt;/em&gt;, manusia adalah makhluk bermain. Aku mencoba menjadi pemain sejati. Seperti dalam &lt;em&gt;The Gambler&lt;/em&gt; nya &lt;a href=&#34;https://en.wikipedia.org/wiki/Fyodor_Dostoevsky&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;Dostoevsky&lt;/a&gt;, bermain bukan tentang menang atau kalah, sebab keduanya memberikan kenikmatan yang sama. Aku boleh di atas atau di bawah. Takdir boleh terus berputar dan bertukar. Tapi aku adalah pemain. Aku menikmati segalanya tanpa tawar.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>250822</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2508221/</link>
      <pubDate>Thu, 25 Aug 2022 15:09:40 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2508221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai,&lt;br&gt;
Beberapa waktu tidak menulis(atau mengetik) membuatku sedikit bingung apa dan bagaimana menulis. Aku jadi sedikit paham mengapa banyak pekerja konten(&lt;em&gt;content creator&lt;/em&gt;) yang stress dan frustasi, ternyata memang memikirkan konten apa yang akan kita hasilkan cukup membuat stress. Ah, tapi sudahlah, toh aku bukan pekerja konten, dan ini bukan tulisan yang serius. Aku menulis untuk kebutuhan(atau kesenangan) pribadi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini aku hampir tidak melakukan apapun selain membaca &lt;em&gt;A Happy Death&lt;/em&gt; -nya Albert Camus. Aku sudah membacanya berulang kali, tapi begitulah, karya yang bagus selalu menyenangkan dan tidak pernah menjemukan untuk dibaca lagi. Aku tidak akan membahas buku itu, sebab sekali lagi, ini jurnal pribadiku, bukan blog &lt;em&gt;review&lt;/em&gt; buku. Apa yang aku ceritakan di paragraf ini sekedar informasi saja wkwkwk.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sore harinya aku ke kampus dan bertemu beberapa kawan-kawan yang beriman. Aku ikut kajian(yang meski tidak membahas agama, atau barangkali membahas tapi aku datang terlambat jadi tidak tahu) tapi cukup menambah dan menguatkan imanku yang entah seperti apa ini. Semoga kawan-kawanku yang beriman selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah. Untukku, aku hanya berharap semoga aku diberi ampunan dan rahmat dari-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sepulang kajian, aku mampir ke rumah Nenek Deri(selanjutnya kita sebut nenek saja, abaikan Deri). Rumah nenek selalu menjadi rumah kedua yang menyenangkan. Bertemu dan berbincang dengan nenek terkadang membuatku terpikirkan banyak hal, salah satunya tentang masa depan. Aku(dan aku yakin kalian-kalian juga) seringkali bingung dan takut akan masa depan. Aku pribadi pernah sampai pada tahap tidak peduli dan hampir memilih mati(astaghfirullah, naudzubillah min dzalik), untungnya aku sadar bahwa lari dan pulang lebih cepat dari ketetapan-Nya adalah tindakan pengecut. Aku jadi sadar bahwa sejak kita diberi kesempatan untuk hidup, maka sejak itu pula kita diberi kesempatan untuk memilih dan menikmati. Aku juga jadi berpikiran bahwa susah atau mudah, sedih atau senang, semua sama saja, tinggal bagaimana kita mengambil sudut pandang dan memposisikan diri. Aku jadi ingat salah satu potongan vidio ceramah gus baha&amp;rsquo;(kalau tidak salah), beliau mengatakan(tidak persis, ini hanya seingatku saja) &amp;ldquo;jika kita mampu memposisikan diri kita sebagai hamba, maka kita tidak akan takut pada apa yang sedang dan akan terjadi, sebab kita sadar bahwa kita bukan penulis skenario, melainkan hanya objek dari ketetapan Allah&amp;rdquo;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Percaya akan ketetapan Allah. Percaya akan ketetapan Tuhan. Bukan hal baru sebenarnya, sejak awal aku mengaji(ketika kecil dan masih seorang anak polos nan soleh) tentu aku sudah diajarkan bahwa salah satu rukun iman adalah percaya pada Qada dan Qadar Allah. Percaya pada ketetapan-Nya. Kini ketika sudah beranjak dewasa, barangkali karena ditelan waktu(yang aku yakin bahwa waktu itu fana), aku seringkali lupa akan hal mendasar itu, padahal aku masih beriman :&amp;rsquo; (semoga). Alhamdulillah kini aku kembali sadar bahwa kita bukan aktor tunggal pengatur kehidupan ini. Kita hanya manusia. Hanya salah satu dari banyak sekali ciptaan-Nya. Dalam famili &lt;em&gt;Hominidae&lt;/em&gt;, Kita cuma salah satu spesies dari Genus &lt;em&gt;Homo&lt;/em&gt; (yang mana semua fafifuwasweswos ini karangan manusia juga) yang pada intinya adalah kita(atau aku) bukan apa-apa. Ada atau tidak ada aku, kehidupan ini akan tetap berjalan sesuai ketetapan-Nya. Jadi, mari jangan terlalu pusing dan ribet. Mari jalani hidup ini dengan kesadaran akan posisi kita sebagai hamba(jika beriman, jika tidak &lt;em&gt;mbuh sak karepmu&lt;/em&gt;). Mari jalani hidup ini sepenuhnya, sebagai seorang hamba. Sebagai salah satu ciptaan-Nya.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>230822</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2408221/</link>
      <pubDate>Tue, 23 Aug 2022 00:06:59 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2408221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku membangun jurnal ini sebagai tempat cerita pribadi. Aku menuliskan apapun yang aku pikirkan dan rasakan setiap harinya(jika luang) di sini. Setelah lebih dari 30 hari bercerita(atau 30 hari menulis), aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada yang berbeda antara bercerita di sini dengan bercerita padamu. Aku butuh respon. Aku butuh tanggapan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di tulisanku yang entah apa judulnya, aku pernah berkata(atau menulis) bahwa aku menulis tanpa intensi apapun. Aku menulis sekedar menulis. Aku bercerita sekedar bercerita. Aku menumpahkan segalanya. Namun, setelah hampir setiap hari(selama kurang lebih 30 hari) kutumpahkan segalanya. Kini aku kosong dan hampa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sempat berpikiran menambahkan fitur komentar dalam jurnal pribadi ini, tapi aku merasa itu kurang personal dan tidak penting(lagipula mana ada jurnal harian dengan kolom komentar???). Aku tidak butuh komentar banyak orang. Aku hanya ingin mendengar ceritamu. Aku ingin berbicara denganmu. Perihal sebagai apa dan siapapun kamu. Aku tidak lagi peduli. Aku ingin kamu. Aku ingin dirimu. Hanya kamu. Kutukanku.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Come as you are, as you were&lt;br&gt;
As I want you to be&lt;br&gt;
As a friend, as a friend&lt;br&gt;
As an old enemy&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Take your time, hurry up&lt;br&gt;
Choice is yours, don&amp;rsquo;t be late&lt;br&gt;
Take a rest as a friend&lt;br&gt;
As an old&lt;br&gt;
Memoria, memoria&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href=&#34;https://youtu.be/vabnZ9-ex7o&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;&amp;lt;strong&amp;gt;&amp;amp;gt; Nirvana ~ Come As You Are&amp;lt;/strong&amp;gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>220822</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/22082202/</link>
      <pubDate>Mon, 22 Aug 2022 22:45:06 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/22082202/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Beberapa waktu dalam satu hari ini aku menyendiri di beberapa tempat. Aku berteman sepi. Hanya aku dan aku. Aku merasa tenang dan gusar dalam bersamaan. Aku kebingungan. Aku suka sepi, tapi aku tak sanggup sendiri. Aku tetap saja membuka ponsel dan mengecek whatsapp. Aku sadar, aku butuh teman. Aku butuh kamu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sempat memikirkan untuk hidup sendiri. Meniti jalan sepi seperti dalam puisi sabana nya Umbu Landu. Namun, barangkali memang aku tak akan sanggup. Aku spesies manusia biasa. Aku &lt;em&gt;Homo Socius&lt;/em&gt;. Aku butuh kamu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika membaca Norwegian Wood nya Murakami, aku merasa mudah saja menjadi seperti toru watanabe. Tapi nyatanya tidak. Aku seakan Dr.Tokai dalam An Independet Organ di Men Without Women. Aku tak sanggup sendiri. Aku butuh kamu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ingin menangis bersamamu. Tertawa bersamamu. Hidup bersamamu. Jika sanggup, aku akan bercerita hingga 1001 malam seperti syahrazad. Jika tidak, aku akan diam, tapi mohon biarkan aku dalam pelukmu. Satu malam saja, dan kamu boleh bunuh aku keesokan harinya. Sebab aku butuh kamu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Siapapun kamu.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>KKN (5)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2208221/</link>
      <pubDate>Mon, 22 Aug 2022 10:27:46 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2208221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini setelah bangun tidur, sarapan, dan meminum antidepresan. Sebelumnya aku tak lupa bersyukur sekaligus bersedih karena masih hidup. Mau tidak mau, aku harus menikmatinya. Kali ini aku akan mengawali hari dengan menceritakan pengalaman KKNku(seingatku).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tepat tanggal 12 lalu, KKN kami sudah selesai. Puji syukur laporan juga selesai hari itu juga. Sebagai sekretaris satu aku merasa sangat berhak sombong(Mohon maaf mbak annisa, kamu boleh ikut sombong juga). Meski aku pribadi tidak puas dengan KKN yang aku lakukan, tapi aku sadar itu diluar kemampuanku(atau kemampuan kami), jadi yasudahlah(namanya juga unitduaarrr!!!). Aku hanya mencari nilai, dan aku dapatkan itu. &lt;em&gt;That&amp;rsquo;s it That&amp;rsquo;s All&lt;/em&gt; (Meski secara moral aku merasa sangat sedih, gagal, serta tidak berguna, KKN macam apa ini???? Kampus &lt;em&gt;gimmick&lt;/em&gt; bgst!!!). Semoga apa yang kami lakukan di tempat kami KKN sedikit memberi manfaat. Aaammiin.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selama satu bulan(kurang lebih) berKKN, aku merasa aku pribadi menjadi sangat lebih baik(sudah aku ceritakan di tulisan-tulisanku sebelumnya, baca aja sendiri). Kali ini, sebagai tulisan terakhir dalam seri KKN, aku akan bercerita mengenai teman-teman KKNku(yang aku ingat saja, kalian terlalu banyak). Pertama, kelompok KKNku(kelompok kecil kami). Ada mas danang, fazaabaik, aku, mbak annisa, mbak winwin, mbak farida, itsliliii, mbak divaryn, dan mbak mapala. Mereka semua sangat baik. Aku merasa kami bisa langsung menemukan &lt;em&gt;chemistry&lt;/em&gt; sejak awal kami bertemu untuk pertama kali. (Jujur, sebelumnya, dengan kondisiku yang ada, aku ingin mengundurkan diri dari kegiatan KKN, tapi melihat kalian aku jadi semangat dan mantap untuk berKKN).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pak Danang sebagai ketua, aku tidak tahu harus bilang apa, sejak awal aku sudah yakin, anda lah ketua yang tepat(setidaknya dibandingkan aku dan mas faza) dan nyatanya memang begitu. &lt;em&gt;You&amp;rsquo;re The Best Leader Ever&lt;/em&gt;, setidaknya dalam kelompok kecil ini wkwkwk. Terima kasih pokoknya pak ketua. Selanjutnya Mbak Annisa sebagai sekretaris kedua, &lt;em&gt;Thanks Mbak&lt;/em&gt; tanpamu apalah artinya diriku. Lovyu 123 pokoknya. Lalu Mbak Diva sebagai bendahara, gatau pokoknya terima kasih aja. Mbak Dian sebagai humas, terima kasih banyak mbak, anda adalah pawang pak eko yang tepat(dan tolong jangan nanyi mafia hukum lagi). Mas Faza dan Mbak liliii sebagai PDD, terimakasih atas dokumentasi-dokumentasi dan konten yang sangat &lt;em&gt;mashooook&lt;/em&gt;. Kalian Terbaek. Terakhir, Mbak Winwin dan Mbak Farida, mohon maaf aku lupa &lt;em&gt;jobdesc&lt;/em&gt; kalian apa, tapi kalian semangatku mbaaak. Muaaah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di luar kelompok kecil ini aku juga sangat berterima kasih kepada teman-teman dari kelompok besar(sumpah awalnya aku tidak setuju adanya kelompok besar, tapi apalah arti diriku, dan ternyata menyenangkan juga ada kelompok besar). Pertama tentu saja &lt;em&gt;our lord&lt;/em&gt; mas fiiki, sebagai rakyat karanggede, anda sudah melakukan yang terbaik. &lt;em&gt;wis pokok e sampeyan jos&lt;/em&gt;. Selanjutnya Mbak Daraa, Anda perempuan kuat mbak. Berikutnya, Mas Hendra, tanpamu kami &lt;em&gt;kere&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kemproh&lt;/em&gt; mas. Mas Abdul, terima kasih sudah mengakrabkanku dengan Pak Paimin. Mas Rohim, &lt;em&gt;ngomong o mas,&lt;/em&gt; TEKNIK!!!. Mbak Nana, terima kasih untuk jeday dan ikat rambutnya. Mbak Devimartinaa dan Mbak Sherly, aku suka lupa kalian yang mana tapi aku ingat nama kalian. Mbak Nofi Tasbihah, &lt;em&gt;ojo ngguyu terus to mbak&lt;/em&gt; senyummu itu lhooo. Mbak Ningsih, Anda perempuan tersangar yang pernah aku temui mbak(setelah windi tentu saja). Mbak Wahyu, &lt;em&gt;Fakyu!!!&lt;/em&gt;  tapi kalau boleh jujur, anda pinter mbak, setidaknya di grup besar ini, aku merasa &lt;em&gt;framework&lt;/em&gt; mbak wahyu yang paling &lt;em&gt;mashok&lt;/em&gt;. btw, kita sudah bermaafan, kita teman ya kan?. Terakhir mbak-mbak lain yang ada banyak sekali dan aku tidak hafal siapa kalian(kesalahanku, aku memang pelupa), tapi kalian sangat seru dan menyenangkan, semoga kita tetap berteman setelah ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebagai kesimpulan, aku benci KKN kali ini, KKN seharunya menjadi momen bagi mahasiswa untuk turun dari menara gading dan melebur bersama masyarakat, menjadi sebenar-benarnya &lt;em&gt;agent of change&lt;/em&gt; dan pemecah masalah yang ada di masyarakat, tapi KKN yang aku jalani kali ini tidak pernah menjadi KKN yang seperti itu. KKN kami cuma &lt;em&gt;gimmmick&lt;/em&gt;. Pencitraan dan &lt;em&gt;Cosplay&lt;/em&gt; menjadi mahasiswa yang bermanfaat. Ah, &lt;em&gt;Fuck Off&lt;/em&gt;. Apa yang bisa diharapkan dari waktu satu bulan tanpa modal dan pembekalan yang entahlah???.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, secara pengalaman, aku bahagia. Terutama atas bertambahnya teman-teman baru yang menyenangkan. Terima Kasih. Semoga KKN berikutnya bisa menjadi sebenar-benarnya KKN.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ohiya, terakhir, sedikit pesan untuk bapak DPL kami tercinta, &lt;em&gt;Rokok njenengan mboten enak pak, gantio surya&amp;hellip; ora surya ora&amp;hellip;!!!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>210822</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2108221/</link>
      <pubDate>Sun, 21 Aug 2022 20:46:03 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2108221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku lelah. Sangat lelah. Aku juga merasa sedih. Aku kembali disergap dingin. Aku kembali merasa sesak. Entah mengapa. Siang hingga sore tadi aku masih baik-baik saja. Entahlah. Aku merasa kosong, tapi aku tidak peduli. Setelah menulis ini aku akan minum obat. Aku belum makan, tapi bodoamat, aku tidak merasa perlu makan. Aku juga menolak ajakan teman untuk keluar(maaf kawan, tapi aku kehilangan semangat). Aku ingin tidur. Ah, tidak. Aku sudah tidak ingin apapun. Aku tidak mengharapkan apapun. Aku sudah selesai. Aku lelah. Bye.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>190822</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1908221/</link>
      <pubDate>Fri, 19 Aug 2022 23:51:56 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1908221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Akhir-akhir ini aku sedang mendengarkan berulang-ulang lagu &lt;a href=&#34;https://www.google.com/search?cs=0&amp;amp;sxsrf=ALiCzsaeMZuY7YbhBYc0JuNMUaNBE5ujnA:1660928065393&amp;amp;q=john&amp;#43;frusciante&amp;#43;the&amp;#43;will&amp;#43;to&amp;#43;death&amp;amp;stick=H4sIAAAAAAAAAONgFuLSz9U3MMxNsTRLUeIEsSuyko1MtESzk630c0uLM5P1E3OSSnOtivPz0osXsSpm5WfkKaQVlRYnZybmlaQqlGSkKpRn5uQolOQrpKQmlmQAAMXPVsBUAAAA&amp;amp;sa=X&amp;amp;ved=2ahUKEwjfiNWar9P5AhVG0HMBHeiHDi0Qri56BAgREB8&amp;amp;biw=1282&amp;amp;bih=642&amp;amp;dpr=1&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;John Frusciante - The Will to Death&lt;/a&gt;. Entah mengapa, aku merasa sangat emosional mendengarkan lagu itu. Seperti tiap mendengarkan lagu-lagu nirvana yang pedih dan lukanya sangat terpancar dari vokal khasnya kurt cobain. Dalam lagu Frusciante, selain petikan gitarnya yang seakan mampu membawa pesan, lirik dan vokal Frusciante di lagu ini juga terasa sangat menusuk. Tak jarang aku menangis mendengar lagu ini. Tangis yang bukan sedih juga senang. Tangis yang kosong.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;They beat the pain&lt;br&gt;
They sing in the rain&lt;br&gt;
Endless and formless&lt;br&gt;
They fly to the end&lt;br&gt;
And back to the Beginning again&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Aku merasa lirik tersebut seakan menggambarkan sisyphus dalam karyanya Camus. Terjebak dalam rotasi, berputar, bertahan, berulang, dan terus berulang.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;The will to death is what keeps me alive&lt;br&gt;
It&amp;rsquo;s one step away&amp;hellip;&lt;br&gt;
step away&lt;br&gt;
Limitations are set&lt;br&gt;
Only then can we go all the way&amp;hellip;&lt;br&gt;
all the way&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Aku jadi ingat perkataan Sabrang(kalau tidak salah) pada salah satu momen ketika maiyahan beberapa tahun lalu, satu-satunya hal yang pasti dalam hidup ini adalah mati. Bahwa hidup adalah suatu hal yang &lt;em&gt;finite&lt;/em&gt; dan Kematian adalah hal yang &lt;em&gt;inevitable&lt;/em&gt;. Mau atau tidak, siap atau belum, kita pasti akan menjumpainya. Kita pasti akan terbebas dari rotasi. Kita akan terbebas dari jerat tawa dan duka. Kita akan terbebas. Maka yang perlu kita lakukan adalah menjalani hidup yang ada dengan sehidup-hidupnya.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Limitations are set&lt;br&gt;
Only then can we go all the way&amp;hellip;&lt;br&gt;
all the way&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Mari jalani hidup dengan sepenuhnya. Hidup yang tanpa penyesalan. Hidup yang tanpa beban. Sebab jerat ini akan lepas, sebab kutukan ini akan terkelupas. Kita akan menjumpaiNya(Jika kalian beriman), atau menyatu dengan ketiadaan.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>180822</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1808221/</link>
      <pubDate>Thu, 18 Aug 2022 20:55:51 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1808221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini setelah minum antidepresan yang entah ke-berapa. Jatungku mulai berdebar lemah, dan aku mulai mengantuk. Beberapa hari belakangan kantukku hanya sekedar kantuk. Aku tetap tidak bisa tidur. Entahlah. Aku dulu sempat percaya slogan &amp;ldquo;tubuhku otoritasku&amp;rdquo;(&lt;em&gt;My Body My Authority&lt;/em&gt;), tapi sekarang tidak lagi, aku seakan tidak punya otoritas atas tubuh atau diriku sendiri. Aku bahkan tidak mengenal diriku sendiri, termasuk perasaanku. Aku tahu dan memang sedari awal diberi tahu oleh dokter bahwa efek samping antidepresan yang aku minum salah satunya yaitu membuat &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; berubah-ubah tapi&amp;hellip;, ah, entahlah.., aku bingung bagaimana mendeskripsikannya dengan kata-kata.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sudah beberapa hari ini tidak menulis. Aku menghabiskan hari dengan teman-temanku dan terkadang menangis sendirian di malam harinya. Tapi aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Tubuh dan perasaanku seakan melakukan segalanya sesuai kehendaknya. Tapi&amp;hellip; Ya sudahlah. Bodoamat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa hari ini aku berkeinginan menulis beberapa hal yang serius(tidak terlalu juga sih), tapi entah mengapa aku kehilangan semangat dan semuanya berujung masuk ke folder sampah. Inspirasi seakan datang begitu saja lalu pergi. Tapi.. sekali lagi, ya sudahlah. Aku bukan penyerah dan orang yang putus asa. Aku hanya tidak peduli dan menikmati semuanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini aku potong rambut dan melinting rokok. Aku tidak tahu kenapa aku perlu menulis itu, tapi ya sudahlah. Ohiya, aku ingin kembali membaca tulisan-tulisan murakami, sayangnya di waktu kosongku aku lebih banyak tidur dan merenung di pinggir jalan. Aaargh&amp;hellip; Entahlah.. Ngomong-ngomong, belakangan aku sadar, selain absurd, dunia ini juga indah. Aku melihat rumput(yang  aku tahu menurut kalian pasti biasa saja) dan entah mengapa tiba-tiba aku merasa rumput itu indah. Aku juga suka melihat mawar, dan bunga-bunga lain yang entah apa namanya. Aku tidak tahu mengapa, entah aku yang jadi terlalu melankolis atau bagaimana, tapi semuanya terasa begitu indah. Aku suka diam dan hanya melihat. Semuanya terasa menyenangkan jika kita memposisikan diri sebagai penonton. Tenang. Nyaman.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ah sudahlah, omong kosong hari ini cukup segini saja, aku ingin merokok. Selamat Tidur. Semoga esok dunia masih ada dan Kita masih hidup.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Sebuah Surat Kepada Adikku (yang kebetulan seorang) Maba Untidar</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1508221/</link>
      <pubDate>Mon, 15 Aug 2022 19:37:09 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1508221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai dik,&lt;br&gt;
Selamat datang di Universitas tidar. Aku tahu perjuanganmu hingga saat ini bisa menjadi seorang mahasiswa baru Universitas Tidar(yang selanjutnya kita sebut Untidar saja). Sebuah Perguruan Tinggi Negeri kecil yang sedang berkembang menjadi besar. Seperti negara kita, Indonesia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku, kakakmu, kebetulan juga seorang mahasiswa untidar. Meski belum terlalu tua, tapi setidaknya aku telah menghabiskan lebih dari ribuan jam sebagai seorang mahasiswa untidar. Aku juga lebih lama di untidar daripada gedung baru teknik yang megah dan parkiran empat lantai itu dik. Bahkan, taman mini di dekat masjid yang lebih kecil dari parkiran empat lantai itu juga lebih muda dariku di untidar, jadi semoga kamu tidak meragukan &lt;em&gt;keshahihan&lt;/em&gt; pesan-pesan yang aku sampaikan padamu setelah ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku tahu kamu sempat kecewa dan heran, terutama ketika PKKMB atau ospek, yang menurutmu barangkali tidak lebih dari kegiatan buang-buang waktu dan pemborosan anggaran, tapi percayalah dik, aku yakin panitia PKKMB telah berusaha keras dan sekuat kemampuannya untuk membuat acara yang baik dan menarik, hanya saja kamu harus tahu bahwa panitia PKKMB adalah para akademisi dan aktivis, bukan &lt;em&gt;event organizer&lt;/em&gt; sehingga aku harap kamu dapat memakluminya. Pekerjaan mereka adalah berpikir kritis dan membantu mengatasi masalah bangsa, bukan menjadi panitia acara.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku juga tahu kamu sempat mengeluh dengan orasi-orasi tidak jelas, dan sesi menyanyi lagu-lagu pergerakan mahasiswa yang itu-itu saja. Tapi, mohon dimengerti dik, memang begitulah kehidupan mahasiswa. Kita seringkali harus berorasi tidak jelas dan menyanyikan lagu-lagu pergerakan yang tidak pernah di&lt;em&gt;update&lt;/em&gt; agar kita terlihat garang sebagai agen perubahan. Sebagai penyambung lidah rakyat. Sebagai mantan penumbang orde baru. Jadi, nikmati dan ikuti saja dik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kamu juga sempat bertanya padaku, mengapa ketika ospek atau PKKMB ada hal-hal yang tidak seharusnya terjadi, misalnya waktu yang molor, jadwal yang tidak sesuai, atau lain sebagainya. Percayalah dik,  selain para panitia PKKMB bukan seorang &lt;em&gt;event organizer&lt;/em&gt; , barangkali mereka juga sedang mengetes kemampuanmu untuk bersuara. Mengetes keberanianmu untuk menyampaikan pendapat. Menjajal kemampuanmu untuk mengorganisir teman-teman sesama maba. Sebagai mahasiswa, kalian harus terlatih untuk berani berpendapat dan mengorganisir masa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketahuilah dik, jika kampus adalah miniatur negara maka untidar adalah sebaik-baik kampus itu. Selain sama-sama sedang berkembang, di untidar juga banyak hal-hal yang sangat sesuai dengan kondisi negara kita yang sebentar lagi memperingati hari kemerdekaannya ini, misalnya &lt;em&gt;website&lt;/em&gt; yang error, oknum-oknum yang tidak kompeten, juga dominasi generasi tua dan &lt;em&gt;gimmick-gimmick&lt;/em&gt; yang tidak penting. Kamu tidak perlu sedih dan kecewa, justru kamu harus bersyukur, kampus atau universitas mana lagi yang mempunyai kondisi semirip negara kita ini selain untidar kita tercinta?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebentar lagi negara kita akan memperingati hari kemerdekaannya, jika kamu yakin negara ini akan menjadi lebih baik di masa mendatang maka kamu juga harus seyakin itu bahwa untidar juga akan menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ohiya, kamu juga jangan kaget jika sewaktu-waktu menemukan manusia-manusia aneh dan kacau logika di untidar sebab sebagaimana yang tadi aku sampaikan, Untidar adalah sebaik-baik miniatur negara, dan bukankah di negara kita ini juga banyak manusia-manusia seperti itu? jadi biasakanlah dan maklumi saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kemudian jika kamu merasa biaya kuliah di untidar semakin mahal, percayalah dik, sebenarnya itu adalah simulasi biaya hidup di negara kita yang juga semakin mahal. memang dibuat demikian agar kelak kamu tidak kaget ketika telah lulus dari untidar. Jika sewaktu-waktu ada pengumuman mendadak, informasi yang tidak jelas, dan alur birokrasi yang rumit di untidar, sekali lagi kamu harus yakin bahwa itu adalah bagian dari desain kampus sebagai sebaik-baik miniatur negara kita tercinta ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku bisa saja memberimu pesan-pesan lain dik, tapi pada intinya aku hanya ingin kamu bangga dan berbahagia telah menjadi bagian dari Untidar. Ohiya, kamu juga perlu tahu ini, singkatan kampus kita adalah untidar. ingat, dar!. Jadi, percayalah akan ada banyak hal yang mengejutkan di kampus kita tercinta ini. Menyenangkan sekali bukan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selamat bergabung tidar muda! Selamat berkembang dan mengabdi tuk negara!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dari aku,&lt;br&gt;
kakakmu.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Salam</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1408221/</link>
      <pubDate>Sun, 14 Aug 2022 15:10:00 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1408221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hai,&lt;br&gt;
Aku menulis ini di pagi hari(atau mungkin siang, entahlah, waktu itu fana, kita abadi) setelah semalaman suntuk berkumpul dengan teman-teman yang baik dan menonton latihan wayang sebagai obat kecewa karena fstvlst gagal konser. Babi memang. Hingga pagi(atau siang) ini aku masih kecewa. Semoga kalian mendapat ganjaran yang setimpal wahai panitia together is fak!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ohiya, aku mengawali tulisan ini dengan hai karena aku mendengar bahwa jurnal pribadi ini mulai mempunyai pembaca selain aku sendiri. Aku agak malu sebenarnya, sebab sebagai sebuah jurnal pribadi, semua tulisan di sini tanpa sensor dan tanpa pertimbangan matang-matang. Aku menulis sekali dan begitu saja. Aku ibarat bercerita pada alat perekam, untuk kemudian kuputar ulang dan kudengar sendiri. Semuanya untuk pribadi. Tanpa sensor. Telanjang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kini, mendengar ada pembaca lain selain diriku membuatku agak sedikit berpikir sebelum menulis, tapi terlalu banyak berpikir membuatku tidak pernah menulis, dan tidak pernah menulis membuat keresahanku tidak tertampung. Aku seperti tidak lagi mengenal diriku sendiri. Maka aku putuskan untuk bodoamat dan terima kasih wahai pembaca jurnal ini. Aku mohon maaf jika tulisan-tulisan yang ada di sini begitu mentah dan tidak teratur, karena barangkali memang begitulah aku. Selamat membaca. Sekali lagi aku ingatkan ini jurnal pribadi. Aku melepas semua topengku di sini. Aku menjelma tulisan di sini. Semoga tulisanku tetap ada hingga aku tiada. Mendengar aku memiliki pembaca, aku seketika merasa bahwa barangkali pram benar, menulis adalah untuk keabadian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ndash;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepada pembaca selain aku,&lt;br&gt;
Terima Kasih,&lt;br&gt;
Tangisilah hidup karena memang hidup terkadang bengis, tapi jangan terus menangis.&lt;br&gt;
Menjalani hidup adalah menghadapinya tanpa tapi.&lt;br&gt;
Sedih dan Tawa adalah adalah sama.&lt;br&gt;
Mari menghidupi hidup sepenuhnya!&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>100822</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1008221/</link>
      <pubDate>Wed, 10 Aug 2022 23:22:26 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1008221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini di malam hari menjelang pagi. Aku susah tidur. Ah iya, malam ini aku masih harus minum obat lagi. Aku merasa sudah sembuh, tapi dokter berkata lain, beliau menyuruhku untuk tetap meminum obat sialan itu beberapa bulan ke depan. Aku ingin tidak mematuhinya, tapi aku sadar beliau lebih tahu(jadi dokter mahal dan susah, aku tahu dan aku menghargai itu).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meski begitu, aku merasa baik-baik saja belakangan ini. Atau barangkali aku hanya merasa masa bodoh, dan semua kuanggap baik-baik saja. Tapi apa bedanya, bukankah yang penting aku baik-baik saja? Sudahlah, aku bingung dan lelah dengan diriku sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku jadi sadar, aku tak pernah(atau aku harap hanya belum) selesai dengan diriku sendiri. Bagaimana aku bisa memikirkan orang lain? Bagaimana aku bisa sok-sokan ingin memberiku untuk orang lain? ah barangkali aku memang bodoh. Tapi ya sudahlah. Seperti lirik lagu nirvana.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;The day is done&lt;br&gt;
But I&amp;rsquo;m having fun&lt;br&gt;
I think I&amp;rsquo;m dumb
Or maybe just happy&lt;br&gt;
Think I&amp;rsquo;m just happy&lt;br&gt;
Think I&amp;rsquo;m just happy&lt;br&gt;
Think I&amp;rsquo;m just happy&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Selamat Malam. Mari tidur saja. Siapa tahu esok kita bangun menjadi kecoa seperti cerita kafka. bye.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>*Anxiety* -ku dan KKN (4)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0708222/</link>
      <pubDate>Sun, 07 Aug 2022 20:55:59 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0708222/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini pada malam hari di Posko KKN. Susah sinyal, Sepi, dan Sendirian. Entah mengapa hal tersebut justru membuatku merasa nyaman.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku telah kembali dapat menulis puisi. Aku telah mampu bertahan di kerumunan. Aku telah mampu mengendalikan deg-degan tidak jelasku. Aku juga telah mampu mengalahkan perasaan gelisah dan dinginku. Aku sangat membaik. Aku rasa aku sudah pulih. Malam ini antidepresanku tinggal satu biji. Aku sudah lelah meminumnya, semoga aku tak perlu minum lagi. Beberapa hari ke depan aku harus kembali menemui Ibu Psikiater. Semoga aku bisa menyampaikan kabar baik ini, dan beliau juga sepakat bahwa aku telah pulih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sangat berterimakasih kepada semua teman-teman KKNku. Aku merasa bisa sangat membaik berkat kalian. Kurasa aku tak perlu menyebut nama kalian satu persatu, sebab kalian terlalu banyak, yang jelas kalian sangat baik dan menyenangkan. Semoga kita tetap saling mengenal meski KKN telah usai. Aku senang dapat berkenalan dengan kalian. Lovyu 12345 gaes&amp;hellip;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepada sobat ndlogokku, &lt;em&gt;bismillah&lt;/em&gt;, aku siap kembali meramaikan tongkrongan, info-info mawon lurr&amp;hellip;.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>revival</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0708221/</link>
      <pubDate>Sun, 07 Aug 2022 20:24:42 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0708221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku patah dan jatuh menulis karena tangis. Kini aku tumbuh kembali karena tangis.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku akan menulis kembali, sebagaimana aku menyukaimu kembali entah sejak dan sampai kapan. Aku akan menulis tanpa intensi apapun, sebagaimana aku menyukaimu tanpa alasan dan tujuan apapun. Aku akan terus menulis meski tanpa hasil apa-apa, sebagaimana aku akan terus membersamaimu meski tanpa tahu akan berakhir seperti apa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku menjadi sysiphus yang bangkit lagi. Aku dionysius yang mendapat cahaya kembali. Aku bintang yang hidup kembali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karena tangismu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ndash;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepada apapun, dan siapapun yang aku suka.&lt;br&gt;
Terima kasih telah ada.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepada kamu, yang mudah menangis.&lt;br&gt;
Tangismu adalah daya hidupku. Tangismu adalah kutukanku. Aku tak pernah tahu bagaimana dan mengapa tapi aku telah jatuh padamu. Entah sampai kapan.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Terakhir</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2706221/</link>
      <pubDate>Wed, 27 Jul 2022 23:07:20 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2706221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku tidak tau mau cerita apa hari ini. Aku tidak tau apa-apa. Aku menangis tanpa air mata. Aku menangis tanpa suara. Aku baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku memutuskan untuk padam. Aku patah dan menolak tumbuh. Aku ikarus yang jatuh. Aku mengawang di bulan. Aku tenggelam di lautan kehampaan. Aku baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku dionysius yang kehilangan matahari. Aku sisyphus yang memilih mati. Aku bodoh dan tuli. Aku ingin sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku lelah.
Aku Salah langkah.&lt;br&gt;
Aku ingin berhenti bercerita.&lt;br&gt;
Aku ingin pulang dalam hampa.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Nasib adalah kesunyian masing-masing.&lt;br&gt;
Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.&lt;br&gt;
~ &lt;strong&gt;Chairil Anwar, 1947&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Maaf dan Terima Kasih,&lt;br&gt;
dari Aku kepada siapapun.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>250622</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2506221/</link>
      <pubDate>Mon, 25 Jul 2022 23:32:43 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2506221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini di malam hari menjelang tidur. Malam ini aku bermalam di tempat KKN. Malam ini cerah, aku bisa melihat lampu-lampu kota dari beranda rumah tempat kami menginap. Namun, seperti biasa cerah berarti suhu udara menjadi dingin. Sangat dingin. Untungnya aku membawa &lt;em&gt;Sleeping Bag&lt;/em&gt; wisnu. Aku juga sudah minum obat. Semoga aku bisa tidur dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini aku berhasil membaik lagi. Aku berhasil naik motor sendiri dari kampus(atau rumah) hingga tempat KKN. Meskipun kini bensin motorku tinggal setengah, tapi pada intinya aku telah berhasil mengalahkan kecemasanku. Terima Kasih kepada teman-teman yang telah mengawalku(Mas Faza, Mas Hendra, Mbak Winwin, Mbak lili, dan Mbak Dara). Terima Kasih juga kepada linggar yang telah mentraktirku tembakau. Semoga kalian semua selalu dilimpahi kebaikan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini pengeluaranku cukup banyak. Aku khawatir uang yang aku punya tidak sanggup bertahan hingga akhir minggu. Aku sudah berterus terang kepada bapakku, semoga beliau bisa mengerti. Aku sudah mencoba berhemat, tetapi keadaan tidak selalu sesuai dengan apa yang direncanakan. Tapi seperti kata mas zakiy kemarin, perihal usaha dan hasil adalah hal yang berbeda, dan menerima semua hasil yang ada adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Baik atau buruk, semua adalah yang terbaik menurutNya. Menjalani takdir adalah menjalani hidup sepenuhnya.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>240622</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2406221/</link>
      <pubDate>Sun, 24 Jul 2022 23:17:25 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2406221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini di malam hari, setelah pulang kumpul bersama beberapa teman. Kami saling bercerita satu sama lain(30% sisanya main hp sendiri2). Termasuk membahas perkembanganku yang sangat-sangat membaik. Aku sudah tidak terlalu cemas di kerumunan. Aku sudah bisa berbicara di depan banyak orang. Aku juga sudah bisa berkendara hingga pasar. Besok aku berencana ingin mencoba hal baru. Aku ingin berkendara sendiri hingga tempat KKN. Aku yakin aku mampu dan aku juga yakin aku akan baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ohiya, siang tadi juga aku berkumpul teman-teman lama(lama tidak kumpul maksudnya). Sebenarnya kami berkumpul untuk diskusi serius, tapi aku sedang tidak karuan dan aku tidak ingin mempedulikan apapun jadi aku pergi duluan(mohon maaf teman-teman). Aku senang bisa berkumpul lagi dengan kalian. Kalian orang-orang baik. Semoga kebaikan juga selalu menyertai kalian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk mas zakiy, terima kasih atas omongan singkat perihal syahadatain. Aku merasa telah membaca banyak hal dan bodohnya aku melupakan hal mendasar itu. Meski singkat, itu menancap ke dalam dasar pikiran(atau hati)ku mas. Terima Kasih. Aku sadar aku memang masih perlu belajar, Semoga esok aku masih diizinkan hidup untuk terus belajar dan mencoba hal-hal baru. aaammiiin.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>KKN (3)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/2006221/</link>
      <pubDate>Sat, 23 Jul 2022 10:19:22 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/2006221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Sudah cukup lama aku tidak menulis jurnal harian. Selain karena di tempat KKN susah sinyal, entah mengapa aku selalu merasa lelah dan malas untuk menulis. Aku menduga, mungkin karena ada banyak teman, jadi lebih menyenangkan untuk mengobrol bersama daripada menulis. Tulisan ini aku tulis ketika aku sudah di rumah, setelah sebelumnya selama 3 hari 2 malam menginap di tempat KKN(aku pulang beberapa kali sih, tapi pokoknya aku menginap 2 malam). Jadi, pada intinya, tulisan ini akan banyak bercerita selama 3 hari 2 malam aku menginap di tempat KKN, selama 3 hari 2 malam aku tidak menulis jurnal, dan selama 3 hari 2 malam aku tinggal serumah bersama teman-teman KKNku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hari Pertama&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Hari pertama adalah hari paling mendebarkan, bagaimana tidak, setelah memutuskan untuk membuat aliansi antar kelompok, kini kami juga memutuskan untuk menginap. Sebelumnya, aku dan beberapa kawan(mas faza, fiiki, dan hendra) telah janjian untuk &lt;em&gt;trial&lt;/em&gt; menginap 3 hari terlebih dahulu. Membayangkan 3 hari 2 malam di tempat yang bukan rumah sendiri sangat menarik dan menyenangkan. Apalagi membayangkan tinggal serumah bersama beberapa kawan, wadaw, luar biasa(aku tau beberapa dari kalian ada yang mondok dan mengontrak, tapi yang aku maksud di sini berbeda, aku yakin kalian paham :) ).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seperti normalnya kehidupan, sesuatu yang bahkan terlihat akan berjalan dengan normal, lancar, dan biasa saja bisa tiba-tiba menjadi sangat luar biasa. Termasuk di hari pertama ini. Untuk berangkat ke kampus(atau sekitar kampus) Aku berencana untuk naik g#jek atau angkot, namun mempertimbangkan kondisi keuangan dan pengetahuan akan jalan yang ada(aku lemah di keduanya), aku memutuskan untuk mencari tebengan saja. Naik kendaraan umum akan menjadi opsi terakhir jika aku tidak mendapat tebengan. Tanpa diduga, orang yang menawarkan tebengan adalah fuade. Kawan lama sekaligus &lt;em&gt;partner in crime&lt;/em&gt; era SMA yang kini sedang menjalani kehidupan di semarang. Membonceng fuade sekaligus menjadi sesi tukar cerita bagi kami berdua. Karena aku sampai di kampus lebih awal, aku memutuskan untuk mengajak fuade masuk ke kampus. Kami lalu melanjutkan sesi tukar cerita di parkiran kampus. Waktu seolah berputar maju dan mundur. Kami saling mengingat masa lalu dan menceritakan kondisi kami saat ini. (Terima Kasih de. Kita pernah &amp;lsquo;dipaksa&amp;rsquo; menjadi partner, namun kini aku merasa kita memang benar-benar partner yang cocok)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terlalu asyik mengobrol dengan fuade, membuatku lupa dengan mas faza(sori masse). Aku lupa bahwa kami telah janjian untuk bertemu di kantin lalu selanjutnya aku menebeng beliau hingga tempat KKN nanti. Ketika aku ingat dan meminta fuade untuk mengantarku ke kantin, aku melihat mas faza malah pergi ke arah rumahnya. Aku(diantar fuade tentu saja) berusaha mengejar, namun tidak terkejar(mas2 driver memang beda). Akhirnya aku putuskan untuk menuju ke depan secaba karena dari grup whatsapp aku tau teman-teman KKNku yang lain telah berkumpul di depan secaba. Di depan secaba aku bertemu Mbak Annisa, Mbak Dara, Mbak lilii, dan mbak-mbak yang lain(kalian ada banyak gaes, wajar aku lupa). Selain mereka, hanya ada satu mas-mas, yaitu mas rohim(yang bersalaman dan langsung pamit pergi duluan). Aku meminta teman-teman(mbak-mbak) untuk menunggu mas faza dkk(mas2 yang lain). Namun, seperti biasa, menunggu bukanlah hal yang mudah. Para mbak ini memutuskan untuk berangkat duluan saja. Aku(sebagai seorang minoritas dan satu-satunya lelaki dalam kawanan) tentu &lt;em&gt;manut-manut&lt;/em&gt; saja asalkan ada yang mau memboncengku. Akhirnya, kami berangkat dengan aku dibonceng mbak dara menggunakan motor mbak liliii(terima kasih mbak dara, terima kasih mbak lilii). Aku yang berat(ditambah barang bawaan kami yang akan menginap) membuat motor mbak lilii bekerja keras. Untungnya motor mbak lilii adalah motor yang tekun dan pekerja keras, meski perlahan tapi kami(aku dan mbak dara) sampai di tempat KKN dengan selamat. Ohiya, membonceng mbak dara(meski ini sudah yang kedua kali) membuatku sadar bahwa tidak semua mbak-mbak berpotensi menjadi emak-emak sein kiri belok kanan, contohnya mbak dara, beliau menyetir dengan baik dan benar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di hari pertama ini kegiatan kami tidak terlalu padat. Kami hanya membersihkan rumah yang nantinya akan menjadi &lt;em&gt;basecamp&lt;/em&gt; sekaligus tempat menginap. Satu hal yang sangat membekas di hari pertama adalah betapa semangatnya mas hendra membersihkan rumah. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan kata-kata, tapi sumpah, beliau luar biasa. Selain membersihkan rumah(atau basecamp), kami juga melanjutkan kegiatan hari sebelumnya yaitu mengunjungi rumah bapak kepala dusun. Di kunjungan kali ini, aku kembali menjadi satu-satunya laki-laki dalam kelompok untuk mengunjungi sisa dusun bagian bawah. Di kunjungan kali ini juga aku tidak lagi dibonceng mbak dara, tapi mbak ningsih. Mbak dara dan mbak ningsih adalah dua orang yang berbeda. Selain berasal dari daerah yang berbeda, mereka juga memiliki tubuh dan wajah yang(tentu saja) berbeda. Hal tersebut bukan masalah. Sebab baik mbak dara maupun mbak ningsih sama-sama manusia, dan selebihnya aku tidak peduli. Namun, perbedaan yang menarik adalah cara mereka berkendara. Di paragraf sebelumnya aku telah menjelaskan bagaimana cara mbak dara berkendara, berbeda dengan mbak dara, aku 10000% yaqin mbak ningsih berpotensi menjadi emak-emak sein kiri belok kanan(maaf mbak ningsih, tapi membonceng anda seperti uji nyali). Selebihnya, alhamdulillah kegiatan kami di hari pertama ini lancar. Satu-satunya yang tidak lancar adalah sinyal(bagaimana ini telkom#el???).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Malam Pertama&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Seperti pada umumnya, malam pertama selalu menjadi bagian yang paling mendebarkan. Kami(beberapa laki-laki dan beberapa perempuan) akan tidur bersama dalam satu rumah. Kami akan &lt;em&gt;cosplay&lt;/em&gt; menjadi sebuah keluarga. Dalam urusan kekeluargaan ini, satu hal yang aku ingat pasti adalah mas hendra akan menjadi kepala keluarga yang baik(sruegeep e puool) dan mbak dian akan menjadi ibu keluarga yang jahat(suka &lt;em&gt;menjudge&lt;/em&gt;, bertenaga, dan hobi menyanyi sepotong-sepotong). Malam pertama ini menjadi malam yang dingin. Sangat-sangat dingin hingga aku susah tidur meski meminjam selimut mas fazza(terima kasih masseh). Sisanya entahlah, aku baru saja akan mulai tidur ketika suara mbak-mbak entah siapa berteriak dengan kencangnya &amp;ldquo;mas subuhan mas&amp;hellip;!&amp;rdquo; Astaga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hari Kedua&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Aku lupa hari kedua ngapain. &lt;em&gt;Thats it. Thats all.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;eh, tidak ding. aku ingat beberapa. Terutama kisah mak yudhi(atau yudha, entahlah aku memang pelupa). Tapi aku tidak akan menceritakannya di sini. Aku tidak kuat. Mengingat ceritanya saja membuatku sedikit cemas. Pokoknya aku menangis ketika itu. Selain itu, di hari ke dua ini juga wisnu(ma bestie, ma lov, ma gondrong) datang dan bergabung menginap dengan kami(matursuwun bosku, tanpamu aku tidak punya salin dan kedinginan).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Malam kedua&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Malam kedua menjadi malam yang aku duga akan menjadi sebuah malam yang cukup hangat(sebab wisnu membawakanku &lt;em&gt;sleeping bag&lt;/em&gt;). Namun, ternyata dugaanku salah total. Malam kedua ini menjadi malam yang sangat-sangat dingin. Entah ide siapa, malam ini kami malah motoran dan nongkrong di sebuah tempat berupa kedai di pinggir jalan yang dilewati banyak truk dan mobil. Kedainya sih bagus, sayangnya untuk ke sini kami harus motoran dalam gelap dan kabut dengan kondisi jalan yang ekstrim. Untungnya semua itu terbayar dengan pemandangan yang indah(aku lihat &lt;em&gt;milky way&lt;/em&gt; luuur&amp;hellip;.). Sisanya, entahlah, meski kedinginan aku bisa tidur dan itu menyenangkan. Tidur &lt;em&gt;is the best thing in the world&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hari Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Aku lupa ngapain saja hari ketiga. Aku membaca ulang tulisanku di atas dan aku kebingungan. Aku hanya ingat aku sangat-sangat membaik. Aku bisa sholat jum&amp;rsquo;at berjamaah(tanpa deg2an meski masih gemetar). Aku bahkan bisa ikut anshoran(pengajian dengan sedikit rame-rame). lalu setelahnya aku(atau kami) pulang. Sebab sabtu dan minggu libur. &lt;strong&gt;Libur adalah libur dan tidak bisa diganggu gugat.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ah iya, aku juga sudah lumayan mengingat nama-nama kalian, mas danang(jelas), mas faza, mas fiiki, mas hendra, mas abdul, mas rohim, mbak dian, mbak dara, mbak annisa(tentu saja), mbak lilii, mbak winwin, mbak faridatun, mbak nofi, mbak sherly, mbak ningsih, mbak raihan(atau mbak nisa &lt;em&gt;mbuh racetho&lt;/em&gt;), dan mbak-mbak lainnya&amp;hellip;(ini bukan absensi, ini jurnal harian, untuk apa aku menyebut nama kalian satu per satu, jadi bagi yang tidak tersebut, mohon jangan protes). Aku hanya berkewajiban menyebut nama mbak diva karena telah memberiku stiker. Terima Kasih mbak. Stikermu aman bersamaku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa hari ke-depan kami berencana akan menginap kembali(tentu saja, KKN belum selesai coy). Aku harap, hari-hari dan malam-malam berikutnya menjadi lebih seru dan menyenangkan. Aku senang bersama kalian(terutama mas hendra). Aku merasa menjadi lebih baik berkat kalian, Terima Kasih. lovyuu~&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;btw, untuk mbak dian, sumpah, suara anda adalah kutukan. &amp;ldquo;mafia hukum-hukum saja&amp;rdquo; masih terus terngiang-ngiang di telinga saya. serem. seharusnya anda menyanyikannya di hadapan anggota dewan dan pak luhut eh, maksud saya pejabat-pejabat negara. pasti mashook sekali. dah ah. aku mengantuk. bay.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>KKN (2)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1806221/</link>
      <pubDate>Mon, 18 Jul 2022 22:19:50 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1806221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini di malam hari, setelah minum obat, dan ketika mulai mengantuk. Jadi, aku akan menulis secukupnya saja. Jika kemudian ternyata banyak yang salah serta tidak sesuai, aku tidak peduli.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini hari yang melelahkan(seperti biasanya). Aku bangun di pagi hari dan berangkat ke kampus. Selanjutnya, masih harus melakukan perjalanan lagi ke tempat KKN di Pakis nun jauh di sana(terima kasih mas faza, tanpamu aku tidak akan sampai pakis). Sesampainya di Pakis, lagi-lagi aku masih harus berkutat dengan hawa dingin yang cukup membuat hasrat kencing meningkat berkali-kali lipat. Untungnya, semua itu terbayarkan dengan suasana yang nyaman dan entah mengapa, terasa menenangkan(&lt;em&gt;marai ngantuk&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di pakis, aku berkumpul tidak hanya dengan kelompok KKNku saja, tapi kini kami menjadi satu kelompok besar gabungan dari tiga kelompok yang ada sebelumnya. Ini bukan hari pertama aku kumpul dengan mereka, jadi aku merasa baik-baik saja. Sebelumnya, jujur saja aku merasa khawatir &lt;a href=&#34;https://dalamjaringan.github.io/post/0606222/&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;gangguan kecemasanku&lt;/a&gt; akan kambuh. Untungnya, seperti teman-teman satu kelompok KKNku, teman-teman satu kelompok besar ini ternyata juga menyenangkan dan seru. Aku merasa cocok dengan mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di hari ini aku juga mengalami perkembangan yang sangat baik. Aku sudah bisa berbicara di depan umum(setidaknya di depan pak kadus, sambil merokok pula wkwkwk). Awalnya aku merasa dijebak(sumpah kalian jahat). Bagaimana tidak, aku menjadi satu-satunya manusia berjenis kelamin laki-laki dalam rombongan untuk &lt;em&gt;sowan&lt;/em&gt; kepada bapak-bapak kadus di dusun bawah. Sebagai minoritas dalam kelompok, juga sebagai seorang laki-laki(dalam budaya maskulinitas yang masih kental) aku yakin pasti akan mendapat tugas sebagai juru bicara.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sudah menolak sebisanya, tapi kalian tetap memaksaku(B*** kalian). Harga diriku menjadi seakan tertantang. Adrenalinku meningkat. Akhirnya aku mengeluarkan kemampuan berbahasa-jawa-sopan ku yang sangat-sangat minimalis ditengah gangguan kecemasan yang mulai muncul(Pakis sudah dingin, ditambah kecemasan aku merasa seperti terkurung di dalam &lt;em&gt;freezer&lt;/em&gt;). Pada akhirnya yang keluar dari mulutku adalah bahasa campuran antara Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia, serta alur berbicara yang tidak tertata dengan baik. Sangat kacau dan memalukan. Aku juga lemas dan gemetaran. Untung ada kacamata hitam milik mbak&amp;hellip;.(mohon maaf mba aku lupa nama anda) jadi aku tidak terlalu tampak lemah. Setelahnya, perlahan aku mulai membaik dan (sebagaimana sebelum-sebelumnya) aku baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pada intinya, lewat tulisan di jurnal-pribadiku ini aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua teman-teman(baru ataupun lama)ku di kelompok besar KKN. Jujur aku tidak bisa menyebut nama kalian satu persatu(banyak sekali woy). Pokoknya terima kasih telah membantuku mengatasi kecemasanku. Terima kasih telah membantuku menjadi lebih baik. Lovyu gaes.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mohon maaf aku seringkali salah dan lupa menyebut nama kalian, tapi meskipun begitu aku kenal kalian kok. Bukan apa-apa, aku memang kesulitan menghafal nama orang(ini beneran, sumpaahhhh). Apalagi jumlah kalian sangat banyak, 28 orang. sekali lagi 28 orang!!! luar biasa kan? Jumlah nabi dan rasul yang perlu kita hafal saja cuma 25 orang. Jadi mohon dimaafkan dan dimaklumi ya teman-teman.&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;Ohiya, terima kasih khusus kepada mbak daraaa yang telah bersedia memboncengku ketika menemui pak kadus. Anda mbak ketua yang baik. Semoga hari-hari anda menyenangkan.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Nietzsche, Camus, dan Wisnu</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1706221/</link>
      <pubDate>Sun, 17 Jul 2022 20:28:59 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1706221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini dalam kondisi mengantuk dan hanya bertujuan untuk kesenangan pribadi. Segala yang aku tulis dalam tulisan ini merupakan hal yang sifatnya opini pribadi &lt;em&gt;ngawur&lt;/em&gt;(yang tentu saja sesat serta tidak berdasar) sehingga tidak bisa dipahami secara mentah-mentah. Kesalahan pemaknaan pembaca atas tulisanku ini menjadi resiko yang ditanggung pembaca itu sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ingin bercerita tentang Nietzsche, Camus, dan Wisnu. Ya, Benar. Nietzsche, Camus, dan Wisnu yang itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Nietzsche, dalam karya-karyanya(yang banyak sekali dan susah dipahami) membicarakan(salah satunya) tentang &lt;em&gt;Eksistensialisme&lt;/em&gt;. Makna Keberadaaan. Nietzsche berpandangan(sekali lagi nek ra salah) bahwa &amp;ldquo;keberadaan&amp;rdquo; kita ini sebenarnya tidak jelas. Semua nilai moral, pengetahuan, 	makna dan kebenaran yang kita(manusia) gunakan itu tidak berdasar. aneh. dan tidak masuk akal. Semua hal itu membuat beliau bingung(yak e) dan jawaban yang Nietzsche berikan atas kebingungan itu adalah nihilisme. Apa itu? Baca sendiri. Pada intinya, Nieztsche memandang bahwa untuk menghadapi ketidakmasukakalan hidup ini, yang perlu kita lakukan adalah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Fatum Brutum Amor Fati&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Meski takdir(hidup) terkadang suram, yang perlu kita lakukan adalah menerima dan mencintainya, apapun itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selanjutnya aku ingin bercerita tentang Camus. Sama seperti nietzsche, lewat karya-karyanya(yang sumpah bagus dan enak dibaca) beliau juga membicarakan mengenai &lt;em&gt;Eksistensialisme&lt;/em&gt;. Camus berpandangan bahwa memang hidup ini &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt;. Hidup ini aneh dan tidak masuk akal, dan memang begitu. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah tidak perlu memikirkannya, alias &lt;em&gt;prek rasah gatekke&lt;/em&gt;. kita hanya perlu menikmatinya. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;enjoy.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berikutnya soal wisnu, lewat bacotannya, wisnu berpendapat bahwa semua permasalahan eksistensialisme kehidupan yang fafifuwasweswos dipaparkan secara rumit oleh Nietzsche, Camus, dan banyak filsuf-filsul lain itu sebenarnya buang-buang waktu(dan juga kertas) saja. Kita hanya perlu menjalani hidup. Apapun yang terjadi, pokokmen &lt;strong&gt;&amp;ldquo;Yowis rapopo&amp;rdquo;&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi, yang lebih penting lagi daripada semua itu adalah aku sudah mengantuk. Jadi mari sudahi saja tulisan omong kosong ini dan tidur. Persetan dengan hari depan. Sebab aku sendiri tak pernah tau esok akan bangun lagi atau tidak. &lt;em&gt;bye.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Curhat Malming</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1606221/</link>
      <pubDate>Sat, 16 Jul 2022 22:16:27 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1606221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Sebenarnya malam minggu ini aku ingin melanjutkan ceritaku soal cinta, tapi tidak jadi, aku kelelahan. Seharian ini aku membantu bapakku membawa motor adikku ke bengkel, lalu mencuci motorku sendiri. Sumpah, aku tidak pernah menyangka mencuci motor ternyata semelelahkan ini. &lt;em&gt;Respect&lt;/em&gt; untuk mas-mas kang cuci motor.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Siangnya aku ingin menghabiskan waktu dengan tidur, tapi tidak bisa. Gangguan kecemasanku kambuh. Sial sekali. Aku merasa cemas tanpa sebab hingga sore. Untuk menghilangkan cemas, aku coba membuka kembali foto-foto lamaku, mengeditnya, dan mengunggahnya ke akun instagramku. Ternyata cukup menyenangkan. Aku juga jadi mengingat kembali momen-momen yang lalu dari foto-foto lama yang aku lihat. Rasa-rasanya masa lalu memang selalu lebih menyenangkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa foto yang menarik aku unggah juga ke status whatsappku, lalu ada teman SMA ku yang mengomentarinya. Kami saling mengenang momen-momen bersama kami di masa lalu. Aku lupa bagaimana tapi tiba-tiba pembicaraan kami jadi berlanjut saling menceritakan kabar masing-masing saat ini. Aku terus terang saja bahwa aku sedang tidak baik-baik saja(atau aku sedang dalam pengobatan) dan ternyata(entah aku harus senang atau sedih) dia juga sama. Pembicaraan kami akhirnya jadi sesi saling curhat bergantian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kami sama-sama tidak menyangka akan mengalami masa seperti ini. Masa dimana harus minum antidepresan tiap hari. Kami juga sama-sama sedih sekaligus bersyukur, ternyata kami(aku dan dia) tidak sendirian(paling tidak berdua). Kami jadi saling menyemangati satu sama lain. Kami sama-sama yakin kami baik-baik saja. Dan akan tetap baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sebenarnya masih ingin menulis tentang sebuah lagu favoritku. Aku baru saja mendengarnya dan entah kenapa itu memicuku untuk menulis sesuatu, tapi aku baru saja minum obat, dan(seperti yang sudah aku ceritakan) obatnya kini sudah cocok dengan tubuhku. Aku langsung mengantuk. Jadi aku mau tidur saja. Semoga aku besok aku masih bisa bangun dengan bugar, sebab besok akan jadi hari minggu yang cukup panjang. Terlebih lagi, &lt;strong&gt;aku masih punya hutang :(&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Jum&#39;at curhat</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1506221/</link>
      <pubDate>Fri, 15 Jul 2022 22:11:11 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1506221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini hari jum&amp;rsquo;at. Aku menghabiskan hampir satu per empat hariku di kampus. Oh iya, aku sudah berani mengendarai motor sendiri ke kampus. Setelah lama tidak mengendarai motor, aku baru sadar ternyata &lt;em&gt;riding&lt;/em&gt; memang semenyenangkan itu. Di kampus aku berkumpul bersama kelompok KKNku, mereka menyenangkan. Meski hari ini kami tidak &lt;em&gt;full team&lt;/em&gt;, tapi berkumpul dan mengobrol bersama mereka tetap terasa seru.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jum&amp;rsquo;at kali ini aku juga berhasil sholat jum&amp;rsquo;at, sayangnya aku masih gemetaran. Sepertinya memang masih butuh waktu untuk membiasakan. Bukan masalah. Satu-satunya hal yang sempat menjadi masalahku adalah uang. Sakit dan tidak lagi bekerja membuatku tidak punya uang. Ingin meminta ke orangtua pun rasanya tak mungkin. Aku sempat stress karena itu. Tapi sekarang tidak lagi. Aku sempat membuat batas-batas yang aku tulis sendiri. Namun, kini aku tidak peduli. Aku akan melakukan apapun. Aku akan menerobos batasku sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ah iya, aku juga ingin bercerita perihal perasaanku yang tidak stabil. Tiap malam aku bisa tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab. Sedih yang benar-benar sedih. Bahkan video kucing tak lagi mampu menghilangkan sedihku. Tapi aku tidak pernah tau kenapa. Aku &lt;em&gt;browsing&lt;/em&gt; di internet, dan aku menemukan bahwa itu bisa jadi merupakan efek samping dari obat yang aku konsumsi tiap hari. Agak ironi bukan, antidepresan tapi malah membuatku seperti depresi tiap malam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Merasakan kesedihan yang aneh ini membuatku sedikit memahami beberapa hal yang dulu bagiku aneh dan tidak masuk akal. Merasakan sedih tanpa sebab membuatku berubah pikiran mengenai beberapa hal. Aku jadi agak sedikit paham mengapa Kurt Cobain menembakkan pistol ke mulutnya sendiri, atau mengapa beberapa orang memilih mengiris(atau menggores) tangannya sendiri. Barangkali terkadang sakit fisik memang lebih melegakan ketimbang kesedihan yang tidak jelas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, tapi semuanya terasa suram, gelap, sepi, kosong dan sedih(yang sialnya tidak jelas kenapa). Aku ingat dulu pernah sok tahu dan sok menasehati temanku yang merasakan kesedihan. Aku minta maaf kawan. Kini aku tahu rasanya. Ternyata memang benar, yang bisa kita lakukan hanya menangis(dan bercerita, barangkali). Sisanya tidak penting, sebab perasaan sedih itu menihilkan segalanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meski begitu, aku tidak apa-apa. Aku sudah mengalami perasaan itu beberapa kali. Aku sudah bisa mengatasinya. Aku melampiaskan semuanya dengan menulis. Aku baik-baik saja. Menulis jurnal harian seperti ini sekarang terasa menyenangkan. Aku tahu tidak akan ada orang yang membaca jurnal ini, aku jadi merasa seperti omong sendiri, bahkan kadang aku merasa ini seperti &amp;ldquo;masturbasi&amp;rdquo;. Semuanya demi &amp;ldquo;aku&amp;rdquo; sendiri. Sangat egois bukan. Tapi yasudahlah. Ini jurnalku. Aku yang berkuasa di sini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Akhir-akhir ini aku juga mulai aktif lagi menggunakan akun instagram. Aku mulai memposting foto-foto hal yang menyenangkan dan berkenang bagiku. Sepertinya, aku akan menggunakan instagram sebagai galeri kenanganku. Lagi-lagi semuanya tentang &amp;ldquo;aku&amp;rdquo;. Hahaha&amp;hellip; persetan. Aku sudah lelah memikirkan hal lain. Aku sudah minum obat dan aku mengantuk. Satu hal yang ingin aku lakukan setelah ini adalah tidur dengan tenang. Ah iya, sialnya aku punya hutang. Jadi, mari berdoa semoga besok aku masih bisa bangun pagi dengan bugar. Jika tidak, setidaknya aku sudah menulis ini. TOLONG INGATKAN KELUARGAKU AKU PUNYA HUTANG :)&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>140622</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1406221/</link>
      <pubDate>Thu, 14 Jul 2022 18:51:23 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1406221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini di pagi hari tanggal 15. Semalam entah kenapa aku panik dan kelelahan. Clobazam juga akhir-akhir terasa lebih efektif. Aku bisa langsung mengantuk hanya beberapa menit setelah meminumnya. Sepertinya tubuhku mulai bisa menerima. Alhamdulillah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kabar baik yang mau aku ceritakan adalah, aku sudah bisa mengendarai motor lagi. Meski belum berani jauh-jauh, tapi ini perkembangan yang sangat baik. yakan? Terima kasih kepada mas tanto bengkel yang sudah menghidupkan kembali motor bututku. Terima kasih kepada bapak yang sudah membayarkan biaya servis motorku. Aku sayang kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Aku mau membalas langsung tapi apalah dayaku yang lemah ini, huhu&amp;hellip;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelahnya, aku mau curhat saja. Paket dataku mau habis, aku bahkan tak tahu apakah tulisan ini akan terposting di web atau tidak. Aku kehabisan uang. Aku bisa saja berhutang, tapi sekarang aku tak pernah yakin akan hidup sampai kapan, kalau belum lunas tapi mati duluan kan gaenak ya.. gimana bayarnya coba. Aku juga bisa saja mencuri, tapi jangan deh, itu berdosa, dan tidak bermoral. Jadi, Ya Tuhan, Aku sudah beriman. Tadi aku juga sholat. Tolong beri aku uang. Aku harus beli paket data. Koneksi internet adalah kebutuhan hidup yarabb. aammmiiin.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Diluar itu semua, pagi ini aku masih bangun lagi, artinya aku masih hidup. Aku masih punya beberapa batang rokok dan Dunia masih layak huni. Aku baik-baik saja. Dunia(setidaknya duniaku) baik-baik saja. Mari kita jalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Semangat!&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>CINTA (1)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1306221/</link>
      <pubDate>Wed, 13 Jul 2022 17:12:59 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1306221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Kali ini aku mau berhenti cerita soal diriku, sebab hari ini aku tidak melakukan apa-apa(maaf teman KKN tapi sumpah hari ini aku merasa lemah serta tidak stabil sehingga sepertinya akan mengganggu kalo ikut kalian jadi hari ini aku skip dulu ya, lovyu) dan aku sedih dan aku merasa aku mau jadi tai saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi mari baca ceritaku tentang cinta.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bicara cinta, aku bisa saja mengutip konsep cinta ala-ala filsuf dan sastrawan yang fafifuwasweswos &lt;em&gt;ndakik-ndakik ra kecandak akal&lt;/em&gt;. Tapi, karena ini ceritaku, dan di jurnal pribadiku, maka aku akan bercerita cinta versiku sendiri. Kalian yang tidak sepaham tidak boleh protes. Kalau mau berantem ya ayo-ayo saja, aku tidak &lt;em&gt;wedi&lt;/em&gt; soalnya aku sedang &lt;em&gt;macak gentho&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku mengenal konsep cinta pertama kali dari orang tuaku. Mereka berkata bahwa aku ada karena mereka yang saling mencintai satu sama lain. Ketika itu aku iya-iya saja dengan konsep seperti itu. Aku mesih kecil, yang aku pedulikan hanya harga chiki dan 5 milkita setara segelas susu. Semakin beranjak remaja, aku mengenal bahwa cinta adalah hubungan timbal balik yang sangat intens antara satu orang manusia dengan manusia lain. Sederhananya begini, aku dan seorang-mbak2 terlibat cinta. aku dan dia menjalin hubungan timbal balik, misal saling mengobrol atau bermain bersama, hanya saja frekuensinya sangat sering. Kalau tidak sering atau biasa saja, itu bukan cinta, itu cuma teman.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berikutnya, aku mengenal konsep lain tentang cinta. Cinta menjadi bukan hanya hubungan timbal-balik yang intens antar manusia tapi juga disertai hak dan kewajiban untuk saling menyerahkan diri atau saling menguasai satu sama lain. Contohnya begini, aku dan seorang-mbak2 saling mencinta, maka aku dan beliau saling punya hak untuk mengatur hidup satu sama lain, misalnya aku boleh-boleh saja mengatur si mbak agar tidak pergi ke tempat A dan si mbak boleh-boleh saja memaksa aku untuk mengantarnya ke kutub utara. Begitulah cinta, aku menguasai si mbak dan si mbak menguasaiku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Belakangan aku punya pemahaman lain lagi tentang cinta. Cinta itu urusan perasaan. Cinta adalah urusan privat, seperti iman. Cinta bukan hubungan timbal balik. Cinta adalah sebuah peristiwa dimana neuron di otak bekerja dan menghasilkan hormon(yang entah apa namanya) yang kemudian menghasilkan perasaan bahagia di pikiran kita. Cinta mungkin mirip-mirip dengan hasrat atau nafsu, tapi berbeda. Hasrat, meskipun sama-sama di otak, tapi hormon yang dihasilan beda(aku lupa apa namanya pokoknya kalian coba belajar neurologi deh). Makanya aku sangat tidak setuju dengan istilah bercinta di KBBI V yang diartikan atau dimaknai sebagai bersetubuh alias nge&lt;em&gt;sex&lt;/em&gt;. Cinta dan hubungan badan sangat berbeda bapak/ibu KBBI!!!!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pokoknya, saat ini aku memiliki paham bahwa cinta, nafsu, dan komitmen itu hal yang berbeda. Dua orang bisa saja saling mencintai tanpa saling memiliki satu sama lain(Seperti sayap-sayap patahnya kahlil gibran ituloh). Seseorang bisa saja mencintai orang lain tanpa orang lain itu balik mencintainya(Seperti cintaku dengannya). Bahkan seseorang bisa saja mencintai orang lain tanpa orang lain itu tahu. Dan itu semua baik-baik saja. &lt;strong&gt;Sebab cinta adalah urusan perasaan orang yang sedang jatuh cinta itu sendiri&lt;/strong&gt;, orang yang dicintainya tidak harus tahu atau membalasnya. Ah iya, bahkan sekarang aku berpikiran bahwa cinta tidak harus atau tidak hanya hubungan antar orang(manusia). Belakangan aku pernah jatuh cinta pada bunga dan rembulan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Contoh cinta, bagiku, yang paling konkrit barangkali seperti hubungan seorang kpopers kepada idolnya, atau seorang wibu kepada tokoh anime pujaannya, atau bisa juga seorang prajurit kepada negaranya. Mereka rela meluangkan banyak waktu, melakukan banyak hal, dan bahkan mengorbankan banyak hal, untuk idol/waifu/negara yang dicintainya tanpa mendapatkan timbal balik dari idol/waifu/negara sebab mereka tidak peduli dengan itu, mereka meluangkan waktu, melakukan banyak hal, serta mengorbankan sesuatu bukan untuk mendapatkan timbal balik, melainkan murni karena perasaan bahagia yang muncul di otak(atau perasaan). Tapi, terlepas dari semua contoh itu, menurutku cinta yang paling baik dan paling tepat adalah cinta kepada nabi. Sebab &lt;em&gt;siapa yang cinta pada nabinya pasti bahagia dalam hidupnya~&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ndash;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ah iya, beberapa orang ada yang cinta pada ideologi. wahai para idealis, sudahlah, hentikan cintamu itu, hentikan mimpi utopismu, bangun dan mari kita cintai saja hidup yang seperti ini. &lt;strong&gt;fatum brutum amor fati.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>12 Juli 22</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1206221/</link>
      <pubDate>Tue, 12 Jul 2022 19:52:51 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1206221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini di malam hari. Aku baru saja bangun tidur, minum obat, dan setelah ini berusaha tidur lagi. Entah mengapa belakangan ini aku suka sekali tidur. Terkadang aku berharap aku tertidur dan tidak bangun lagi. Sepertinya obatku mulai efektif. Susah tidurku berganti hobi tidur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seharian ini aku melakukan dengan banyak hal. Pagi tadi aku berkumpul bersama teman satu kelompok KKN. Sebelumnya, karena aku sedang tidak bisa berkendara(aku selalu pusing dan serasa melayang ketika berkendara sendiri), untuk pertama(atau kedua, aku lupa)kalinya aku naik gojek. Ternyata dari rumah ke kampus lumayan mahal, bisa untuk makan nasi ayam kremes di kantin kampus dua porsi. Tapi pengalaman naik gojek cukup menyenangkan, aku bercerita banyak hal dengan bapak gojek. Aku juga jadi tahu, jika sebenarnya masyarakat(dalam hal ini diwakili bapak gojek) cukup memperhatikan aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa. Sayang aku sudah lama kehilangan hasrat melawan(hassek). Pokoknya, doa baik untuk teman-teman aktivis, panjang umur perjuangan!!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sampai di kampus, entah mengapa kecemasanku kambuh. Aku sesak, ketakutan, dan gemetar. Beruntung teman satu kelompok KKNku bisa mengerti. Aku diberi waktu untuk diam menikmati kecemasanku. Terima kasih teman-teman, kalian baik sekali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selesai urusan KKN, aku cukup kebingungan untuk pulang. Naik gojek lagi, bagiku cukup mahal. Beruntung ada seseorang bernama Danang. Ia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Terima Kasih pak. Anda baik sekali. Belakangan ini aku memang sering sekali ditolong(atau bergantung) oleh bantuan-bantuan orang lain. Aku mulai merasa memang sebenarnya manusia-manusia baik masih sangat banyak. Semoga kalian berkembang biak, dan melahirkan penerus yang sama baiknya. Sungguh, spesies kita akan lebih baik jika kalian melahirkan penerus yang sama seperti kalian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sesampainya di rumah entah mengapa aku seperti kehabisan tenaga. Aku lemah dan tertidur. Aku lupa telah tidur berapa jam. Tapi sepertinya lama sekali. Aku bangun lagi untuk makan, dan tiba-tiba aku merasa sedih. Tapi kali ini aku biasa saja, maksudku aku tetap merasa sedih tapi aku sudah tidak heran. Sepertinya emosiku memang aneh dan tidak terkontrol. Aku menyerah mengaturnya, pokoknya mau sedih, senang, atau bagaimanapun terserah, aku ngikut ajah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sembari menikmati kesedihan, aku melihat hamster peliharaan adikku. Terkadang aku heran, mengapa makhluk kenyal berbulu seperti itu bisa bertahan hidup dan lolos seleksi alam. Cukup lama aku mengamati hamster yang tidur dan berguling tidak jelas. Aku tidak paham apa yang mereka lakukan. Aku juga penasaran dengan apa yang mereka pikirkan. Sayangnya aku bukan nabi sulaiman.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lelah mengamati hamster yang hanya tidur saja. Aku keluar rumah. Aku melihat bulan. Cantik. Tertutup awan. Cahayanya sedikit buram. Tapi justru karena itu aku merasa bulan malam ini sangat cantik. Aku terinspirasi untuk menulis puisi, tapi gagal. Aku sudah lama tidak menulis puisi. Sepertinya kemampuan menulis puisiku sedang menghilang. Bukan masalah sih. Toh aku bukan sastrawan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku lalu masuk kembali ke rumah dan berpikiran untuk menulis jurnal harian saja. Tidak terasa sudah lebih dari dua minggu aku rutin menulis jurnal harian. Aku merasa menulis jurnal seperti ini cukup menyenangkan. Aku menulis dan bercerita semauku. Sebebasku. Aku bisa jujur dan berterus terang. Aku seperti telanjang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebelumnya aku berpandangan untuk mengisi jurnal ini dengan tulisan-tulisan harian yang cukup berisi. Bukan sekedar cerita omong kosong seperti ini. Yaah.. harapanku sih paling tidak aku bisa menulis catatan harian seperti ahmad wahib atau soe hok gie. Tapi nyatanya, meski ahmad wahib, soe hok gie, dan aku sama-sama mahasiswa perbedaan kualitas kami jelas terlihat. Aku sampah. Tapi yasudahlah. Hidup memang seperti itu bukan. Aku bahagia bisa bercerita. Aku senang bisa menulis. Sekarang, aku mau tidur. Semoga semua makhluk hidup yang baik bisa hidup bahagia. &lt;em&gt;Lovyu gaes&amp;hellip;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>KKN (1)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1106221/</link>
      <pubDate>Mon, 11 Jul 2022 23:24:45 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1106221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini hari pertama aku KKN. Dimulai dengan apel atau upacara pada pagi harinya, aku sempat berpikiran untuk mengundurkan diri saja. Terlebih ketika aku tahu bahwa lokasi penempatanku ternyata cukup jauh. Namun dengan pertimbangan bahwa mengundurkan diri dari KKN belum tentu membuat KKNku di periode berikutnya lebih baik dari periode ini, aku memutuskan untuk tetap ikut.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku berangkat ke kampus bersama kikik(terima kasih banyak kik, sumpah, tanpamu aku tidak akan sampai kampus) lalu segera berkumpul di lapangan(atau lebih tepatnya halaman) untuk melaksanakan apel/upacara pelepasan. Aku sudah menduga(meskipun sebenarnya aku sangat berharap agar tidak) kecemasanku akan kambuh, sehingga aku memilih posisi di paling belakang. Pikirku, di bagian belakang sedikit lebih lega dan tidak terlalu berkerumun. Upacara dimulai. Baru beberapa saat, yang aku duga terjadi. Yap, kecemasanku kambuh. Aku sesak napas, kedinginan, dan mulai gemetar. Aku juga mulai pusing. Aku memutuskan untuk mundur dan duduk saja di belakang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku tidak peduli lagi dengan apa yang disampaikan pembicara di depan. Aku hanya berharap kecemasanku segera pergi. Aku juga mulai kepikiran untuk pulang dan tidak jadi ikut pergi ke lokasi KKN. Namun, di tengah kecemasanku yang masih bertahan tiba-tiba ada seorang perempuan menyapaku. Ternyata dia satu kelompok KKN denganku, dan ternyata dia mengenalku karena kita pernah berada pada satu tempat kerja yang sama. Meskipun sedang cemas, aku berusaha ramah dan mengobrol dengannya. Mengobrol dengan dia(maaf mbak sampai sekarang aku belum ingat siapa namamu) ternyata membantu menngurangi kecemasanku, meskipun aku masih pusing dan tidak sanggup berdiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tidak lama kemudian, upacara selesai. Kerumunan bubar. Aku membaik(alhamdulillah). Aku lalu berkumpul dengan kelompok KKNku. Meskipun kami(atau aku) baru bertemu secara langsung untuk pertama kalinya, aku merasa kami cocok dan segera akrab sebagai sebuah tim. Mengobrol dan bercanda dengan mereka membuatku semakin membaik. Sebelum berangkat ke lokasi, kami sempat sarapan bersama. Karena aku tidak mau jikalau karena tiba-tiba kecemasanku kambuh ketika aku KKN bisa mengganggu mereka. Aku menceritakan kondisiku kepada mereka. Syukur mereka bisa mengerti kondisiku dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di lokasi, kami melakukan segala hal yang kami perlukan. Sisanya, kami menikmati suasana dan kembali mengobrol. Secara pribadi, aku merasa kami sangat cocok satu sama lain. Aku juga merasa jadi semakin membaik. Semoga kami bisa terus bekerja sama dengan baik hingga KKN selesai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ndash;
Terima kasih kepada Fazza, meskipun kita baru pertama kali kenal, aku telah menghabiskan rokokmu hingga dua batang. Terima kasih juga kepada Danang, anda ketua yang baik pak. Terima Kasih sudah mengantar salah satu anggotamu ini sampai rumah. Terakhir, terima Kasih kepada Kikik, Linggar, dan Wisnu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;pokokmen aku bocahmu. Ono sing wani gegeran karo koe, aku siap maju!&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Minggu Cerita</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/1006221/</link>
      <pubDate>Sun, 10 Jul 2022 14:26:58 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/1006221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Semalam aku tidur menjelang pagi. Sebelumnya aku ngopi(tapi aku tidak minum kopi) bersama beberapa kawan. Aku ingin melihat apakah aku akan kambuh lagi atau tidak, ternyata tidak. Aku sukses ngopi(atau nongkrong) dengan aman. Aku juga merokok lagi(maaf dokter). Aku merasa lebih baik ketika merokok.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pagi harinya aku menyiapkan diri untuk sholat idul adha. Ini akan menjadi hari ke-3 aku berani keluar dan berada dalam kerumunan. Aku sarapan(aku tau sunnah idul adha makannya habis sholat, tapi aku harus makan sebelum minum obat) lalu minum &lt;a href=&#34;https://en.wikipedia.org/wiki/Fluoxetine&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;Fluoxetine&lt;/a&gt;. Aku siap sholat idul adha.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di menit-menit pertama sholat, &lt;em&gt;alhamdulillah&lt;/em&gt; aku baik-baik saja. Namun selanjutnya, kecemasanku kambuh. Aku mendadak sesak napas, tangan dan kakiku dingin, namun kali ini aku tidak sampai gemetar. Aku masih sanggup berdiri dengan tenang. Aku merasakan semua kecemasan itu hingga salam. Aku sempat berencana kabur dan pergi saja ketika sesi khotbah, tapi pada akhirnya aku mencoba untuk tetap bertahan. &lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt; kecemasanku mereda. Aku kembali normal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pulang dari sholat idul adha, aku mengobrol cukup panjang dengan adikku. Aku ceritakan semua yang aku rasakan kepadanya. Adikku juga bercerita bahwa ia sebenarnya juga tidak baik-baik saja. Ia sering melakukan &lt;em&gt;&lt;a href=&#34;https://satupersen.net/blog/mengenal-self-harm&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;self-harm&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. Aku lalu mendengarkan ceritanya. Aku menjadi sadar akan banyak hal. Aku yang terlalu cuek. Aku yang tak peka dan lain sebagainya. Aku merasa bersalah. Kami juga sempat berbicara mengenai masa depan. Sayangnya di bagian ini kami sama-sama memiliki pandangan yang suram.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meskipun begitu, aku yakin hidup kami akan baik-baik saja. Ataupun jika memang tidak baik-baik saja, aku yakin kami bisa bertahan. Terutama adikku. Dia kuat. Dia hebat. Jika dibandingkan dengan dia, aku tak ada apa-apanya. Misalkan dunia tiba-tiba overpopulasi, dan alam memilih 1 yang terbaik dari tiap keluarga. Aku yakin dalam keluarga kami, adikku yang akan lolos. Ohiya, dalam waktu dekat ini dia akan menjadi mahasiswi(beri tepuk tangan..!!!!)&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;Lampiran : Sebuah surat untuk adik&lt;br&gt;
dari : Akulah, siapa lagi&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selamat menapaki dunia baru pencarian ilmu, is! Kamu yang telah memilih langkah ini, dan kamu berhasil. Aku yakin kedepannya juga akan berhasil. Bahkan sejak awal aku yakin kamu akan berhasil. kalaupun gagal, brarti yang ngasih nilai yang salah. Pokoknya kamu hebat! Aku bukan feminis, tapi kalau ada lelaki misoginis yang bilang perempuan lebih lemah dari laki-laki. Aku akan pukul wajahnya. Sebab aku tahu betul, ada perempuan yang setara (atau kalau laki-laki yang menjadi pembandingnya adalah aku, kamu sudah jelas lebih hebat) dengan laki-laki, dan perempuan itu salah satunya adalah kamu! Terkait masalahmu, kamu tahu aku sendiri bagaimana, dengan urusan mentalku sendiri saja aku payah, jadi saranku tetap sama seperti ketika kita mengobrol tadi, mari periksa ke dokter. Tapi kalau kamu butuh tempat cerita, kamu bisa cerita ke aku. Aku bisa mendengarkan dengan baik. Dan santai saja rahasiamu aman dari orang tua kita(asal kamu juga menjaga rahasiaku tentu saja wkwkwk). Pokoknya, jangan mati duluan(dan jangan membunuhku, aku tidak keberatan mati tapi tidak dengan cara yang tidak baik). Kita tidak dilahirkan untuk balapan mati.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Lari Pagi(2)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0906221/</link>
      <pubDate>Sat, 09 Jul 2022 07:07:05 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0906221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Semalam aku tidur agak terlambat. Tapi sepertinya, setelah sekian lama(aku lupa sudah berapa minggu) aku mengonsumsi &lt;a href=&#34;https://en.wikipedia.org/wiki/Clobazam&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;clobazam&lt;/a&gt; kini obat itu mulai efektif untukku. Aku tidur dengan tenang. Benar-benar tenang. Menyenangkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi aku bangun lagi pagi ini. Sebenarnya aku ingin merasa sedih, namun tak ada waktu. Kaktusku jatuh dari jendela. Aku harus menolongnya. Hidup kaktus lebih penting dari rasa sedihku. Saat merawat(menanam kembali) kaktus, aku lihat bapakku sedang bersiap untuk lari pagi. Aku jadi teringat kembali akan keinginanku lari pagi. Maka seketika itu juga langsung aku kenakan kaus kaki dan sepatu(aku pakai sepatu proyek/sepatu kuliah karena sepatu lariku salah ukuran). Dan Aku lari pagi! Huhu. Akhirnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa meter pertama semua terasa menyenangkan. Ini mudah saja, begitu batinku. Aku terus berlari. Hingga beberapa meter berikutnya, aku mulai kehabisan napas. Sial. Ternyata cukup melelahkan. Aku memaksakan diriku. Aku terus berlari dengan penuh semangat. Aku merasa aku telah mengerahkan segenap kesungguhan dan kemampuan fisikku. Aku sudah total. Aku sudah maksimal. Yap, aku merasa aku hebat. &lt;strong&gt;Hingga SEORANG KAKEK-KAKEK yang bahkan terlihat lebih tua dari kakekku berlari mendahuluiku dengan santainya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Boom. Seketika itu aku merasa lemah. Sangat lemah dan payah. Aku mencoba mendahului, ah tidak, aku mencoba menyamai kecepatan lari kakek itu tapi aku tak sanggup. Napasku sudah tinggal satu-satu. Jantungku berdegup kencang. Pandanganku mulai kabur(mataku memang sudah minus btw). Langkahku sudah goyang. Ah, sudahlah. Persetan dengan harga diri. Aku menyerah. Aku akan lari lagi besok pagi. Yang penting konsistensi boss!!!!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebelum menulis tulisan ini aku mengukur rute lariku. Aku merasa sudah lari puluhan kilometer, namun ternyata hanya ratusan meter. 🥲&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pada intinya, hari ini aku berhasil lari pagi(tepuk tangan). Itu sebuah kemajuan besar. Aku bangga dengan drirku sendiri. Semoga aku berhasil lari lagi di pagi-pagi berikutnya.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>080622</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0806221/</link>
      <pubDate>Fri, 08 Jul 2022 20:59:55 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0806221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini hari kedua aku memberanikan diri keluar. Aku merasa lebih baik. Aku masih merasakan cemas dan jantungku terus berdebar tidak teratur di awal, tapi kini itu tidak lama. Aku bisa mengatasinya. Di hari kedua ini aku juga berkumpul dengan orang-orang baru. Aku penasaran apakah aku akan cemas tak terkontrol lagi. Ternyata tidak. Aku bisa tetap tenang(terima kasih iqbal). Aku juga sudah bisa sholat berjamaah hari ini. Meski masih terasa berat dan aku masih sesak napas, Tapi aku bisa tetap berdiri tegak dan tidak gemetar terlalu parah. Pada intinya, aku merasa aku membaik. Sangat membaik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini aku juga sempat mengobrol cukup lama dengan linggar dan wisnu. Aku jadi mengenang kembali hari-hari di mana aku belum sekacau ini. Aku jadi sadar, barangkali memang sejak awal aku sudah sakit. Dulu aku memang sering mengalami serangan panik. Bahkan sampai tidak bisa melakukan apapun. Seringkali tiap perjalanan pulang dari main atau nongkrong. Aku berhenti mendadak dan berdiam diri di pinggir jalan hanya karena tiba-tiba terkena panik. Namun intensitasnya tidak sering, dan tidak terpola. Jadi aku mengabaikan itu semua. Aku juga tidak menganggap itu mengganggu. Sampai pada akhirnya kini terakumulasi dan aku menjadi sekacau ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mengenang masa-masa itu, aku jadi teringat ketika pertama kali aku menjadi kacau. Aku mengalami serangan panic semalaman. Aku tidak bisa tidur. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun. Aku kebingungan dan hanya bisa menangis. Ketika orang tuaku bertanya apa yang aku rasakan? aku bahkan tidak bisa menjawab. Aku hanya menangis. Aku sempat berharap, aku lebih baik mati saja hari itu. Tapi nyatanya aku tetap hidup. Hanya saja aku menjadi sangat berbeda. Aku menjadi sangat kacau. Aku meninggalkan semua tanggung jawabku. Aku menarik diri dari semua aktivitas keorganisasianku. Aku tak lagi sanggup berkumpul dengan orang lain, apalagi berbicara di depan umum. Aku bahkan tak berani keluar rumah. Aku menghilang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, seperti ceritaku di awal tadi. Kini aku membaik. Sangat membaik(meski masih harus menjadi konsumen tetap antidepresan tiap pagi dan malam). Aku sangat bersyukur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mengenang masa-masa itu juga membuatku teringat bagaimana aku bisa sampai tahap ini, bagaimana pada akhirnya aku bisa membaik. Oleh karena itu aku ingin berterima kasih kepada seseorang. Sebenarnya aku ingin menyampaikan rasa terima kasih ini melalui pesan pribadi kemarin. Namun aku sedang tidak dalam kondisi yang baik, Jadi aku akan menyampaikan pesanku dalam tulisan hari ini saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ndash;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hai, Kamu&lt;br&gt;
Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini lewat chat pribadi saja, namun aku tidak bisa. Aku juga ingin menyampaikan ini dengan mengobrol langsung denganmu, tapi aku tidak sanggup. Aku memang sepayah itu wkwkwk.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ingin berterima kasih. Sangat-sangat berterima kasih. Aku ingat bagaimana aku tidak sengaja(ketika itu aku sedang dalam pengaruh ****) memberimu pesan rahasia lewat telegram, dan kamu menanggapi. Aku bercerita banyak hal(kali ini lupa aku bercerita apa saja). Cerita yang tentu sangat tidak penting bagimu, namun kamu tetap menanggapi. Terima Kasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku juga ingat bagaimana aku suatu hari(aku lupa kenapa) aku cerita kepadamu tentang aku yang merasa aneh. Aku yang merasa sakit. Kamu bisa saja mengabaikanku. Namun sekali lagi kamu mau menanggapi. Terima Kasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku juga jadi ingat bagaimana kamu bersikeras menyuruhku untuk periksa. Padahal kamu bisa saja bersikap bodo amat. Toh akupun belum tentu menuruti saranmu. Namun, sekarang beginilah aku. Aku periksa ke dokter. Aku diberi obat. Aku membaik. Aku bersyukur mengikuti saranmu. Terima Kasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Juga di hari pertama aku ingin keluar. Kecemasan itu datang lagi. Aku terjebak ketakutan. Sungguh ketika itu rasanya sangat mengerikan. Aku hanya menangis dan menulis jurnal. Berharap kecemasan itu pergi. Namun, kamu menanggapi. Kamu memberi pesan bahwa aku akan baik-baik saja. Dan kamu benar. Aku baik-baik saja. Terima Kasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku minta maaf jika selama ini aku telah mengganggumu. Terkadang aku tidak sadar mengapa aku memilih bercerita kepadamu dari pada orang lain. Aku minta maaf. Sungguh minta maaf. Aku juga minta maaf jika telah membuatmu tidak nyaman. Semoga kamu mau memaafkanku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sungguh, kamu orang baik. Semoga kamu selalu diberi kebaikan. Aku tidak tau bagaimana membalas kebaikanmu. Aku harap kamu tidak keberatan untuk meminta bantuanku jika perlu. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan membantumu. Aku berhutang padamu.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>070622(2)</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0706222/</link>
      <pubDate>Thu, 07 Jul 2022 20:39:44 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0706222/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini saat malam hari. Sejak siang tadi aku masih merasa sedih. Sedih yang sangat-sangat sedih. Aku tidak tau bagaimana menggambarkannya dengan kata-kata. Rasa sedih ini terasa menusuk di dada. Aku tidak masalah dengan rasa sedihnya. Aku hanya bingung mengapa aku sedih. Aku coba mengabaikannya tapi tidak bisa. Aku tenggelam dalam kesedihan yang aneh dan tidak jelas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sudah bercerita dengan temanku, adikku, bahkan ibuku. Aku sudah makan. Aku juga sudah minum obat. Aku sudah melakukan apa yang bisa aku lakukan. Setelah ini aku hanya berharap aku bisa tidur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku akan mengabaikan semuanya. Aku tidak peduli lagi pada apapun. Aku tidak peduli lagi pada senang dan sedihku. Apapun yang akan terjadi, Aku tidak peduli. Aku menerima semuanya. Hal yang perlu aku lakukan hanyalah tidur.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>070622</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0706221/</link>
      <pubDate>Thu, 07 Jul 2022 16:13:48 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0706221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini aku bangun pagi dan menghabiskan seperempat hariku menyimak seminar yang entah membicarakan apa. Aku bercanda dengan beberapa orang di kolom chat. Mereka lucu. Semuanya terasa menyenangkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Siang harinya tiba-tiba aku merasa sedih. Aku mencoba mencari tau mengapa aku sedih, tapi nihil. Aku tak merasa ada hal yang perlu kusedihkan hari ini. Aku mencoba mengabaikannya. Sialnya itu sulit sekali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku menulis tulisan ini di sore hari. Rasa sedih itu masih belum hilang. Aku juga masih belum menemukan alasan mengapa aku merasa sedih. Aku telah mencoba mendengarkan lagu, bermain game, membaca buku, menonton video lucu, menonton film, bahkan membaca doa tapi aku masih tetap sedih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku pernah membaca buku tentang psikologi manusia, seingatku memang rasa sedih dan senang itu dinamis. Perasaan itu akan selalu datang dan pergi. bergantian. berubah-ubah. Itu normal dan bukan masalah. Tapi membaca dengan merasakan langsung memang berbeda. Rasa sedih tanpa alasan yang jelas ini sangat mengganggu. Aku ingin curhat dengan orang lain tapi bagaimana???? sedangkan aku sendiri tidak tau mengapa aku sedih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aaaarrgh. Entahlah. Aku sedih. Aku bingung mengapa aku sedih dan Aku tidak tau ingin menulis apa lagi.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Teman</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0606222/</link>
      <pubDate>Wed, 06 Jul 2022 19:16:36 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0606222/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Kalau tidak salah, seingatku dalam salah satu naskahnya, sartre pernah berkata bahwa &lt;em&gt;The other people are hell&lt;/em&gt;. Orang lain adalah neraka. Aku mengamininya secara literal. Aku percaya bahwa orang lain benar-benar neraka. Aku tahu sebagai seorang filsuf, beliau(sartre) pasti punya makna lain yang tidak &lt;em&gt;literelly&lt;/em&gt; seperti itu, tapi sudahlah, aku bukan filsuf dan sartre sudah mati. Pokoknya aku setuju orang-orang lain itu mengerikan. Terlebih ketika aku menderita &lt;a href=&#34;https://www.icd10data.com/ICD10CM/Codes/F01-F99/F40-F48/F41-/F41.1#:~:text=1%3A%20Generalized%20anxiety%20disorder&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;gangguan kecemasan&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bersama orang lain, benar-benar seperti neraka. Aku cemas, sesak napas, dan kehilangan kendali akan diriku sendiri. Lebih parahnya lagi, aku tidak tau kenapa. Semua terjadi begitu saja. Seperti hukum alam. Seperti dalang pembunuhan munir. Seperti keberadaan harun masiku. &lt;strong&gt;misteri.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi, hari ini aku menyadari bahwa tidak semua orang lain adalah neraka. Beberapa diantaranya adalah surga(jangan dipahami secara literal, ini bahasa filsuf).  Orang-orang lain ini aku sebut sebagai teman. Setahuku, banyak sekali definisi teman. Mulai dari definisi yang biasa saja sampai yang fafifuwasweswos penuh majas dan omong kosong. Banyak juga yang mengklasifikasikan atau meng-kelas-kelas-kan teman. Ada teman sejati. Teman dekat. Teman biasa. Hingga Teman dengan keuntungan alias &lt;em&gt;friend with benefit&lt;/em&gt; (kalo salah bodo amat ini bukan tulisan serius).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sendiri mengartikan teman sebagai hubungan antar makhluk dimana saling mengenal satu sama lain. Tidak perlu dekat. Tidak perlu akrab. Yang penting sama-sama kenal, maka kita teman. Bahkan tidak perlu manusia. Seperti lirik salah satu lagu iwan fals, &lt;em&gt;aku berteman iblis yang baik hati~&lt;/em&gt; Aku kenal kamu, kamu kenal aku maka kamu adalah teman. &lt;em&gt;That&amp;rsquo;s it. That&amp;rsquo;s all.&lt;/em&gt;  tetapi hari ini tidak lagi seperti itu. Aku merasa teman adalah juga apa yang tadi aku sebut sebagai surga(sekali lagi, jangan dipahami secara literal, ini bahasa filsuf).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ceritanya sebagai berikut :&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini aku bertemu banyak orang lain. Pada awalnya, aku merasa aku akan seperti berada di neraka. Aku ingin lari. Aku ingin kabur. Aku ingin menghindar. Tapi (terima kasih wisnu) aku sudah bertekad untuk tidak menghindar lagi. Aku sudah berjanji untuk tidak sembunyi lagi. Aku ingin keluar. Maka berbekal afirmasi bahwa aku akan baik-baik saja (kali ini terima kasih wulan), aku datang dan bertemu orang-orang lain. Sesuai dugaan, cemas itu datang lagi. Ketakutan tidak jelas itu muncul kembali. Padahal aku sudah minum obat. Aku mulai kedinginan dan kehilangan kendali. Aku hampir ingin keluar dan kabur saja. Tapi gengsi memaksaku untuk tetap bertahan. Meski di neraka sekalipun(harga diri nomor satu brou).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Orang-orang lain semakin banyak. Aku bersalaman dan bertegur sapa dengan mereka satu-persatu. Aku merasa sebentar lagi aku seperti akan habis terbakar di neraka(lagi-lagi, ini bahasa filsuf). Namun ternyata tidak, aku tidak di neraka. Perlahan tapi pasti, kecemasan ini hilang (meski aku masih tetap kedinginan). Aku mulai merasa baik-baik saja. Aku merasa berada di surga(tidak perlu dijelaskan, kamu tau maksudku). Orang-orang lain ini mengenalku. Aku mengenal orang-orang lain ini. Mereka adalah orang-orang lain dimana aku merasa baik-baik saja ketika bersama mereka. Mereka adalah Teman. Mereka adalah surga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lewat tulisan ini, aku ingin berterima kasih kepada mereka. Kepada teman-temanku. Aku bersyukur kita berada pada salah satu titik ruang dan waktu yang sama. Aku bersyukur takdir mempertemukan kita. Sungguh, meski ini seperti berlebihan, tapi kalian adalah surga.(sebagaimana sebelumnya, jangan pahami ini secara literal).&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Selanjutnya ini adalah ucapan khusus kepada orang-orang khusus. kamu tidak perlu membacanya jika tidak gabut atau tidak &lt;em&gt;selo&lt;/em&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ucapan terima kasih spesial kepada kikik, terima kasih sudah &lt;em&gt;membarengi saya&lt;/em&gt; tanpamu aku tidak akan bertemu surga(YKWIM). Terima kasih selanjutnya kepada  wisnu, tanpa motormu aku akan kehabisan obat dan dimarahi dokter. Terima kasih juga kepada deri, tanpamu motor wisnu bisa saja aku maling dan aku tidak jadi bertemu dokter. Yang terakhir, terima kasih kepada teman-teman basidua. aku bisa menyebut kalian satu-persatu tapi lebih baik tidak usah. Tulisan ini sudah terlalu panjang. Pada intinya, Terima Kasih. Lov u gaes.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Oh iya. Kepada wulan, nanti aku pc saja xixixi.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>060622</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0606221/</link>
      <pubDate>Wed, 06 Jul 2022 05:16:54 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0606221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku menulis ini di pagi hari. Semalam aku cemas dan ketakutan. Tapi pagi ini aku bangun lagi. Seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasanya. Artinya, Aku baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini aku akan menempuh hari yang panjang dan barangkali cukup melelahkan tapi aku akan bertemu teman-temanku. Aku juga akan bertemu dokter. Mereka semua akan membantuku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku sudah minum obat tiap malam. Aku juga akan minum obat lagi pagi ini. Aku sudah sarapan. Aku sudah memutuskan untuk berani keluar dan bertemu orang-orang. Aku sudah melakukan banyak hal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketakutan dan kecemasanku hanya sementara. Aku baik-baik saja.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>anxiety 5 juli</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0506222/</link>
      <pubDate>Tue, 05 Jul 2022 20:12:03 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0506222/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku kembali disergap kecemasan. Kali ini sangat menyakitkan. Aku sulit bernafas dan kedinginan. Tanganku gemetar. Pikiranku tak mampu aku kendalikan. Aku mencoba menulis ini untuk mengurangi kecemasanku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kamu takut?&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
tidak, atau ya. tapi menurutku aku hanya cemas.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Lalu kenapa sekhawatir itu?&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
entahlah, aku bingung dan susah berpikir.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Kamu sudah coba mengatur nafas?&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Sudah. Itu tidak membantu. Aku tetap sesak dan bingung.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Apa yang kamu cemaskan?&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Tidak tau.&lt;br&gt;
Ah iya, aku besok harus mengikuti acara cukup lama. Aku harus bertemu banyak orang. Aku juga harus bertemu dokter di sore harinya.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Lalu? apa yang kamu cemaskan&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Tidak tau. Aku bingung.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Semua itu hanya pikiranmu&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Tapi aku kesakitan. Rasa sakit ini nyata.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Tidak. itu hanya pikiranmu&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Aku mencoba meyakininya.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Abaikan semuanya, tak ada yang perlu dicemaskan, semua akan baik-baik saja&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Aku tau.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Kamu hanya perlu terbiasa. Pikiranmu memang sedang sakit, tapi itu tidak akan selamanya. Fisikmu baik-baiik saja. Hidupmu baik-baik saja&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Entahlah, aku sadar akan semua itu tapi aku tetap cemas.&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;Kamu hanya perlu terbiasa&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Ya, Aku akan terbiasa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku menulis ini sambil menangis. Persetan dengan pendapat orang. Aku memang lemah. Tapi aku tidak takut. Aku boleh mati kapan saja dan itu tidak apa-apa. Aku bisa kehilangan apapun dan itu tidak apa-apa. Hidup ini tidak selamanya. Aku hanya perlu menikmatinya. Aku menerima apapun yang terjadi. Sebab aku akan terbiasa. Aku akan terbiasa.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Bunga Pertama</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0506221/</link>
      <pubDate>Tue, 05 Jul 2022 11:40:36 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0506221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Aku sudah lupa-lupa ingat kisah nabi-nabi. Tapi hari ini tiba-tiba aku ingin mengingat kembali tentang kisah Nabi Adam. Dari sekian banyak kisah tentang beliau yang aku dengar atau baca, aku hanya ingat tentang bagaimana beliau diusir dari surga. Bagaimana beliau hidup di surga, aku lupa. atau barangkali aku memang tidak tahu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku penasaran, ketika beliau tiba di dunia(atau bumi), kira-kira seperti apakah pendapat beliau melihat bumi kita dibandingkan surga? Apakah sama? Atau mirip-mirip?  terutama pohon-pohon dan bunganya. Sebab setahuku di surga juga ada pohon, bahkan buah, maka tentu juga ada bunga. Apakah bunga di sini sama indahnya? ataukah jauh sekali jika dibandingkan bunga di surga? ah, atau jangan-jangan beliau tidak peduli. Sebab beliau harus menemukan siti hawa terlebih dahulu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Rasa penasaranku muncul sebab aku baru saja melihat bunga. Tentu ini bukan bunga pertama yang aku lihat. Tapi ini bunga pertama yang membuatku sadar akan keindahan bunga. Ah, barangkali memang aku yang selama ini bodoh dan tidak peduli. Bunga itu kecil. Berwarna putih. Tumbuh dari pohon yang entah apa nama atau jenisnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bunga itu muncul dari pohon begitu saja. Tanpa tanda-tanda. Aku menyirami pohon itu setiap tidak hujan. Terakhir kali aku menyirami pohon itu, ia terlihat biasa saja. Kecil. Pendek. Tumbuh seadanya dengan beberapa daun yang menguning. Aku merasa dekat dengan pohon itu karena kita mirip(barangkali ini perasaanku saja). namun, pagi ini daun-daun yang menguning itu hilang. Semua daunnya berwarma hijau segar dan di ujung-ujung batangnya terdapat bunga itu. Bunga kecil berwarna putih. Cantik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku pernah membaca bahwa perasaan manusia akan estetika (indah, cantik, dsb) itu sangat subjektif. Berbeda-beda tiap individu. Semua itu muncul dalam otak, dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu yang aku ingat adalah gen. Gen yang menurun dari leluhur-leluhur kita memiliki preferensinya masing-masing akan keindahan. Tapi sekarang bodo amat dengan semua itu. Aku masih tidak paham mengapa aku jatuh hati pada bunga putih kecil ini. Aku telah hidup setidaknya selama 21 tahun. Selama itu pula aku telah melihat banyak pohon dan bunga(meskipun tidak semua bunga, tapi banyak). Dan aku baru sadar bahwa bunga itu indah. Hari ini. Pagi tadi. Oleh bunga kecil putih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika entah bagaimana bunga putih kecil itu bisa tahu perasaanku. Aku ingin berkata bahwa sebagai bunga, kamu cantik. Aku bersyukur pernah melihatmu. Aku mencintaimu.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Anxiety 4 Juli</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0406221/</link>
      <pubDate>Mon, 04 Jul 2022 12:37:10 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0406221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hari ini aku berencana menulis mengenai berbagai hal, terutama bagaimana aku menghabiskan 2 bulan di rumah saja. Namun, terkadang rencana memang sekedar rencana. Semua ide tentang apa yang akan aku tulis tiba-tiba menghilang. Aku(lagi-lagi) merasa cemas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bukan masalah besar sebenarnya. Aku tau apa yang aku cemaskan dan aku telah mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja. Namun tetap saja aku merasa cemas. Yang paling mengganggu dari kecemasan ini adalah efek fisiknya yang terasa nyata. Jantungku berdebar tidak teratur. Kepalaku pusing. Nafasku tidak beraturan. Aku sulit berpikir. Aku kehilangan kontrol akan diriku sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika aku menulis tulisan ini, kecemasan itu telah pergi. Kini yang tersisa setelahnya adalah perasaan lelah dan mengantuk. Aku lelah dengan diriku sendiri. &lt;em&gt;Bodo amat&lt;/em&gt; dengan segalanya. Aku mau tidur.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Lari Pagi</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0306221/</link>
      <pubDate>Sun, 03 Jul 2022 06:30:57 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0306221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lari Pagi&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Sudah lama aku ingin lari pagi. Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa aku ingin lari. Pertama, aku kurang olahraga. Tubuhku sangat lemah, dokter menyarankan aku untuk berolahraga. Menurut beliau olahraga yang paling mudah dan efektif untukku adalah lari. Kedua, orangtuaku telah lama rutin lari pagi. Mereka bisa membangunkanku untuk bangun pagi dan aku bisa lari pagi bersama mereka. Aku punya &lt;em&gt;support system&lt;/em&gt; untuk memudahkanku berlari. Berikutnya, alasan ketiga adalah &lt;a href=&#34;https://www.youtube.com/watch?v=t1hoOwbfgME&#34; target=&#34;_blank&#34;&gt;video ini&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Niat dan Semangat&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Aku sangat ingin lari pagi. Kesungguhanku dalam keinginan untuk berlari bahkan membuatku membeli sepatu lari sebelum aku benar-benar berlari. Suatu tindakan gegabah dan impulsif yang kini aku sesali. Aku juga sudah menyiapkan rute yang akan aku lalui untuk berlari. Aku telah berlatih pemanasan untuk berlari. Aku bahkan telah melihat puluhan video youtube mengenai tips berlari. Namun, perencanaan dan eksekusi memanglah hal yang berbeda. Keinginan dan kenyataan adalah hal yang berbeda.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;gagal lari&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Niat dan semangat saja ternyata tidak cukup. Aku lupa ini sudah pagi ke-berapa aku gagal berlari. Aku lelah mencoba dan aku lelah menghitung telah berapa kali aku mencoba. Tubuhku seakan menolak untuk berlari. Tak peduli aku tidur malam jam berapa. Setiap pagi tubuhku selalu terasa mengantuk dan lemah. Aku coba memaksakan diri, tapi aku tak sanggup mengalahkan diriku sendiri. Beberapa hari ini tiap pagi aku juga harus minum obat. Obat yang membantuku menghilangkan rasa khawatir dan cemas tidak jelas, tapi membuatku lemah dan mengantuk setelah meminumnya. Ditambah lagi, sepatu lari yang aku beli ternyata tidak muat untuk aku pakai. Aku merasa takdir memang menuntunku untuk tidak lari pagi. Aku lebih baik tidur lagi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sejujurnya, aku masih ingin berlari. Entah di pagi ke berapa nantinya aku akan benar-benar berlari.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Apa yang kita cari?</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0206222/</link>
      <pubDate>Sat, 02 Jul 2022 18:52:38 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0206222/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Baru saja aku melihat status &lt;em&gt;whatsapp&lt;/em&gt; salah seorang teman. Status berupa &lt;em&gt;screenshot&lt;/em&gt; percakapan antara temanku dengan temannya yang sedang membicarakan masalah perbedaan pria dengan wanita. Temannnya temanku beranggapan bahwa pria mempunyai beban hidup yang lebih berat daripada wanita karena menurutnya pria dituntut untuk menghasilkan uang guna menghidupi keluarga. Temanku(yang seorang wanita) merasa keberatan dengan pendapat temannya tersebut, menurutnya tak ada bedanya antara pria dengan wanita, wanita juga dituntut dan berhak untuk menghasilkan uang, jadi menurutnya beban pria dan wanita sama, bahkan mungkin lebih berat wanita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Melihat status &lt;em&gt;whatsapp&lt;/em&gt; yang hanya beberapa detik itu entah mengapa membuatku berpikir, bukan masalah perbedaan peran pria atau wanitanya, tapi tentang pria atau wanita yang merasa dituntut menghasilkan uang. Aku berpikiran, bukankah sebenarnya tidak ada yang menuntut kita melakukan apapun. Tak ada yang menuntut kita harus menghasilkan uang. Bahkan tak ada yang menuntut kita untuk hidup. Beberapa dari kita sudah mati dan itu tidak apa-apa bukan? Jadi mengapa kita(manusia) seperti lelah dan kebingungan harus melakukan ini itu? sebenarnya apa yang kita lakukan? apa yang kita cari? apa yang ingin kita capai?&lt;/p&gt;
&lt;figure&gt;&lt;img src=&#34;https://pbs.twimg.com/media/FQZclJHVQAAbiim?format=jpg&amp;amp;name=medium&#34;/&gt;
&lt;/figure&gt;

</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>I&#39;m not okay and that&#39;s okay</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/0206221/</link>
      <pubDate>Sat, 02 Jul 2022 00:44:38 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/0206221/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Tak ada yang pernah tau jalan hidup seseorang. Bahkan jalan hidup kita sendiri. Hidup memang &lt;em&gt;semisterius&lt;/em&gt; itu. Jika hidup sebuah novel, barangkali isi ceritanya akan sangat &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt;, unik, dan penuh kejutan. Setiap hari banyak hal-hal aneh kita ketahui dari sosial media. Orang kaya yang tiba-tiba miskin. Orang gila yang mencuri tabung gas 3kg. Bahkan orang yang membakar tempat ibadah karena tidak boleh meminjam lampu bohlam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Segalah hal aneh itu selalu membuatku merasa bahwa hidup memang tidak masuk akal. Kita ada dan hidup dan kemudian mati. Secara singkatnya begitu. Namun hidup membuat jalan singkat itu berkelok-kelok. Seperti labirin yang tiap-tiap ujungnya adalah bahagia, duka, kesedihan, atau bahkan kosong. hampa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi bagiku semua itu bukan masalah. Kita hanya perlu menjalaninya. Menikmati setiap tawa, duka, ataupun hampa. Sederhana. Mudah. Bukan masalah. Namun, barangkali kini aku berubah pikiran. Hidup tidak sesederhana itu. Oh, atau lebih tepatnya menjalani hidup tidak lagi sesederhana itu. Tawa, duka, bahkan hampa yang kita rasakan tidak sesederhana itu. Kini aku selalu merasa khawatir. Cemas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mengapa bisa begitu, aku sendiripun tidak tau. Pikiran aneh dan tidak penting ini datang dengan sendirinya. Aku kalah dengan pikiranku sendiri. Atau barangkali itu bukan pikiranku? entahlah. Aku telah cukup lama membaca novel-novel Camus, Kafka, Dostoyevsky dan lain sebagainya, bahkan fafifuwasweswos karya nietzsche. Biasanya itu cukup membantu, namun kini tidak lagi. Kekhawatiran ini tidak pernah pergi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Semuanya akan berakhir ketika kita mati. Hidup tak perlu berarti apa-apa. Kita tidak menanamkan apa-apa.&lt;/em&gt; Semua ungkapan itu dulunya selalu membuatku merasa baik-baik saja. Namun kini tak berarti apa-apa. Aku tidak pernah merasa ingin melakukan sesuatu. Atau takut kehilangan sesuatu. Tapi kekhawatiran ini terus datang. Aku mencemaskan hal yang aku sendiri tidak tahu. Aku tidak baik-baik saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika aku menulis ini, kekhawatiran itu datang lagi. aku berharap membuat tulisan ini bisa membantuku mengatasinya, atau paling tidak membuatku tahu apa yang aku khawatirkan, tapi sepertinya tidak. Aku sudah lupa ini kali keberapa aku merasa seperti ini. Aku masih tidak baik-baik saja, tapi aku mulai terbiasa. Meski aku yakin bahwa waktu itu fana. Aku berharap seiring berjalannya waktu aku bisa mengenal kekhawatiranku atau ia yang pergi meninggalkanku.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Hijrah ke static web</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/010622/</link>
      <pubDate>Fri, 01 Jul 2022 13:23:11 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/010622/</guid>
      <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Keinginan untuk berpindah dari wordpress ke web static sebenarnya sudah muncul cukup lama. Terlebih sejak tak lagi menggunakan windows sebagai sistem operasi utama di laptop. namun keinginan ini tak kunjung terealisasikan karena beberapa hal, terutama kesadaran diri akan rendahnya kemampuan membuat sebuah halaman web dari nol, belum lagi bagaimana membuat sistem managemen kontennya. Karenanya, keinginan yang ada pun sebatas menjadi keinginan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mengenal hugo dan jekyll&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Keinginan untuk membangun web pribadi pada akhirnya muncul kembali setelah mengenal hugo dan jekyll. Sebuah framework yang dapat digunakan untuk membuat sebuah web static dengan mudah. Setelah melakukan &lt;em&gt;trial and error&lt;/em&gt; beberapa kali, pada akhirnya web static ini berhasi saya buat menggunakan &lt;strong&gt;hugo&lt;/strong&gt; sebagai frameworknya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ada beberapa alasan mengapa memilih pindah menggunakan web static dari wordpress. Hal yang paling utama adalah kemudahan untuk mengotak-atik layout dan membuat post baru. Terlebih dengan &lt;strong&gt;Hugo&lt;/strong&gt; framework kita dapat langsung menulis postingan dalam format markdown yang tentunya lebih simpel, mudah, dan rapi daripada menulis dalam format html.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mencoba menulis&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Kemudahan dan kebebasan untuk mengotak-atik layout web ini pada akhirnya tak lain dan tak bukan hanya untuk menghasilkan &lt;em&gt;kesederhanaan&lt;/em&gt;. Segala yang sederhana dan minimalis ini harapannya dapat membuat saya lebih fokus untuk kembali dan terus menulis. Bukan untuk dibaca, tapi untuk memuaskan ego saya sendiri. Sebagaimana pram, saya &lt;strong&gt;menulis untuk keabadian.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    <item>
      <title>Hello World</title>
      <link>https://dalamjaringan.github.io/post/my-post/</link>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2022 22:26:37 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://dalamjaringan.github.io/post/my-post/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Hello World!&lt;br&gt;
This is my first post.&lt;/p&gt;
</description>
    </item>
    
    
    
    
    
    
  </channel>
</rss>
